BAB 46
“Nanti aku ceritakan. Sekarang, aku sangat ingin memelukmu,” ucap Ivy lembut.
Mendengar itu, Brayen dan Ivy langsung berpelukan. Pelukan mereka begitu erat, seolah ingin menyalurkan semua kerinduan yang menumpuk selama berbulan-bulan. Tubuh mereka menempel, hati dan pikiran mereka seakan bersatu kembali setelah terpisah begitu lama.
“Aku sangat merindukanmu,” suara Brayen bergetar, matanya memerah. Ia mengatakannya dengan tulus, tanpa bisa menyembunyikan perasaannya. Ivy menunduk sejenak, merasakan setiap kata itu, hatinya bergetar, dan rasa bersalah karena sikap kasarnya enam bulan lalu kembali menghantuinya.
“Ya… aku juga merindukanmu,” balas Ivy, suaranya lembut, namun penuh dengan kehangatan.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan nyaman. Mereka duduk berhadapan di atas kasur, masih berpelukan. Posisi mereka intim, namun terasa begitu alami dan nyaman bagi keduanya.
“Bagaimana kau bisa masuk ke rumahku? Apa mama tidak kaget saat melihatmu?” tanya Brayen, matanya menatap Ivy penuh rasa penasaran.
“Ibu mu tidak mengenaliku. Aku juga tidak mengatakan siapa nama asliku,” jelas Ivy. Mata Ivy bersinar, mengingat bagaimana ia dengan cepat memerintah agar ibu Brayen mengikuti semua perintahnya saat itu. Kebetulan hanya ada ibu Brayen di rumah, jadi kehadirannya tidak menghebohkan.
Ivy melepaskan pelukannya sejenak, menatap Brayen dengan senyum nakal. “Ayo, kita pergi berlibur besok.”
“Hanya berdua?” Brayen tampak ragu.
“Aku mau, tapi kita masih sekolah,” gumamnya, menahan senyum.
“Tidak, hanya kau yang sekolah, sayang,” jawab Ivy dalam hati, menyadari ia sendiri tidak bisa kembali ke sekolah lamanya. Identitas lamanya sudah resmi dinyatakan meninggal akibat kecelakaan. Sekarang, Ivy adalah Elsie Ulusoy, identitas baru yang diberikan Cagatay untuk melindunginya. Nama Ulusoy sendiri sengaja mirip dengan nama Cagatay, yaitu Cagatay Cotton Ulusoy. Alasannya masih misterius, dan saat ditanya lebih lanjut, Cagatay hanya diam.
“Bisakah kau bolos sekolah untukku? Hanya tiga hari saja,” pinta Ivy, matanya menatap Brayen penuh harap.
Brayen menatap Ivy, ragu. Ia memang sangat disiplin soal sekolah. Namun melihat wajah Ivy yang menatapnya penuh kepercayaan, hatinya mulai melunak.
“Baiklah… tapi hanya dua hari,” akhirnya Brayen menyerah, tersenyum tipis. Ivy merasa lega, memeluknya lebih erat lagi. Mereka menempel semakin dekat, dan Ivy merasakan detak jantung Brayen dengan jelas.
“Baiklah,” ucap Brayen akhirnya, membuat Ivy tersenyum bahagia.
Mereka saling menatap, seakan kata-kata tak lagi diperlukan. Tanpa sadar, bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman. Ciuman itu rakus dan penuh gairah, seolah mereka haus akan kehadiran satu sama lain.
Setelah berciuman, Brayen menarik napas panjang. “Jadi, kemana kita akan pergi?”
“Bristol,” jawab Ivy, suaranya serak namun hangat.
“Kota Bristol?” tanya Brayen terkejut.
“Hem… tempat yang indah. Ayo kita pergi ke sana,” ucap Ivy sambil tersenyum nakal.
“Bagaimana kita ke sana? Mobil? Atau bus?” tanya Brayen, mencoba menenangkan diri setelah ciuman tadi.
“Bus!” jawab Ivy dengan tegas, penuh semangat.
Tiga hari kemudian, di Blue Sky International School di Manchester, lorong-lorong sekolah ramai oleh suara siswa yang berpindah kelas. Jam menunjukkan pukul 10 pagi ketika Serge dan Robin berjalan santai menuju kelas mereka. Sepanjang jalan, mereka mendengar percakapan sekelompok gadis yang berjalan di depan mereka.
“Apa kau sudah dengar berita tentang Sementa dan Margaret?” tanya salah satu gadis, wajahnya serius.
“Sudah, mereka kecelakaan kan?” jawab gadis lain sambil menggigit bibirnya, terlihat khawatir.
“Kalau yang itu, hampir seluruh sekolah juga tahu!” tambah yang lain, suaranya terdengar seperti bergosip ringan.
“Jadi… apa sebenarnya yang terjadi?” tanya gadis pertama, sedikit bingung.
“Aku dengar wajah Sementa dan Margaret rusak parah akibat kecelakaan itu. Kaki mereka juga patah, tepat di kaki kiri,” ujar gadis kedua, matanya melebar.
“Kenapa aku merasa agak aneh ya dengan kecelakaan mereka,” gumam gadis pertama, nada suaranya cemas.
“Apa yang aneh?” tanya gadis ketiga penasaran.
“Coba kalian pikir. Waktu kecelakaan sama, posisi lukanya sama, dan kronologi kejadiannya juga sama,” jelas gadis pertama sambil menatap teman-temannya.
“Iya juga sih… mungkin mereka dikutuk karena dulu sering membully Ivy,” bisik gadis kedua dengan ragu.
“Lalu bagaimana dengan kepala sekolah? Apa dia juga dikutuk? Dia kan tidak bersalah,” timpal gadis ketiga, raut wajahnya berubah serius.
Serge yang mendengar percakapan itu merasa gelisah. Dia menyenggol bahu Robin, lalu berkata dengan suara rendah, “Semua orang membicarakan kecelakaan Margaret dan Sementa, sambil mengaitkannya pada orang yang sudah tidak ada. Ini membuatku kesal.”
Robin menepuk pundak sahabatnya. “Ya, aku tahu. Brayen pasti juga kesal mendengarnya. Secara, dia masih mencintai Ivy.”
“Oh ya, kemana Brayen? Dia sudah tiga hari tidak ada kabar! Bahkan tidak masuk sekolah empat hari!” Serge menambahkan, matanya memandang sekeliling dengan raut bingung.
“Aku sudah tanya pada ibunya. Dia bilang Brayen sedang liburan untuk menenangkan diri,” jawab Robin dengan nada menenangkan, sambil memeriksa tasnya.
“Itu bagus… tapi ini gila! Dia bolos sekolah cukup lama. Apa dia mau cari masalah dengan para guru?” gerutu Serge, frustrasi.
Robin segera mengeluarkan HP-nya dan mencoba menelepon Brayen, namun panggilan tidak diangkat. “Dasar… gila!” serunya kesal.
“Aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali, tapi tidak ada satu pun panggilan atau pesanku yang dibalas. Mungkin dia ingin menenangkan diri karena ditinggal cintanya. Lagipula, Brayen bukan tipe yang akan melakukan hal gila,” ujar Robin mencoba menenangkan sahabatnya.
Di waktu yang sama, namun di tempat berbeda, Brayen menatap layar HP-nya dengan ekspresi bingung. Terlihat notifikasi panggilan tak terjawab dari Serge dan pesan dari Robin. Ia ingin membalasnya, tapi ragu-ragu. Tiba-tiba, sebuah tangan menutup layar HP itu.
Brayen menoleh dan terkejut melihat siapa yang berdiri di sampingnya. Ivy, dengan senyum lembut dan hangat, menatapnya. Tanpa sadar, Brayen ikut tersenyum.
“Aku ingin mengkader apa yang sudah kamu dapatkan selama berpacaran dengan Natali dulu,” ucap Ivy pelan, suaranya menenangkan.
Beberapa menit sebelumnya, Brayen memang sedang bercerita tentang hal-hal yang ia temukan selama hubungannya dengan Natali. Waktu itu, hubungan mereka sedang buruk, jadi Brayen baru bisa berbagi sekarang. Ia juga sedang mengumpulkan bukti berupa foto, untuk memastikan segala hal tentang kejahatan Natali terdokumentasi.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
