BAB 41
"Ingat, jika kau ditanya polisi… bilang itu tidak kesengajaan!"
Suara gadis itu terdengar tegas, dingin, dan nyaris seperti ancaman yang tak terbantahkan. Sorot matanya menusuk, menyala redup di bawah lampu gantung balkon yang temaram, sementara bibirnya melengkung dengan senyum tipis yang ganjil. Senyum itu membuat wajahnya terlihat menyeramkan, seakan ada sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar kata-kata.
Di seberang telepon, lawan bicaranya hanya menjawab singkat, datar, “Iya.”
Tak ada lagi kata tambahan, hanya bunyi klik tanda sambungan terputus.
Natali menurunkan ponselnya perlahan, lalu tersenyum semakin lebar. Jemarinya menggenggam gelas anggur kristal yang memantulkan cahaya merah tua dari cairan di dalamnya. Ia memutarnya perlahan, seolah sedang merayakan kemenangan kecil. Namun senyum itu seketika memudar ketika telinganya menangkap suara langkah kaki yang mendekat dari arah lorong rumah.
Natali segera berbalik. Dari kegelapan koridor, muncul seorang remaja laki-laki berusia sekitar lima belas tahun. Tubuhnya kurus dengan bahu sempit, rambut hitam bergelombang jatuh berantakan, dan matanya—mata biru yang indah, jernih, namun sarat kelelahan. Wajahnya tampan untuk usianya, dan dialah Baul, adik kandung Natali.
“Kau belum tidur, Natali?” tanya Baul heran, suaranya lirih namun terdengar jelas menembus kesunyian malam.
Natali memiringkan kepalanya, tersenyum tipis. “Adikku sayang… bukankah ini sudah jam tidurmu? Kenapa kau malah berkeliaran, hm?” Nada suaranya terdengar manis, tetapi ada sesuatu yang tersembunyi di balik itu—sesuatu yang dingin.
Baul mendengus kecil, lalu balik menatap kakaknya. “Ini juga jam tidurmu! Dan kenapa kau minum anggur? Kalau Ayah tahu, kau pasti akan dimarahi!” Nada Baul meninggi, terdengar kesal. Setelah mengucapkan itu, ia berbalik, melangkah pergi dengan cepat tanpa menunggu jawaban.
Natali terdiam, bibirnya melengkung tipis namun tatapannya mengikuti punggung Baul dengan dingin. Sorot matanya sinis, seolah melihat sesuatu yang bukan sekadar adik kecil yang sedang mengomel.
Di sisi lain kota Manchester, jalanan malam yang lembap dipenuhi kabut tipis. Lampu jalan memantulkan cahaya kekuningan di trotoar basah sisa hujan sore tadi.
Seorang pria berlari terburu-buru di sepanjang jalan, napasnya terengah-engah. Sesekali ia menoleh panik ke kiri dan kanan, seolah dikejar bayangan yang tak kasat mata. Kakinya beberapa kali tersandung, membuat tubuhnya hampir jatuh. Dialah Brayen.
Sudah hampir dua jam ia berlari tanpa arah, hanya mengikuti firasat. Ia mencari Ivy—gadis yang tiba-tiba memutuskan telepon darinya tanpa penjelasan. Sejak saat itu, hatinya dipenuhi rasa takut yang terus menghantui.
Tak sendirian, Brayen ditemani dua sahabatnya, Robin dan Serge. Keduanya berlari di belakangnya, wajah mereka memerah karena kelelahan. Napas keduanya memburu, jelas bahwa tenaga mereka hampir habis.
Akhirnya, Brayen berhenti di sebuah persimpangan jalan. Ia menunduk, meletakkan kedua tangannya di lutut sambil mengatur napas yang memburu. Robin terhuyung menghampiri, keringat membasahi dahinya.
“Hah… hah… apa kau yakin dia terluka?” tanya Robin, suaranya berat karena lelah.
Brayen menoleh dengan mata penuh keyakinan meski tubuhnya gemetar kehabisan tenaga. “Aku yakin…” jawabnya singkat, tapi tegas.
Serge, yang wajahnya juga basah keringat, akhirnya bersuara. “Manchester ini luas, Brayen. Kau tidak bisa mencarinya hanya dengan berlari menyusuri jalanan seperti ini. Itu cuma buang waktu! Kenapa kau tidak melapor saja ke kantor polisi?”
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
