BAB 86
"Di sana. Aku bekerja sebagai pembuat roti. Lalu, bagaimana denganmu?" ucap Ivy sambil menunjuk ke arah sebuah toko roti di ujung jalan. Pintu kayu toko itu baru saja ditutup pemiliknya, lampu-lampu dalamnya padam satu per satu, menyisakan cahaya temaram dari lentera di luar yang berayun tertiup angin malam.
"Wah, itu bagus," sahut Murray pelan, matanya mengikuti arah jari Ivy. Ada rasa lega di dadanya. Syukurlah, Ivy bekerja di toko roti... itu berarti dia tidak harus melakukan pekerjaan kasar, batin Murray.
"Lalu... kau mendapat pekerjaan apa?" tanya Ivy dengan tatapan penasaran.
Murray menundukkan wajahnya, jari-jarinya saling menggenggam resah. "Aku... bekerja sebagai buruh bangunan," jawabnya lirih.
Nada suaranya melemah, seolah ada rasa malu yang tak bisa ia sembunyikan. Sebagai pria, ia ingin terlihat gagah, bekerja di tempat yang lebih baik, bukan sekadar memanggul batu dan kayu. Ia takut Ivy kecewa atau merasa malu memiliki pasangan dengan pekerjaan serendah itu.
Namun Ivy justru menatapnya penuh ketulusan, matanya berbinar. "Oh, wau. Kau harus makan banyak mulai sekarang agar kuat bekerja!" ucapnya riang, mencoba memberi semangat.
Murray terangkat wajahnya, menatap Ivy dengan mata penuh arti. "Kau... tak marah?" tanyanya ragu.
Ivy tertawa kecil, lembut. "Hahaha... mana mungkin aku marah. Kau kan sudah bekerja keras," jawabnya, lalu tersenyum tipis.
Senyuman itu sederhana, namun bagi Murray terasa seperti cahaya yang hangat di tengah gelapnya hidup. Hanya dengan senyum itu, ia merasa bahagia, dihargai, dan cukup.
Malam pun tiba. Udara semakin dingin menusuk, embusan angin menerobos sela-sela pepohonan tinggi yang mengitari desa. Suasana begitu sunyi hingga suara gesekan daun terdengar jelas, menambah kesan mencekam. Untungnya langit tampak indah, dihiasi bintang yang bertebaran, dengan bulan sabit menggantung anggun seolah memberi cahaya perlindungan.
Ivy mendesah perlahan, menengadah pada langit. Ada rasa letih, tapi juga syukur. Pandangannya kemudian jatuh pada seorang wanita paruh baya yang berjalan ke arah mereka, menenteng tas besar di tangan. Wanita itu tersenyum ramah, garis-garis halus di wajahnya tampak jelas diterangi sinar bulan.
"Ini kuncinya. Mulai sekarang rumah serta isi-isinya resmi milik kalian," ucap wanita itu sembari menyerahkan kunci ke tangan Ivy.
Ivy menerimanya dengan kedua tangan, lalu menunduk sopan. "Terima kasih," ucapnya tulus.
Wanita itu mengangguk, lalu beranjak pergi, meninggalkan mereka berdua di depan sebuah rumah sederhana berdinding batu abu-abu. Atap jerami rumah itu terlihat tua, namun masih kokoh. Cahaya rembulan jatuh di permukaannya, menambah kesan damai meski sederhana.
Murray memandang rumah itu lama, kemudian menoleh ke arah Ivy yang sibuk membuka kunci. Suaranya pelan, nyaris seperti gumaman. "Ivy, darimana kau mendapatkan uang?"
Ivy berhenti sejenak, lalu menatap Murray. Ada gurat berat di matanya, namun senyum tipis tetap ia paksakan. "Hem... sebenarnya, aku punya tas ajaib yang bisa menampung banyak barang. Tapi isinya hanya beberapa buku dan barang-barang kecil peninggalan ibuku. Aku... memutuskan untuk menjualnya, agar kita bisa membeli rumah dan sedikit bahan makanan."
Ia menelan ludah, berusaha menahan getir di dadanya. Semua barang itu punya kenangan, namun untuk bertahan hidup, ia harus merelakannya.
Murray menunduk, hatinya terasa sesak. "Ivy... aku minta maaf," ucapnya lirih. Suaranya bergetar, penuh rasa bersalah.
"Minta maaf untuk apa?" Ivy menoleh, keningnya berkerut heran.
"Seharusnya sebagai suami... aku yang membeli rumah dan memenuhi kebutuhan kita. Tapi malah kau yang melakukannya," gumam Murray, wajahnya muram, sorot matanya dipenuhi rasa rendah diri.
Ivy menatap pria itu lama. Ia bisa melihat jelas ketulusan sekaligus luka dalam diri Murray. Dan entah mengapa, itu membuatnya hangat. Ada sedikit kesedihan yang ia sembunyikan, tapi di balik itu ia juga merasa senang—karena pria itu begitu peduli padanya.
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ayo kita masuk dan mempersiapkan makanan." ucap Ivy, lalu ia melangkah masuk ke dalam rumah, meninggalkan Murray yang masih berdiri di depan pintu.
Namun, beberapa langkah kemudian, Ivy tertegun. Kata-kata Murray tadi kembali terngiang di telinganya. Ia yakin mendengar pria itu menyebut dirinya dengan kata “suami.” Dahi Ivy berkerut pelan, matanya menerawang ke arah lantai kayu yang berderit setiap kali ia melangkah.
"Tadi... dia bilang suami? Atau mungkin aku hanya salah dengar," gumamnya lirih, mencoba menepis rasa bingung yang tiba-tiba muncul.
Dengan cepat Ivy membuang pikiran itu. Ia menyalakan tungku kecil di dapur yang masih berbau debu karena jarang digunakan. Asap tipis mengepul, memenuhi ruangan dengan aroma kayu terbakar. Tangannya sedikit gemetar saat memotong sayuran, sebab sebenarnya ia tidak pernah benar-benar memasak sebelumnya. Meski begitu, tatapan Ivy penuh kesungguhan. Wajahnya basah oleh peluh karena panas api, namun ia tetap berusaha agar bahan sederhana yang dibelinya bisa menjadi hidangan yang layak.
Murray, yang sejak tadi duduk di kursi kayu dekat dapur, hanya menatap dengan ekspresi canggung. Jemarinya mengetuk meja, tanda ia tak tahu harus berbuat apa selain menunggu. Sesekali ia melirik wajah Ivy yang serius menunduk, dan entah mengapa itu membuat dadanya terasa hangat.
Akhirnya, sup tomat sederhana tersaji di atas meja, ditemani roti yang tadi dibeli Ivy. Saat mereka makan bersama, bunyi sendok beradu dengan mangkuk terasa begitu menenangkan. Entah karena masakan itu memang enak, atau karena rasa lapar yang mendera, piring mereka benar-benar kosong dalam waktu singkat.
Ketika Ivy ragu-ragu menanyakan, "Apa masakanku enak?" Murray hanya menatapnya dengan mata yang berbinar, lalu mengangguk pelan tanpa keluhan sedikit pun. Senyum kecil tersungging di bibir Ivy, perasaan hangat menyelimuti hatinya. Ia merasa dihargai, meski hanya dengan jawaban sederhana itu.
***
Keesokan harinya, di bawah terik matahari siang, Murray berjalan terseok di jalan tanah yang gersang. Bahunya nyaris roboh menahan karung besar di punggung. Nafasnya memburu, keringat mengucur deras membasahi kemeja tipisnya hingga lengket di kulit. Setelah beberapa langkah berat, ia akhirnya menjatuhkan karung ke tanah dengan suara gedebuk, lalu menjatuhkan diri duduk di sampingnya.
"Hah... lelahnya," keluh Murray sambil menyeka keringat yang mengalir deras di kening dan pelipis. Tangannya bergetar saat mengangkat lengan baju untuk menghapus peluh, memperlihatkan telapak yang merah dan lecet. Ia meringis pelan.
"Telapak tanganku terasa perih... dan seluruh otot seperti terbakar," desahnya lirih.
Matanya menatap kosong ke depan, seakan melihat bayangan dirinya di masa lalu. Anak keluarga kaya yang selalu hidup dalam kemewahan, yang bahkan tidak pernah mencuci piringnya sendiri. Orang tuanya mungkin menganggapnya lemah karena tak bisa menggunakan sihir, namun tetap memperlakukannya seperti seorang pangeran. Dan kini, kenyataan berbalik—dia hanyalah buruh yang bekerja dengan otot dan keringat.
Namun yang membuat Murray bingung adalah dirinya sendiri. Ia bisa saja berleha-leha, membiarkan Ivy yang menanggung semuanya. Tapi ia tidak melakukan itu.
"Kenapa aku melakukan ini, ya..." gumamnya dengan napas berat.
Dalam kelelahan itu, wajah Ivy terbayang jelas di benaknya—saat gadis itu terbaring lemah, ketika ia merawatnya dengan tangan sendiri, dan bagaimana senyum Ivy perlahan kembali muncul setelah sembuh. Bayangan itu membuat hatinya bergetar aneh. Ada sesuatu yang tumbuh, hangat dan sulit dijelaskan, seperti bunga yang mekar di musim semi.
Murray tersenyum samar, meski tubuhnya masih terasa remuk. "Aku tahu, aku bekerja demi makan. Tapi... entah kenapa aku begitu semangat melakukannya. Aku juga sangat menantikan saat jam pulang tiba," ucapnya lirih, sembari menatap langit siang yang menyilaukan.
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
