74.

73 4 0
                                        

BAB 74




Setelah menghapus ingatan istri dan anaknya, barulah Cagatay memulai perjalanan panjangnya ke masa yang tertulis dalam catatan Ivy. Sama seperti kejadian di masa lalu, mantra penjelajahan itu tidak pernah langsung membawanya ke waktu yang ia inginkan. Terkadang ia harus mencoba berkali-kali, dan lebih malangnya, setiap kali mantra itu diucapkan, ia harus menunggu hingga enam bulan lamanya sebelum bisa mencobanya lagi. Energi sihirnya terkuras begitu banyak, membuat tubuhnya lemah dan rapuh. Pada akhirnya, waktu tetap berjalan semestinya, meninggalkan luka dan penantian yang panjang. 

Dalam perang melawan bangsa Siren, Cagatay sempat berharap bisa kembali. Namun tubuhnya ambruk, jatuh sakit karena seluruh tenaganya habis terkuras—bukan hanya karena mantra perjalanan waktu yang ia gunakan terlalu sering, tetapi juga akibat pertarungannya melawan makhluk laut itu.
Di detik-detik kematiannya, napasnya terengah, kulitnya pucat, tubuhnya gemetar seperti diseret keluar dari dunia. Hanya satu bayangan yang terus menemaninya: wajah anak kecil yang selalu dirindukannya. Dia membayangkan putrinya tertawa, bebas dan bahagia, tanpa beban takdirnya.

“Putriku… Elisa Cotton. Akan bersinar lebih terang dariku…” Itu adalah kata terakhir yang keluar dari bibirnya.

“Omong kosong!” gumam Ivy dengan wajah masam.

Ia menatap kosong ke langit-langit kamar asramanya. Dadanya naik turun dengan kesal. Ya, ia tahu siapa pria yang baru saja muncul dalam mimpinya. Dia adalah Cagatay Cotton Ulusoy—ayahnya sendiri.

Beberapa jam yang lalu, Cagatay menghentikan kegilaan Ivy. Entah bagaimana caranya, tapi itu berhasil membuat Ivy terlelap. Ia tenggelam dalam tidur yang penuh bayangan kabur, namun begitu jelas hingga menusuk perasaannya. Mimpi itu membawanya menyaksikan masa lalu sang ayah. Namun bukan mimpi yang indah—justru sebaliknya. Itu menyakitkan, menyesakkan, seakan jiwanya dipaksa menerima sesuatu yang tak ingin ia dengar.

“Semua itu bohong… Ya, hanya kebohongan belaka!” Ivy berbisik getir, matanya berkaca-kaca meski wajahnya dingin.

Ia meremas ujung selimut dengan marah, lalu menoleh ke sekeliling. Kamar itu terasa sepi. Tak ada Marlin di sana—tentu saja, ini belum waktunya tidur. Sejak berada di Negeri Semidio, Ivy terbiasa hidup dengan aturan waktu yang ketat. Tanpa sinar matahari, hanya dentang jam yang menentukan kapan ia belajar, kapan ia istirahat. Awalnya membuatnya tertekan, tapi lama-kelamaan, ia belajar menerima.

Ivy menghela napas berat, lalu bangkit dari peraduan. Dengan langkah mantap, ia menuju lemari besar di sudut kamar. Jemarinya menyapu debu tipis di permukaan kayu, lalu membuka pintu lemari itu dengan bunyi berderit lirih. Di dalamnya tersimpan sebuah buku merah tua—kitab sihir warisan Cagatay Cotton Ulusoy. Entah bagaimana buku itu bisa tersimpan di perpustakaan selama ratusan tahun, hingga akhirnya sampai ke tangannya.

Buku itu berat, bau kertas tua menyengat. Di dalamnya tertulis berbagai mantra, termasuk mantra penjelajahan waktu. Mantra yang sama dengan yang digunakan ayahnya. Ivy pernah mencoba membacanya sekali, namun tak pernah berani melangkah lebih jauh. Selalu ada rasa takut tersesat ke zaman yang salah. Tapi kali ini, ia tak peduli lagi. Ada hal yang ingin ia ubah.

“Aku tidak peduli dengan pria itu!” gumamnya dengan rahang mengeras. “Yang terpenting sekarang, aku harus kembali ke masa lalu… Aku harus mencegah Taki memberikan ramuan pelupa itu pada Brayen! Aku… aku tidak rela Brayen melupakanku!” Suaranya pecah oleh tekad sekaligus rasa sakit.

Ia mengambil jubahnya dengan gerakan cepat, lalu meninggalkan kamar asrama. Begitu sampai di lorong, ia membaca mantra singkat yang membuat tubuhnya bergetar sebelum akhirnya berteleportasi. Dalam sekejap, ia muncul di halaman belakang asrama.

Udara dingin menusuk kulit, angin malam membawa aroma lembap rumput yang basah. Tempat itu biasanya ramai oleh siswa yang berolahraga atau berbincang, namun kali ini sunyi—terlalu sunyi, seakan semua orang menghindar. Itu justru membuat Ivy lega. Tidak ada yang akan melihat apa yang hendak ia lakukan.

Dengan cepat, ia jongkok di tanah, menggambar simbol aneh dengan ujung jarinya. Tanah dingin dan keras, tapi Ivy tetap menekannya dengan penuh keyakinan. Lingkaran dengan bunga melati tergambar perlahan, dan saat ia mulai melantunkan mantra, cahaya pucat muncul dari garis-garis itu. Cahaya bergetar, menyala makin terang, membentuk pola hidup.

Ivy terus melafalkan mantra dengan suara bergetar. Dadanya sesak, jantungnya berdetak cepat. Ia tahu bahaya yang menantinya: bisa saja ia terseret ke masa yang salah, sama seperti Cagatay dulu.

Namun saat cahaya itu mencapai puncaknya, tiba-tiba sebuah dorongan keras menghantam punggungnya. Ivy terhempas jatuh, suaranya tercekat oleh kaget dan marah.

“Sebenarnya, siapa kau!?”

Suara itu dingin, tajam, penuh amarah. Ivy langsung mengenali nada itu. Suara seorang gadis yang sudah tak asing di telinganya.

Ivy bangun dengan wajah kusut. Ia menatap gadis itu dengan sorot mata penuh amarah sambil berseru lantang, "Aah...! Apa-apaan kau, Elsie Cotton! Kau menggangguku!"
Suara Ivy bergema di dalam kamar yang remang, hanya diterangi cahaya lampu meja di sudut ruangan. Udara malam Manchester yang lembap seolah menambah sesak ketegangan di antara keduanya.

"Katakan, kau itu sebenarnya siapa! Kenapa semua orang bilang kau adalah Elsie Cotton yang sebenarnya?! Apa hubunganku dengan Alan Ulusoy dan Cagatay Cotton Ulusoy?!" bentak Elsie Cotton dengan nada tinggi. Matanya berkilat, tapi di ujung pelupuknya air mata mulai menggenang, bergetar menahan jatuh.
Wajah gadis itu memerah, campuran antara kemarahan dan luka batin yang tidak bisa ia sembunyikan. Tangannya yang mengepal gemetar, seakan dirinya berusaha mempertahankan ketegaran yang mulai runtuh.

Ya, pertanyaan itu bukan sekadar tuduhan. Itu adalah jeritan hati seorang gadis yang selama ini tumbuh dalam kasih sayang Alan Ulusoy—hidup dengan limpahan kemewahan, perhatian, dan kasih sayang seorang kakek. Namun semua itu runtuh dalam sekejap ketika fakta terkuak: Elsie Cotton yang selama ini dibesarkan Alan Ulusoy, ternyata bukan cucu kandungnya.

"Hahahaha... Apakah kau sedang membicarakan ayah yang tidak bertanggung jawab itu?" Ivy menimpali dengan nada sinis, bibirnya melengkung dalam senyum getir.
Sorot matanya tajam, penuh luka yang membara. Kebencian itu begitu jelas terpancar, seolah setiap kata keluar dari bibirnya adalah pisau yang menusuk.

Elsie Cotton tertegun. Kata-kata itu mengguncang dirinya, membuat kakinya terasa goyah.

"Ayah yang tidak bertanggung jawab katamu?!" ulang Elsie Cotton dengan suara tercekat, matanya membelalak tak percaya.

"Ya!" suara Ivy menggelegar, penuh penegasan. "Cagatay Cotton Ulusoy adalah ayah kandungku, dan ibuku Linda Hansen. Cagatay hanya memiliki aku sebagai anak satu-satunya! Linda Hansen adalah satu-satunya wanita yang ia cintai! Namaku juga Elsie Cotton... lebih tepatnya, Elsie Cotton Ulusoy."

Kata-kata itu meluncur bagaikan palu yang menghantam hati Elsie Cotton palsu. Gadis itu terdiam, matanya kosong, bibirnya bergetar tanpa bisa menyusun kata. Seketika, dunia yang ia kenal runtuh. Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin dirinya yang selama ini tumbuh sebagai Elsie Cotton ternyata bukan siapa-siapa?

Ivy menatapnya lebih lama, dan pada detik itu ia menyadari sesuatu—Elsie Cotton mungkin sama sekali tidak tahu fakta ini. Ia hanyalah pion, korban kebohongan yang lebih besar. Hati Ivy sedikit terusik oleh rasa iba, namun kemarahan yang ia pendam bertahun-tahun jauh lebih kuat.

Dalam hatinya, Ivy menjerit. Seandainya ia tahu siapa ayahnya sejak dulu, ia tidak akan tumbuh dengan perut keroncongan, tidak perlu makan roti keras basi, tidak akan menjadi gadis miskin yang ditertawakan teman-temannya. Ia pun tidak perlu menanggung luka akibat wajahnya yang rusak, tidak perlu menjalani ritual gelap hanya untuk mendapatkan kembali kecantikan.
Sementara itu, gadis di hadapannya menikmati apa yang seharusnya menjadi miliknya—kemewahan, kasih sayang, dan kebahagiaan.

Amarah itu membuncah, namun ia tahu gadis itu pun hanya korban. Dengan suara yang dingin dan tegas, Ivy memutuskan, "Jadi bisakah kau menyingkir sekarang! Dasar penipu!"

Tatapannya menusuk, suaranya menekan keras pada kata penipu. Ucapan itu membuat Elsie Cotton terdiam sejenak sebelum wajahnya memerah karena marah. Bibirnya bergetar, matanya dipenuhi air mata yang kini jatuh membasahi pipi.

"Tidak! Kau pasti bohong!" bentak Elsie Cotton akhirnya, suaranya pecah, menggema di ruangan yang semakin dipenuhi ketegangan.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang