70.

85 2 0
                                        

BAB 70



"Ya... Mengingat apa yang dia lakukan tadi di ruangan ramuan, jelas dia dalam masalah." gumam Elsie Cotton yakin.

Lorong tempat Elsie duduk terasa semakin ramai, suara langkah-langkah terburu-buru bergema di dinding batu yang dingin. Obor yang tergantung di sisi lorong bergetar ditiup angin kecil, cahayanya menari-nari, menimbulkan bayangan panjang yang bergerak liar di lantai. Pandangan Elsie teralihkan saat suara berat yang akrab di telinganya terdengar jelas. Ia menoleh, dan matanya melebar.

Di kejauhan, Alan Ulusoy tampak sedang berbicara serius dengan salah satu guru. Postur tegaknya dan raut wajahnya yang tegang membuat Elsie terdiam sejenak.
"A... Itu kan kakek. Kenapa kakek ada di sini? Apa dia mencariku?" bisiknya penuh harap.
Senyum kecil muncul di wajahnya, rasa bahagia menyelusup ke dadanya. "Ya, dia pasti sudah mendengar berita tentang keributan itu, lalu datang untuk memastikan keadaanku kan?" lanjut Elsie, matanya berbinar.

"Kakek!" panggil Elsie riang, sambil melambaikan tangan kecilnya.

Alan Ulusoy menoleh. Sesaat saja, senyum Elsie merekah, namun senyumnya perlahan memudar ketika pria itu mengalihkan pandangannya kembali pada guru yang ia ajak bicara, seakan tak melihatnya. Ada rasa kecewa yang menusuk, tapi Elsie mencoba menepisnya. Ia bangkit, melangkah cepat, dan saat tiba di samping Alan Ulusoy, ia menggandeng tangan sang kakek dengan penuh rasa rindu.

Gerakan itu membuat percakapan Alan terhenti. Pria tua itu menatapnya—bukan dengan kasih sayang seperti biasanya, melainkan dengan tatapan dingin yang membuat Elsie tercekat. "Kakek datang kemari untuk melihat keadaanku, ya?" tanyanya penuh harap.

Namun jawaban yang datang justru sebuah dorongan kasar. Tubuh mungil Elsie tersungkur ke lantai batu dingin, suaranya tercekik kaget. Murray, yang sejak tadi memperhatikan dari kejauhan, segera menghampiri dan membantu gadis itu berdiri.

Wajah Elsie pucat, matanya membelalak penuh keterkejutan. Selama ini Alan Ulusoy adalah sosok yang selalu memanjakannya, memperlakukannya bak putri kecil. Tapi sekarang—untuk pertama kalinya—ia merasakan dinginnya penolakan. Di sekeliling mereka, murid-murid dan beberapa guru terdiam membisu, suasana mendadak kaku dan mencekam.

"Menjauh dariku. Aku bukan kakekmu," ucap Alan Ulusoy sinis, suaranya tajam bagai pisau yang mengiris hati.

Elsie terhuyung, tubuhnya gemetar hebat. Murray menahan bahunya, merasa gadis itu akan jatuh pingsan. "A... Apa maksud ucapan kakek?!" tanya Elsie lirih, suaranya bergetar, matanya berkaca-kaca.

"Bukankah ucapanku sudah jelas? Kau bukan cucuku! Kau juga bukan putri dari anakku. Kau hanya seorang penipu, sama halnya dengan ibumu yang murahan!" suara Alan Ulusoy menggelegar, membuat murid-murid sekitar menutup mulut mereka, ngeri mendengar kata-kata setajam itu.

Elsie membeku. Air matanya jatuh tanpa bisa ia tahan. Jantungnya terasa seperti diremas, napasnya berat. Murray menggenggam erat tangannya, mencoba menyalurkan sedikit kekuatan.

Saat suasana menegang, seorang pria berjubah hitam datang berlari tergesa, napasnya terengah. Ia membungkuk di hadapan Alan. "Tuan, kami sudah mencari tahu. Cucu anda bernama Elsie Ulusoy."

Seolah mendapat cahaya, wajah Alan berubah—muramnya lenyap, berganti senyum penuh semangat. Ia tampak lega dan yakin. Namun bagi Elsie, kata-kata itu seperti petir yang menyambar di siang bolong. Dunia seolah runtuh di hadapannya.

"A... Apa yang baru saja kudengar... cu—cucu kakek adalah Ivy?!" suaranya tercekat, tubuhnya gemetar hebat.

"Di mana dia sekarang? Aku ingin melihatnya!" ucap Alan penuh semangat pada pria berjubah hitam.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang