5

144 6 0
                                        

BAB 5



Gadis itu segera berjalan mendekati remaja pria itu, menggandeng tangannya dengan akrab. Menyadari kedatangan gadis cantik tersebut, pria itu membalas dengan senyum singkat, hangat namun cepat memudar. Ivy menatap adegan itu dari jarak dekat, dadanya terasa sesak, jantungnya berdetak lebih kencang. Rasa cemburu dan sakit hati merayapi dirinya perlahan, menimbulkan amarah yang ia paksa untuk ditahan. Ya… rasa kesal itu bukan tanpa alasan; pria itu adalah mantan kekasihnya, dan meski hubungan mereka berakhir lima bulan lalu, perasaan cinta Ivy padanya masih membara di lubuk hati terdalam.

Pria itu bernama Brayen Rodriguez, teman sekelas Ivy sekaligus mantan pacarnya. Orang-orang kadang memanggilnya Rodrigues, namun Ivy dan keluarganya selalu menyapanya Brayen. Sementara gadis yang keluar dari mobil bersama Brayen adalah Natalie Hershlag, atau Natali, mantan teman dekat Ivy yang hubungannya memburuk enam bulan lalu. Kehidupan Ivy sejak enam bulan terakhir terasa semakin kacau, penuh tekanan emosional yang membuatnya sering merasa sendirian di tengah keramaian.

Ivy yang tak ingin dirinya terbakar oleh api cemburu segera menundukkan kepala dan mengalihkan pandangannya. Ia mempercepat langkah, berusaha meninggalkan pemandangan itu dan menuju kelasnya. Tanpa sadar, tatapan Brayen mengikuti langkahnya hingga Ivy benar-benar menghilang dari pandangan. Di sepanjang perjalanan menuju kelas, Ivy mendengar bisik-bisik teman-teman sekelasnya dan merasa tatapan aneh mereka menempel pada dirinya. Ia tidak tahu pasti apa yang mereka bicarakan, tapi bahasa tubuh dan ekspresi mereka cukup untuk membuat Ivy yakin bahwa pembicaraan itu tidak baik. Rasa sedih dan putus asa menghampirinya, namun ia menahan diri, bertekad menghadapi semuanya meski hatinya berdarah.

Kenangan pahit menghantam pikirannya—dulu teman-teman itu memujinya dengan kata-kata manis untuk dekat dengannya, tapi sekarang mereka menjauhinya tanpa alasan yang jelas. Rasa sakit itu menumpuk, menambah beban emosional yang sudah berat. Namun Ivy memutuskan untuk tetap melangkah, menempatkan dirinya di kursi belakang kelas seperti biasanya, mencoba menyingkirkan rasa sakitnya sebisa mungkin.

Begitu ia duduk, tatapan teman-teman sekelasnya masih menyelidik, beberapa bahkan berani membicarakan dirinya dengan lantang. Untungnya, Ivy memakai headset, yang setidaknya membantunya menyingkirkan suara-suara omong kosong itu. Beberapa menit berlalu, dan Brayen masuk ke kelas. Saat tatapan mereka bertemu secara tidak sengaja, jantung Ivy berdebar kencang, dada terasa sesak, dan sensasi campur aduk antara senang dan sakit hati menyergapnya.

Brayen berjalan ke arah Ivy dengan langkah mantap. Tatapannya penuh penyesalan, wajahnya yang biasanya tampan kini terlihat kusam, tak secerah dulu saat mereka masih bersama. Saat ia berhenti di depan Ivy, matanya menatapnya dengan ekspresi yang sulit diartikan—campuran rasa bersalah dan rindu yang tak tersampaikan.

“Ivy, aku sangat merindukanmu,” suara Brayen terdengar lembut, hampir sama seperti dulu, membuat Ivy terdiam, menatapnya dengan wajah datar. Namun sebelum ia sempat menjawab atau bereaksi, bel sekolah berbunyi keras, memecah konsentrasi mereka. Ivy tersentak, menyadari semuanya hanyalah bayangan khayalan yang terbentuk dari rindu dan imajinasinya sendiri. Brayen ternyata masih duduk jauh, bukan di sampingnya. Sejak putus, mereka memang tidak pernah berbicara lagi—bukan karena Brayen menjauhi Ivy, tapi Ivy sendiri yang menutup diri dan menjaga jarak, meski hatinya tetap merindukan pria itu.

