91.

6 0 0
                                        

BAB 91

"Tapi, kau kan tahu kalau aku punya kekasih. Dan… bukannya kau suka dengan Elsie Cotton?" ucap Ivy, mencoba mengelak tatapan Murray. Suaranya terdengar lirih, meski ia berusaha terdengar tegas.

Angin malam masuk lewat celah jendela, membuat tirai tipis bergoyang pelan. Api di tungku perapian mengeluarkan suara kecil berderak, menyisakan cahaya temaram yang menyorot wajah Ivy. Matanya tampak bergetar, seolah ada pertarungan batin di dalam dirinya.

Pada kenyataannya, Ivy bahkan sudah lama menyerah pada hubungannya dengan Brayen. Ia memang mencintai pria itu, berusaha keras agar tetap menjadi miliknya. Namun, bumi seakan tidak merestui mereka. Bukti nyatanya: Ivy kini tersesat di zaman yang berbeda dengan Brayen. Padahal niat awalnya hanyalah ingin kembali ke waktu saat Brayen meminum cairan hijau itu, tetapi Tuhan tidak mengizinkan Brayen mengingatnya. Semua itu membuat Ivy putus asa dan perlahan menyerah pada ambisinya.

"Aku tahu kau punya kekasih," Murray membuka suara, menatap Ivy dalam-dalam. Cahaya api memantul di matanya yang jujur. "Tapi aku berharap kau bisa melupakannya… lalu memulai hidup baru denganku. Dan soal gadis itu, Elsie… dari awal aku tidak pernah mencintainya. Hanya kau gadis yang kucintai."

Nada Murray terdengar mantap, begitu tulus hingga Ivy tak kuasa menghindar. Tatapan pria itu membuat dadanya sesak, seakan ada tangan tak terlihat yang mencengkeram jantungnya. Ia tahu Murray tidak berbohong. Dan itulah yang membuatnya semakin takut.

"Tidak," ucap Ivy, suaranya bergetar. Matanya berkaca-kaca, meski ia berusaha tegar. "Jangan pernah mencintaiku!"

Ia mengalihkan pandangan, menatap meja makan sederhana yang masih berantakan dengan sisa makanan tadi sore. Cahaya lilin yang hampir habis membuat bayangan di dinding bergoyang samar, seakan ikut mendengarkan perdebatan itu. Dengan nada pelan namun tegas, Ivy melanjutkan, "Aku akan menganggap… pernikahan ini tidak pernah terjadi."

Saat ia hendak pergi, Murray menahan lengannya. Genggaman itu hangat, tetapi juga penuh keputusasaan.
"Kenapa kau bilang begitu?" suara Murray pecah. Tatapannya memerah, matanya berair. "Apa yang kurang dariku… hingga kau tak bisa menerimaku?"

Nada seraknya membuat hati Ivy bergetar hebat. Dada Ivy terasa semakin sakit melihat ekspresi pria itu. Bagaimana mungkin seseorang setulus ini justru memilih dirinya? Gadis penuh dosa, dengan masa lalu kelam yang tak bisa dihapus.

"Ivy, jawab aku!"

Karena terus didesak, Ivy akhirnya melepaskan genggaman Murray dengan kasar dan berteriak, "DIAM, MURRAY! AKU TAK INGIN MEMBAHAS INI LAGI!"

Teriakannya memecah keheningan rumah. Api di tungku seolah meredup, meninggalkan kesunyian yang menusuk. Murray terdiam, menatap Ivy dengan pandangan kosong beberapa detik, lalu berbalik pergi tanpa sepatah kata. Pintu kayu berderit pelan saat ia melangkah keluar, meninggalkan Ivy seorang diri di dalam rumah yang tiba-tiba terasa begitu luas dan dingin.

"Dia pasti membenciku," gumam Ivy dengan suara pecah, matanya mulai basah saat menatap punggung Murray yang menjauh.

Air matanya jatuh, membasahi pipi. Ia menunduk, meremas kuat baju di dadanya. "Aku tidak pantas untuk Murray… apalagi untuk Brayen. Aku gadis yang buruk…"

Ia berusaha menahan isak, namun tangisnya pecah begitu saja. Air mata mengalir deras, terasa panas di kulit pipi, sementara hatinya seperti dirobek-robek. Sakit, meski tidak berdarah.

Awalnya Ivy tak mengerti mengapa hatinya terasa perih setiap kali menolak Murray. Ia pikir perasaan itu hanyalah simpati, atau rasa bersalah karena telah menyeret Murray ke dunia asing ini. Namun, saat mengingat waktu yang mereka lewati bersama—makan malam sederhana, bekerja di ladang, saling menolong di saat sulit—ia mulai menyadari kebenarannya.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang