40.

66 6 0
                                        

BAB 40




Ivy kembali mengalihkan perhatiannya pada kaca jendela. Pantulan bayangan dirinya di sana membuat dadanya tercekat. Rambutnya kini sebagian telah memutih-mirip uban, tetapi jauh lebih aneh, karena memutih dengan cara yang tidak wajar. Wajahnya tampak pucat diterpa cahaya bulan dari balik jendela, menambah kesan rapuh. Saat itu, Ivy menyadari sesuatu: setiap kali ia mengeluarkan terlalu banyak sihir, tubuhnya akan melemah, dan tanda paling mencolok adalah rambutnya yang berubah menjadi putih kusam. Namun, begitu energi dalam tubuhnya kembali stabil, warna hitam alami itu perlahan muncul lagi.

Suasana kamar sunyi, hanya suara detak jarum jam dan desir angin malam dari luar. Ivy mengusap helaian rambutnya, matanya menyipit penuh keresahan. Ia tahu ada harga yang harus dibayar, tetapi bagian dari dirinya menolak untuk menyerah.

Tiba-tiba, suara ranting patah terdengar dari luar jendela. Krak! Ivy terlonjak, tubuhnya berbalik dengan cepat, mata membelalak penuh waspada. Di sana, berdiri seorang pria yang wajahnya mirip dengan Rouni. Namun jelas, ada perbedaan yang tak bisa diabaikan. Sorot matanya bukan cabul atau penuh niat jahat, melainkan hangat, tenang, bahkan menenangkan.

"Siapa sebenarnya kau?" tanya Ivy dengan nada curiga. Suaranya rendah, namun tegang, seperti ingin memastikan kebenaran yang selama ini tersembunyi.

Ada sesuatu yang membuat Ivy yakin pria ini mengenalnya lebih baik daripada yang ia kira. Ia merasakan semacam ikatan-bukan sekadar pertemuan kebetulan. Hatinya berdesir, campuran antara takut, penasaran, dan perasaan tak terjelaskan, seolah ada benang tak kasat mata yang menghubungkan mereka.

Pria itu terdiam beberapa saat, lalu tersenyum lemah. Tawa kecil lolos dari bibirnya sebelum akhirnya ia berkata, "Kau akan tahu siapa diriku sebentar lagi."

Jawaban itu membuat Ivy kesal. Keningnya berkerut, rasa ingin tahunya semakin membuncah, namun ia menahan diri untuk tidak memaksa. Justru pikirannya berkelana pada hal-hal lain-pada masa lalu yang tiba-tiba terasa kabur. Mendadak ia sadar, ia sudah lama melupakan wajah ayahnya sendiri. Bahkan namanya pun menguap dari ingatannya, bersama kenangan masa kecil yang dulu ia kira tak akan pernah hilang. Rasanya ironis, menyakitkan, dan aneh.

Namun, Ivy menepis keganjilan itu. Ada hal yang lebih penting baginya saat ini: pria misterius di hadapannya, dan kemungkinan sihir yang ia kuasai. Ivy mulai menimbang-nimbang-mungkin ia bisa memanfaatkan pria ini untuk mengembalikan wajahnya, agar kembali cantik seperti dulu. Banyak orang mungkin akan menilainya tamak atau tidak tahu bersyukur, tetapi bagi Ivy, keinginan itu wajar. Manusia memang tak pernah puas, dan wanita selalu ingin tampil lebih cantik. Apa salahnya?

"Jadi..." suara pria itu terdengar lagi, membuat lamunan Ivy buyar. "Aku akan membantumu kembali ke waktumu yang seharusnya."

Ivy menatapnya lekat, alisnya menaut. Bukannya menjawab, ia justru bertanya, "Apa kau seorang penyihir?"

Pria itu terdiam sejenak, menimbang-nimbang jawabannya. Ivy menunggu, matanya tak lepas mengawasi setiap gerakan wajahnya. Setelah beberapa detik, akhirnya ia mengangguk pelan. "Ya, tentu."

Mata Ivy berbinar, tetapi ia segera mengajukan pertanyaan lain, kali ini lebih menuntut. "Apa kau bisa menghilangkan kecacatan ini?" tanyanya tanpa ragu, sambil mengangkat tangannya, menunjukkan sisa luka yang belum hilang.

Pria itu tak langsung menjawab. Ia memandangi wajah Ivy dengan tatapan dalam, jemarinya bergerak pelan di udara, seperti menimbang sesuatu yang tak terlihat. Setelah hening beberapa saat, ia berucap, "Bukankah kau bisa melakukannya sendiri?"

Ivy membeku. Ia tidak mengerti maksudnya. Bibirnya sedikit terbuka, matanya menatap penuh tanda tanya.

Pria itu menyadari kebingungan itu, maka ia melanjutkan dengan suara tenang. "Waktu itu... di taman. Kau menghilangkan kebutaan seorang anak laki-laki dengan sihirmu. Dan tadi, kau sudah mengobati tubuhmu sendiri."

Perlahan, mata Ivy membesar. Ivy sedikit tersentak kaget. Ia sama sekali tidak menyangka jika pria itu menyadari apa yang ia lakukan terhadap anak berambut perak tempo hari. Padahal, Ivy melakukannya dengan sangat hati-hati, hampir tanpa jejak.

"Aku hanya bisa mematahkan kutukan serta menyembuhkan luka sederhana," ucap Ivy lirih, suaranya bergetar menahan kecewa. "Bukan mengubah bentuk tubuh seseorang. Lagipula, kalau pun aku bisa, itu pasti membutuhkan energi yang sangat besar... dan aku tidak tahu mantra untuk mengubah wujud manusia."

Pria itu menatapnya lama sebelum menjawab, suaranya berat namun tetap hangat. "Satu hal yang perlu kau ketahui... sihir dilarang digunakan pada manusia, hewan, maupun makhluk hidup lainnya. Mereka punya hukum alam dan takdir masing-masing, yang tidak seharusnya diganggu."

Ivy mengernyit, rasa penasaran membuat nada bicaranya terdengar lebih tegas. "Kenapa?"

"Karena setiap mantra akan memberi dampak buruk," jelas pria misterius itu pelan. Tatapannya dalam seakan menembus hati Ivy. "Apa kau tidak membaca pondasi dasar dalam buku merah itu?"

Ucapan itu membuat Ivy terdiam. Ingatannya melayang pada sebuah buku tua yang pernah ia temukan di perpustakaan sekolah-buku bersampul merah dengan penulis yang tak asing. Ia berbisik ragu, "Itu... buku milikmu? Kau... Cagatay Cotton Ulusoy?"

Pria itu tersenyum tipis dan mengangguk lemah. "Ya."

Ivy menelan ludah, dadanya berdebar. "Aku belum sempat membacanya. Tapi... apapun resikonya, aku akan menanggungnya. Jadi, tolong... bisakah kau membantuku? Aku ingin wajahku kembali seperti dulu!" serunya, nada putus asa terdengar jelas, sambil menyentuh wajahnya yang masih penuh bekas luka bakar.

Cagatay menunduk sejenak, lalu menatap Ivy dengan sorot mata yang tenang. "Mantra itu termasuk terlarang. Jika kau memaksanya, kau mungkin tidak akan bisa memiliki keturunan. Apa kau rela menanggung resiko itu?"

Pertanyaan itu menghantam Ivy seperti palu. Ia terdiam, tubuhnya kaku. Dalam pikirannya, kenangan demi kenangan berkelebat. Ia mengingat semua perlakuan kejam yang diterimanya karena wajahnya-ejekan, hinaan, bahkan rasa jijik di mata orang-orang. Ia mengingat bagaimana Natali dan bawahannya menindasnya tanpa ampun.

Namun semakin lama ia berpikir, semakin jelas satu hal: semua ini berawal dari kebakaran itu. "Aku... satu-satunya saksi mata atas kematian Jesicca," batin Ivy dengan getir. "Mereka takut pada apa yang kuketahui. Mereka ingin membuatku hancur... agar aku bungkam."

Rasa marah bergejolak di dadanya. Ivy menggenggam erat gaunnya hingga buku-bukunya memutih. Kebencian menyalakan bara dalam hatinya. Ia tidak lagi hanya menginginkan wajahnya kembali-ia ingin balas dendam. Membuat Natali, Selena, dan semua orang yang terlibat, merasakan penderitaan yang lebih dalam daripada yang ia alami.

Ivy mengangkat wajahnya, menatap Cagatay dengan sorot mata membara. "Aku tidak tahu apakah ini keberuntungan atau malapetaka," ucapnya lantang. "Tapi aku akan menanggung semuanya."

Cagatay menatapnya lama, sebelum akhirnya berkata dengan suara datar namun tegas, "Kalau begitu, ada syaratnya. Kau harus pergi ke Semidio."

Ucapan itu membuat Ivy terdiam membeku. Kata asing itu-Semidio-bergema di kepalanya, menimbulkan rasa asing sekaligus rasa takut.

Di sisi lain kota Manchester, malam tampak semakin larut. Kabut tipis merayap di jalanan yang basah oleh hujan sore tadi. Di sebuah rumah mewah bergaya Victoria, seorang gadis berdiri di balkon lantai dua. Gaun malam berwarna hitam membalut tubuh rampingnya, sementara di tangannya tergenggam segelas anggur merah. Ia menggoyangkan cangkir itu perlahan, memandangi cairan merah berputar di dalamnya sebelum menyeruputnya seteguk demi seteguk.

Keheningan malam mendadak terputus oleh dering telepon di meja kecil. Gadis itu berjalan anggun mendekat, mengangkat gagang telepon, dan tersenyum tipis saat mendengar suara di seberang.

"Apa kau yakin... kau sudah menabraknya?" tanya sang gadis dengan nada lembut, namun penuh kewaspadaan.

"Ya, nona," jawab suara berat seorang pria di seberang, terdengar yakin. "Kami sudah memastikan, dia memang gadis yang nona maksud."

Gadis itu tersenyum puas, lalu meneguk kembali anggurnya. "Bagus. Ingat... jika ada polisi yang bertanya, katakan itu tidak disengaja."

Tatapannya lalu mengeras, seolah bayangan Ivy melintas dalam pikirannya. Senyum samar di bibirnya berubah dingin, seakan rencana kelam yang ia jalankan baru saja berjalan sesuai kehendak.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang