BAB 3
“Ah… Aku minta maaf,” ucap pria itu, suaranya terdengar cepat namun gugup, seolah menimbang apakah kata-kata itu cukup untuk menenangkan ketegangan di antara mereka.
Ivy tetap diam, menatapnya dengan tajam, wajahnya datar dan bibirnya menutup rapat. Namun pria itu tidak menyerah. Dengan napas sedikit tersengal, ia melanjutkan, “Aku cuma… ingin minta maaf atas kejadian kemarin. Aku tahu kau masih marah atas perilaku ku yang sangat… ah… aku tahu apa yang kulakukan saat itu sangat terburu-buru. Tapi percayalah, saat itu aku sedang mabuk. Aku tidak sadar.”
Kata-kata itu membuat pikiran Ivy melayang ke beberapa hari yang lalu. Hari itu, pukul tiga sore, Ivy baru saja pulang sekolah. Tidak seperti anak-anak lain yang kadang bermain di luar atau singgah ke rumah teman, Ivy selalu memilih pulang langsung ke rumah. Pikirannya dipenuhi rutinitas dan kebiasaan itu, tetapi hari itu berbeda.
Saat tiba di rumah, Ivy hendak membuka pintu depan, tapi kaget karena pintu terkunci rapat. Ia memanggil ibunya beberapa kali sambil menekan bel, tapi tidak ada jawaban—rumah tampak sepi dan sunyi. Perasaan cemas mulai merayapi hatinya. Ia mengeluarkan ponselnya, berniat menghubungi sang ibu, namun tiba-tiba menerima pesan masuk. Pesan itu dari ibunya, memberi tahu bahwa ia sedang berada di rumah sakit untuk memeriksa kehamilannya, dan sudah meninggalkan kunci cadangan tepat di bawah alas kaki di depan pintu utama.
Ivy menatap ke bawah, di mana alas kaki itu berada. Dengan tangan gemetar, ia membungkuk dan mengecek. Benar saja, kunci itu berada tepat di bawah alas kaki, menunggu untuk diambil. Segera ia membuka pintu rumah, memasuki ruangan yang terasa hangat, tapi sunyi. Ia melepas sepatunya, menggantinya dengan sendal rumah yang empuk, lalu melangkah menuju kamarnya. Tanpa disadari, pintu utama hanya ditutup, tidak terkunci.
Di kamarnya, Ivy meletakkan tas di meja belajar. Ia melepas masker dan dasi seragamnya, lalu duduk di ujung kasur, melakukan peregangan ringan untuk melepaskan ketegangan otot setelah perjalanan panjang dari sekolah. Sinar matahari sore menembus tirai tipis, menyinari kulitnya yang masih berkeringat. Cahaya itu menyorot sisi wajah dan lengan Ivy, menampakkan keindahan kulitnya di bagian yang tidak tertoreh luka bakar. Namun sinar itu juga membuatnya merasa gerah; seragamnya mulai menempel di tubuh, lembap oleh keringat.
Tanpa sengaja, pandangan Ivy jatuh pada poster besar seorang balerina yang tergantung tepat di depan kasur. Ujung-ujung poster menguning dan sedikit rusak, menandakan poster itu sudah lama dan sering diperhatikan. Mata Ivy menatap layu ke arah balerina itu, hatinya terasa sedih. Ia menarik napas panjang, menahan perasaan yang berkecamuk di dada, kemudian menghembuskannya dengan kasar.
Ivy bangkit dari kasur dan melangkah ke kamar mandi. Panas dari sinar matahari sore dan aktivitas hari itu membuatnya merasa gerah; tubuhnya lengkap dengan rasa lelah dan sedikit bau keringat, khas musim panas di Manchester. Masih dengan langkah perlahan, ia masuk ke kamar mandi yang terletak di kamar, membiarkannya tetap terbuka.
Ia mulai membuka pakaian seragamnya, memasukkan pakaian kotor ke keranjang. Setelah melepas semua pakaian, Ivy berdiri di bawah partisi shower dan menyalakan air. Air dingin yang mengalir menyegarkan tubuhnya, membasahi rambut dan kulitnya yang panas. Suara air yang jatuh ke lantai keramik memberikan sensasi menenangkan, seolah membilas penat dan kekhawatiran yang menumpuk sepanjang hari.
Ritual mandi Ivy terhenti mendadak saat ia mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia menahan napas, segera mematikan shower, dan dengan suara sedikit bergetar berkata, “Ibu?”
Awalnya, Ivy mengira itu memang ibunya, karena hanya ibunya yang ia izinkan masuk ke kamarnya. Namun, tidak ada balasan. Ia masih bisa mendengar langkah kaki yang mendekat, langkah yang berat dan bergetar di lantai keramik kamar mandi. Rasa penasaran dan sedikit kekhawatiran membuatnya keluar perlahan dari balik partisi shower, dan tatapannya langsung membeku.
Di ambang pintu kamar mandi berdiri seorang pria. Sorot matanya tidak ramah; malah menatap Ivy dengan pandangan cabul yang menjijikkan. Aroma alkohol menusuk hidung Ivy, campuran bau minuman keras dan keringat membuatnya mual. Tubuhnya langsung tegang.
Dengan cepat, Ivy meraih handuk yang tergantung di sisi dinding pintu kaca partisi shower. Ia menutupi tubuhnya secepat mungkin, menatap pria itu dengan marah dan ketakutan yang bercampur. “APA YANG KAU LAKUKAN DI SINI?!” teriaknya, suaranya menggema di kamar mandi yang sempit.
Pria itu tidak menjawab. Sebaliknya, senyum licik semakin melebar di wajahnya. Ia melangkah maju dengan goyang yang tidak menentu, seperti orang yang sedang mabuk. Setiap langkahnya membuat lantai keramik berderak pelan. Ivy mundur beberapa langkah, jantungnya berdegup kencang, adrenalin memenuhi setiap saraf tubuhnya.
“Berhenti di sana, kalau tidak aku akan teriak!” teriak Ivy lagi, suaranya kini lebih tegas. Namun pria itu hanya menertawakannya dengan tawa gila, suaranya menembus dinding kamar mandi dan membuat Ivy semakin panik.
Ivy menyadari ia terpojok. Kamar mandi itu sempit, tanpa jendela, hanya pintu satu-satunya sebagai jalan keluar. Ia ingin lari, tapi pria itu sudah menghalangi jalannya. Tak ingin menyerah, Ivy cepat-cepat mengambil botol sabun dari rak dan melemparkannya ke arah pria itu. Botol itu mengenai tubuhnya, tapi tampaknya tidak memberikan efek apa pun.
Dalam sekejap, pria itu sudah berada di depannya. Ivy menatap tangannya sendiri, mencoba memberontak, tapi tubuhnya tidak sekuat pria itu. Ia berteriak meminta pertolongan, tetapi pria itu tetap tertawa, tawa yang mencekam dan gila. Dengan gerakan cepat, pria itu menarik handuk Ivy, membuat tubuhnya terekspos sejenak. Wajah Ivy memerah, rasa malu bercampur ketakutan.
Tanpa berpikir panjang, Ivy menendang selangkangan pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu jatuh tersungkur, kesakitan, dan Ivy mengambil kesempatan itu untuk meraih kembali handuknya. Ia menutupi tubuhnya dan berlari secepat mungkin keluar dari kamar mandi, mencari tempat bersembunyi yang aman.
Di tangga, Ivy terhenti sejenak ketika terdengar suara yang membangunkannya dari lamunan: “Ivy?” Suara itu familiar. Ia menoleh dan melihat ibunya berdiri di pertengahan anak tangga, menatapnya dengan mata penuh kebingungan dan kekhawatiran. Di samping ibunya, Rouni Robinson—ayah tirinya—menatap dengan raut gugup.
“Apa yang sedang kalian bicarakan?” tanya ibu Ivy, suaranya tenang namun penuh perhatian.
“Sayang?!” ucap Rouni, suaranya bergetar dan jelas panik, sambil menatap ibunya.
“Ah, itu…” Rouni tersendat, bingung mencari kata-kata. Ibu Ivy hanya menatapnya diam, seakan menuntut penjelasan. Tatapan itu membuat Rouni semakin gugup, berkeringat sedikit, dan suaranya bergetar saat akhirnya berkata, “Kenapa sih dia masih sekolah?”
Rouni menoleh ke arah Ivy, namun matanya melebar saat menyadari gadis itu tidak lagi berada di dekatnya. Ivy sudah menghilang di lorong rumah ketika ia sibuk mencari alasan pada ibunya. Rouni menatap ibu Ivy lagi, wajahnya canggung dan kikuk, tidak lagi tahu harus berkata apa. Rumah yang awalnya sunyi kini dipenuhi ketegangan yang menekan setiap sudut ruang, sementara suara langkah kaki Ivy yang menjauh semakin menambah rasa cemas dan bingung pada Rouni.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