Lima belas menit berlalu sejak pelajaran dimulai, namun suasana kelas tiba-tiba hening seketika saat terdengar ketukan keras di pintu. Semua siswa menoleh, menahan napas sejenak, sementara tatapan penasaran bercampur rasa takut menyebar di antara mereka. Dari ambang pintu, dua pria dewasa berseragam polisi berdiri tegap, disertai wakil kepala sekolah yang tampak tegang namun berusaha tetap tenang. Suasana yang sebelumnya normal kini berubah menjadi penuh ketegangan, dan semua mata tertuju pada mereka, termasuk Ivy yang menatap dengan hati berdebar-debar.

Brayen duduk di kursi depan kelas, menahan diri agar tetap santai. Namun tatapannya lurus ke depan, serius, menandakan bahwa ia sepenuhnya menyadari situasi yang sedang berlangsung. Di depannya, seorang petugas kepolisian duduk sambil meneliti beberapa lembar kertas dengan ekspresi serius, sesekali menatap Brayen untuk membaca reaksinya. Di sekeliling mereka terpasang alat perekam suara dan beberapa kamera kecil yang diarahkan ke arah Brayen, merekam setiap gerak dan ekspresinya. Brayen tidak sepenuhnya mengerti mengapa semua itu harus dilakukan, namun ia mengenali prosedur ini: interogasi polisi sering kali menggunakan metode ini untuk menganalisis reaksi seorang saksi atau tersangka.

Sekitar lima belas menit sebelumnya, polisi itu telah menjelaskan tujuan pemeriksaan ini. Mereka memberi tahu Brayen bahwa Danil Nalson dan tiga temannya telah menghilang secara misterius dua hari lalu. Upaya pencarian telah dilakukan di berbagai bagian kota Manchester, namun tidak membuahkan hasil. Interogasi ini dilakukan untuk mencari petunjuk—siapa tahu salah satu teman sekolah mengetahui sesuatu, atau sempat melihat Danil dan teman-temannya sebelum mereka menghilang.

Kabar hilangnya Danil sempat menghebohkan kota. Ayah Danil adalah pejabat penting pemerintah, sedangkan ibunya adalah kepala sekolah yang dihormati. Teman-temannya juga berasal dari keluarga kaya dan berpengaruh. Bagi Brayen, berita ini cukup menarik perhatian, namun ia tidak terlalu peduli. Hubungannya dengan Danil dan teman-temannya memang buruk. Mereka tidak pernah akur, bukan karena Brayen yang memulai permusuhan, melainkan karena sifat Danil yang arogan dan suka memprovokasi.

Polisi itu menempatkan kertas di atas meja, menatap Brayen dengan tajam, lalu bertanya, “Baiklah, Brayen Rodriguez. Apakah kamu mengenal Danil dan ketiga temannya?”

Brayen mendengus, lalu tersenyum sinis. “Ya, siapa di sekolah ini yang tidak kenal si pembuat onar itu,” ujarnya sambil tertawa kecil, nada suaranya mengandung ejekan. Ia tampak tenang, bahkan sedikit menantang, seakan merasa pertanyaan polisi itu konyol.

Polisi itu menekankan pandangannya. “Kapan terakhir kali kamu melihatnya?”

“Aku bertemu dengannya di sekolah… pada hari dia menghilang,” jawab Brayen singkat, tanpa ekspresi yang menandakan kepedulian.

“Apakah kamu melihat ke mana dia pergi, atau bersama siapa?” tanya polisi itu lagi, matanya menatap Brayen dengan tajam, mencoba membaca reaksinya.

“Tidak. Dan aku tidak peduli,” Brayen menjawab dengan nada datar, menunjukkan ketidaktertarikannya.

Polisi itu mengalihkan pertanyaan. “Lalu, dua hari lalu, setelah pulang sekolah, kamu pergi ke mana?”

Brayen mengangkat bahu dengan ringan, menatap lurus ke depan. “Aku pergi ke rumah pacarku, Natalie Hershlag. Kalau kau tidak percaya, kau bisa menanyakannya sendiri,” jawabnya santai, seolah menantang. Namun di balik sikap santainya itu, sebenarnya Brayen hanya ingin menjaga jarak. Ia dikenal memiliki sifat yang agak keras dan tidak mudah terbuka, terutama pada orang baru. Namun bagi orang yang dekat dengannya, Brayen sebenarnya baik dan peduli, meski cara mengekspresikannya sering salah paham bagi orang lain.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang