95.

7 0 0
                                        

BAB 97

"Hai, McKellen." Panggil seseorang dari arah belakang.

Langkah Murray terhenti seketika. Ia menoleh perlahan, menatap sosok yang baru saja menyebut namanya. Ya… McKellen. Hampir semua orang memang lebih suka memanggilnya dengan nama itu, karena Murray sendiri merasa tidak nyaman jika orang asing langsung menyebut nama depannya.

"Ah, rupanya kau, Xia," ucap Murray dengan nada tenang, meski tatapannya tajam memperhatikan sosok pria itu.

"Lama tidak bertemu. Bagaimana kabarmu?" tanya Xia sambil tersenyum ramah.

"Kabarku baik. Bagaimana denganmu?" balas Murray singkat.

"Aku baik. Sekarang kau kerja di mana?"

"Aku menjadi pemburu," jawab Murray datar.

Xia mendadak terdiam. Senyum di wajahnya pudar, berganti raut canggung seakan menahan sesuatu. Hal itu membuat Murray sedikit tidak nyaman.

"McKellen… ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucap Xia, suaranya diturunkan sambil melirik sekeliling, seolah khawatir ada yang menguping.

"Tapi kumohon, jangan salah artikan maksudku."

Murray menatapnya dengan kening berkerut. Ada apa dengan gaya bicaranya? Kenapa ia terlihat begitu aneh?

"Kau harus berhati-hati dengan Tuan Lukas," bisik Xia akhirnya.

Mata Murray menyipit. "Tuan Lukas? Kenapa dengannya?"

"Dia tampaknya menyukai istrimu."

Ucapan itu menghantam dada Murray seperti palu. Seketika bayangan sikap kasar Lukas terhadap orang miskin, dan juga saat pria itu mencoba mendekati Ivy di toko roti, berkelebat dalam ingatannya.

"Meskipun istrimu sudah menikah, tidak ada jaminan dia akan setia padamu. Apalagi kalau dia tergoda harta dan kekayaan Tuan Lukas," lanjut Xia hati-hati.

Murray langsung menatapnya tajam, suara rendahnya mengeras penuh keyakinan. "Istriku orang yang setia! Aku mengenalnya!"

Nada suaranya penuh penekanan. Murray benar-benar yakin, Ivy tidak akan pernah mengkhianatinya. Ia tahu betapa sulitnya dulu merebut hati Ivy. Dan sekalipun ada yang berani merebut, Murray tidak akan tinggal diam. Ia rela menggunakan seribu satu cara untuk mempertahankannya.

Xia yang melihat sorot mata Murray, tanpa sadar menelan ludah. Aura marah Murray membuat nyalinya menciut, meski ia berusaha tetap berdiri tegak.

"Tetap saja… kau harus waspada. Tuan Lukas itu licik dan berbahaya," ucap Xia dengan nada lebih pelan.

Tak ingin memancing amarah lebih jauh, Xia segera berpamitan dan bergegas pergi.

Murray berdiri sejenak, lalu segera melangkah cepat pulang. Wajahnya tegang, matanya menajam. Ia harus memastikan sendiri keadaan istrinya.

Langit sore masih terang, sinar matahari jatuh miring dan menyorot jalan setapak yang dilaluinya. Saat ia tiba di depan rumah, hatinya sedikit lega. Asap tipis mengepul dari cerobong, menandakan seseorang sedang memasak di dalam. Ivy ada di rumah.

Murray mempercepat langkah. Suara derit pintu terdengar saat ia masuk. Hangat aroma sup dan roti panggang langsung menyambutnya.

Di dapur kecil itu, Ivy tengah memasak sambil bersenandung pelan. Begitu menyadari kepulangan suaminya, ia tersenyum dan segera menghampiri.

"Selamat datang," sapanya lembut.

Murray menatap tangannya, dan senyum puas tersungging di bibirnya. Di jari manis Ivy, cincin emas sederhana yang baru ia belikan kemarin tampak melingkar indah. Hanya cincin polos tanpa permata, namun dipakai dengan tulus oleh Ivy. Itu saja sudah cukup membuat Murray merasa kaya.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang