34.

77 4 0
                                        

BAB 34



Ivy bergerak secepat yang dia bisa menuruni anak tangga. Meski tubuhnya sudah lelah karena berlari dari tadi, ada semangat yang berkobar di dadanya—semangat untuk mengubah masa depan, meski jalannya terasa berat.

Saat sampai di lantai satu, Ivy terus berlari menelusuri lorong sekolah menuju laboratorium. Namun langkahnya melambat ketika dia bertemu dengan Margaret dan Sementa yang tengah berdiri di tengah koridor, melambai ramah padanya. Senyum mereka tampak hangat, begitu berbeda dari sikap mereka setelah kebakaran itu terjadi.

Begitu Ivy berhenti di depan mereka, Sementa menatapnya dengan tajam. "Apa urusanmu dengan Madam Vivian?" tanyanya, nada suaranya terdengar agak menekan namun ramah.

Ivy terdiam sejenak, pikirannya melayang ke rentetan peristiwa di masa lalu—hari yang sama, Ivy dari masa lalu sedang menuju ruang guru untuk menemui Nyonya Vivian, guru kimia, sambil membawa buku. Di sanalah ia nantinya akan menemukan Jessica yang sudah tak berdaya.

"Kenapa kau tidak menjawab?" tanya Margaret, suaranya terdengar sedikit bingung. Ivy hanya terdiam sebentar sebelum mengalihkan pembicaraan.

"I-iya… aku sudah menemui Nyonya Vivian. Lalu, apa yang kalian lakukan di sini?" jawab Ivy sambil mencoba terlihat tenang. Dengan hati-hati, ia mengeluarkan HP-nya dan menyalakan perekam suara sebagai bukti, untuk berjaga-jaga nanti.

"Kami lagi mencari Jessica," jawab Sementa singkat.

"Untuk apa kalian mencarinya?" tanya Ivy, rasa penasaran menggerogoti.

"Sepertinya kau masih belum tahu. Tapi kami tidak punya waktu untuk menjelaskannya padamu. Intinya, Jessica—sahabatmu itu—sudah menggoda Denis, kekasih Elena!" Sementa menatap Ivy dengan nada ketus.

Cara Sementa berbicara dan gesturnya jelas menunjukkan ketidaksukaan pada Jessica. Ivy merasa kesal. Jessica adalah sahabat baiknya sejak kecil, gadis yang selalu tulus dan baik.

"Kami harus memberi dia pelajaran!" timpal Margaret, nada bicaranya menegaskan tekad mereka.

"Apa kau mau ikut?" tanya Margaret lagi, menatap Ivy.

Ivy hanya menggeleng pelan. Dia harus pergi ke laboratorium sekarang, urusan ini tidak bisa ditunda.

"Baiklah, kami pergi dulu ya," ucap Sementa. Setelah itu, Margaret dan Sementa meninggalkan Ivy sendiri di koridor.

Ivy menatap layar HP-nya untuk memastikan rekaman sudah tersimpan dengan baik. Setelah yakin, ia melanjutkan perjalanannya ke laboratorium. Namun baru beberapa langkah, ia berhenti lagi, menatap sekelilingnya dengan waspada, mencari keberadaan kamera CCTV. Hanya lorong kosong yang terlihat, sepi dan sunyi.

Saat itu Ivy mulai menyadari sesuatu. Semua kejadian aneh yang dialaminya, mulai dari Brayen yang tiba-tiba menjauh hingga peristiwa-peristiwa janggal lainnya, ternyata bagian dari upaya Ivy dari masa depan. Ivy dari masa depan-lah yang diam-diam memintanya melakukan hal-hal ini. Kenyataan itu membuat Ivy terdiam, sedih, dan merasa seolah terjebak dalam ruang dan waktu yang terus berputar tanpa akhir.

Perasaan putus asa mulai merayap masuk, namun jauh di dalam hatinya, ada dorongan yang tak bisa diabaikan. Ia masih ingin berjuang, terutama karena rasa penasaran yang menggebu—mengapa Emeli menyerang Jessica, dan siapa gadis yang bersama Jessica saat itu? Apakah itu Natali?

"Tidak, aku pasti bisa melakukan sesuatu!" gumam Ivy, tekadnya tetap menyala meski rasa cemas mulai merayap di dalam dada. Ia tidak akan menyerah begitu saja.

Ivy memutuskan menuju laboratorium, namun memilih jalan lain agar tidak terlihat—melewati jendela belakang sekolah yang relatif sepi. Angin dingin musim dingin menyentuh kulitnya saat ia menempel di dinding luar, matanya menelusuri keadaan di dalam laboratorium.

Begitu masuk, Ivy segera mendengar percakapan Jesicca dan kekasihnya, Leo. Mereka terlihat sangat mesra, tertawa dan saling menatap dengan penuh kasih, persis seperti yang Ivy ingat selama ini. Sambil menguping, Ivy tetap waspada, memastikan tidak ada CCTV yang menangkap keberadaannya. Ini menjelaskan mengapa tidak ada rekaman tentang Ivy dari masa depan yang muncul di pengadilan.

Ivy mencari posisi yang nyaman di balik jendela, duduk sambil menahan napas, matanya menatap Jesicca dan Leo. Tak lupa, ia mulai merekam video sebagai bukti. Setidaknya, jika dia tidak bisa mengubah masa lalu, dia bisa memanfaatkan bukti ini untuk mengubah sesuatu di masa depan—mengangkat kasus Jesicca kembali, atau mungkin memeras keluarga Emeli agar mendapatkan sejumlah uang. Sebuah rencana yang terdengar licik, tapi Ivy tidak punya pilihan lain.

Beberapa menit kemudian, Leo akhirnya pergi meninggalkan laboratorium. Namun saat Jesicca mencoba meninggalkan ruangan, dia langsung dicegat oleh Elena dan Natali. Ivy menahan napas. Tebakannya benar—gadis yang bersama Elena memang Natali. Elena dan Natali menarik Jesicca ke tengah laboratorium dengan kasar. Jesicca hampir terjatuh, tapi cepat-cepat memegangi meja di dekatnya sehingga tubuhnya tetap tegak. Namun, akibat dorongan itu, beberapa gelas kimia di atas meja terjatuh ke lantai, pecah dan berserakan. Untungnya, itu bukan cairan berbahaya, meski pecahan gelasnya tajam dan bisa melukai.

Tanpa ragu, Elena dan Natali mulai menampar Jesicca dan memakinya. Elena, gadis berambut merah itu, tampak paling kasar. Kata-kata tajamnya menusuk, menambah luka di hati Jesicca.

"Dasar wanita murahan! Apa Leo tidak cukup untukmu hingga kau mau di**** Danil juga!" teriak Elena dengan suara penuh kemarahan.

Jesicca menatap Elena dengan wajah tegang, namun berani membalas, "Bukan aku yang mulai, tapi Danil yang mendekati. Salahmu yang tidak mampu memuaskan Danil!" ucapnya dengan nada tegas.

Ucapan itu membuat Ivy terkejut. Jesicca yang dia kenal selalu polos dan lugu—bagaimana bisa gadis itu terlibat dalam hal semacam ini? Ivy terdiam sejenak, mencoba mencerna fakta yang baru saja didengar.

Natali, yang tidak terima dengan perlawanan Jesicca, segera memotong, "Tutup mulutmu, dasar jalang murahan! Seharusnya kau tahu batasmu, dan siapa lawanmu!" Suara Natali meninggi, menambah ketegangan di laboratorium.

Ivy menahan napas, matanya menatap Jesicca dengan campuran rasa khawatir, marah, dan penasaran. Dia tahu saat ini bukan waktu untuk ragu—dia harus menemukan cara untuk membongkar kebenaran sebelum keadaan semakin buruk.

Bersambung !

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang