24.

92 4 0
                                        

BAB 24



Ucap seseorang sambil menghentakkan telapak tangannya ke meja, menimbulkan dentuman nyaring yang langsung memecah suasana hening. Suara itu menggetarkan Ivy dari lamunannya. Ia tersentak, napasnya tercekat sesaat, lalu menoleh cepat ke arah sumber suara. Sosok pria berpostur tegap berdiri di sana—Tuan Imron, guru berkebangsaan Turki yang terkenal di sekolah bukan hanya karena ketampanannya, tapi juga karena sifatnya yang perfeksionis dan teramat mencintai kebersihan.

Tatapan Ivy beralih menyapu sekelilingnya. Baru saat itu ia sadar, dirinya masih berada di dalam kelas bergaya klasik khas sekolah tua di Manchester. Cahaya matahari musim gugur masuk dari jendela besar di sisi kiri ruangan, membentuk gurat-gurat keemasan di udara yang penuh debu halus. Beberapa murid di barisan depan sudah menatapnya sambil menahan senyum. Di depan kelas, di papan tulis yang masih beraroma kapur, Tuan Imron berdiri dengan ekspresi datar. Namun, jika diperhatikan lebih saksama, gurat tipis ketidaksabaran tampak jelas di matanya—jelas ia tidak senang karena Ivy melamun di jam pelajarannya.

“A… i-iya, Tuan Imron,” jawab Ivy terbata-bata, suaranya bergetar ringan. Jantungnya masih berdegup kencang akibat kaget.

“Kenapa kau melamun di jam pelajaranku, ha?” Suara Tuan Imron terdengar tegas, sedikit mengeraskan intonasi di akhir kalimat. Sorot matanya menelusuri Ivy seolah mencoba membaca pikiran muridnya itu.

“Sepertinya dia sangat tidak menyukai pelajaran Tuan,” seloroh Natali dari bangku tengah sambil menyunggingkan senyum geli.

Ucapan itu sontak membuat beberapa murid tertawa kecil, meski tawa mereka terdengar setengah tertahan. Hanya Brayen yang duduk tegak di bangkunya, wajahnya tetap datar dan sama sekali tidak menunjukkan tawa—justru ada ketegangan samar di matanya. Sama seperti Brayen, Tuan Imron pun tidak menganggap candaan itu lucu.

Tatapannya beralih tajam kepada Natali. “Diamlah, Nona Natali. Saya tidak sedang bicara dengan Anda,” ucapnya dengan nada dingin yang membuat suasana kelas mendadak hening. Wajah Natali langsung memucat, lalu memerah karena malu, dan ia menunduk tanpa suara.

Kembali ke Ivy, Tuan Imron berkata, “Sekarang, aku minta kau menjelaskan materi yang baru saja aku terangkan.”

“Baik, Tuan Imron,” jawab Ivy pelan, suaranya terdengar lemah. Meski gugup, ia perlahan berdiri. Jemarinya sedikit gemetar saat menyentuh buku catatannya, lalu ia mulai menjelaskan materi tersebut.

Padahal, sejak awal ia hampir tidak mendengar penjelasan Tuan Imron—pikirannya sejak tadi dipenuhi bayangan peristiwa kemarin. Namun, dengan gaya bicaranya sendiri, Ivy mampu menyampaikan kembali inti materi itu. Tidak seakurat cara Tuan Imron menjelaskannya, tapi cukup jelas untuk membuat beberapa murid mengangguk mengerti.

“Oh, wow. Penjelasan yang bagus,” puji Tuan Imron dengan nada singkat. Ivy menahan senyum kecil, lega karena setidaknya tidak mempermalukan diri.

“Tapi kau tetap harus memperhatikan saat aku menjelaskan materi. Mengerti, Nona Elsie?” lanjutnya, kali ini dengan nada tegas.

“Baik, Tuan Imron,” jawab Ivy, menunduk patuh.

Pelajaran kembali berlanjut. Namun, pikiran Ivy kembali terhanyut. Di depan sana, Brayen duduk tepat di bangku depan Ivy. Sesekali, melalui pantulan cermin kecil yang terpasang di sudut atas kelas—sebuah benda yang biasa digunakan Tuan Imron untuk mengawasi murid di bagian belakang—Brayen memandangnya. Pandangan itu hanya bertahan beberapa detik sebelum ia kembali fokus pada catatan, tapi momen itu berulang berkali-kali tanpa seorang pun menyadari.

Sementara itu, Ivy kembali terjerat dalam pusaran pikirannya sendiri. Apa pelakunya adalah Elena? Kenapa dia melakukan hal itu? Apa dia sangat membenci Jessica, atau… hanya ketidaksengajaan? pikirnya. Apakah karena alasan itu Elena memutuskan pindah ke luar negeri? Lalu… apa hubungan kepala sekolah dengan kebakaran itu? Kenapa dia melindungi kedua gadis itu? Siapa sebenarnya mereka, dan mengapa mereka bersembunyi? Apakah mereka juga yang sudah menerorku selama ini? Dan siapa gadis yang bersama Elena waktu itu—apa dia ada di kelas ini? Tidak mustahil, Elena punya banyak teman dekat di sini.

Ivy mengingat jelas wajah Elena — gadis cantik dengan rambut merah menyala yang selalu tampak mencolok di antara kerumunan. Elena pindah ke luar negeri tak lama setelah Jessica meninggal. Ia bahkan tak menghadiri pemakaman sahabatnya, apalagi datang ke persidangan. Semakin lama Ivy memikirkannya, semakin kuat keyakinan dalam dirinya bahwa Elena adalah pelakunya. Namun, satu hal membuatnya bingung: mengapa kepala sekolah bisa terlibat? Pertanyaan itu menghantui pikirannya. Ia perlu tahu lebih banyak.

"Aku harus mencari cara…" batinnya.
Hal pertama yang terpikir adalah berbicara langsung dengan arwah Jessica. Itu cara paling cepat dan akurat, tapi hanya membayangkan wajah sahabatnya yang kini sudah menjadi roh saja membuat bulu kuduknya meremang.
Cara kedua — kembali ke masa lalu. Namun resikonya terlalu besar. Bagaimana kalau aku terlempar ke waktu yang salah dan tak bisa kembali? Membayangkannya saja membuat perutnya mual.
Opsi ketiga — menghipnotis satu per satu orang untuk memaksa mereka berkata jujur. Sayangnya, itu butuh waktu terlalu lama, sementara ia merasa jam kehidupannya terus berdetak cepat.

Lalu, satu ide terlintas. Membaca pikiran.
Itu jauh lebih efektif — cukup sekali mantra, dan semua orang di sekitar radius sepuluh meter akan membuka isi pikirannya tanpa sadar. Tapi Ivy juga tahu, setiap mantra dalam buku merah itu punya efek samping. Masalahnya, sebagian besar efek itu tidak ditulis di dalam buku. Dan justru itu yang membuatnya berbahaya.

Ia tahu risikonya, tapi rasa penasaran bercampur sakit hati membuatnya tak peduli. Tanpa menunggu lama, Ivy menutup matanya, menarik napas dalam, lalu mulai melafalkan mantra yang sudah ia hafalkan sebelumnya. Suaranya nyaris seperti bisikan, sementara pikirannya terfokus sepenuhnya pada setiap kata.

Seketika, suara-suara mulai mengalir deras di kepalanya.

"Aku bosan."
"Apa yang harus kulakukan setelah pulang sekolah?"
"Nanti les matematika lagi… malas sekali!"
"Bagaimana kabar pacarku, ya?"
"Aku ingin pulang."
"Bosan."

Semua terdengar bersamaan. Suara-suara itu seperti tumpang tindih, memenuhi kepalanya tanpa jeda. Pada awalnya, Ivy mencoba bertahan. Tapi semakin lama, semakin banyak suara yang masuk, seolah kepalanya dijejali ribuan bisikan sekaligus. Sakitnya menusuk hingga ke belakang mata, telinganya seperti akan pecah.

Ia memejamkan mata rapat-rapat, menutup kedua telinga dengan tangan, meski ia tahu itu sia-sia. Lalu, ada sesuatu yang hangat mengalir keluar dari hidungnya. Saat membuka mata, pandangannya menangkap titik-titik merah menetes di atas buku tulisnya.

“To… tolong…” gumamnya pelan. Suaranya nyaris tak terdengar.

Tubuhnya terasa lemas luar biasa, seperti semua tenaga tersedot keluar. Pandangannya berputar, dan ia perlahan terjatuh dari kursi. Suara benturan tubuhnya di lantai membuat suasana kelas seketika ricuh. Ivy samar-samar mendengar seseorang memanggil namanya, lalu langkah kaki yang mendekat cepat. Panggilan itu terdengar lagi, lebih keras, tapi bibirnya tak sanggup membentuk jawaban. Dunia di sekitarnya mengabur, lalu gelap.

Kelopak matanya terasa berat, tapi akhirnya Ivy berhasil membukanya. Cahaya sore berwarna keemasan membias dari jendela, membentuk garis-garis hangat di langit-langit ruangan. Aroma antiseptik khas medis memenuhi udara. Ia mengenali tempat ini — UKS sekolah. Sepi. Hanya terdengar suara jam dinding yang berdetak pelan.

Pandangan Ivy beralih saat sebuah suara memecah keheningan.
“Kau sudah sadar?”

Di sampingnya, Brayen duduk di kursi kayu dengan posisi condong ke depan. Mata pria itu menatapnya tajam, meski ada sedikit gurat khawatir yang sulit ia artikan. Sinar matahari sore menyinari sebagian wajahnya, membuat ekspresinya terlihat lebih tegas.

Ivy menarik napas pelan, matanya menatap langsung pada pria itu.
“Kau bisa melihatnya, kan…” ucapnya dengan nada dingin, seperti menuduh sekaligus menantang.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang