53.

64 2 0
                                        

BAB 53





Ana melahirkan dua bayi laki-laki. Satu bayi tampak sehat dan normal seperti manusia pada umumnya, sementara bayi satunya lahir dengan kondisi berbeda—cacat, tak sempurna. Kedua bayi itu diberi nama Chaiden dan Chayton.

Chayton, bayi yang terlahir tak sempurna itu, sekilas terlihat seperti manusia biasa. Namun kakinya menyatu, menyerupai ekor ikan yang tidak pernah bisa berubah menjadi kaki manusia, dan juga tidak mampu sempurna menjadi siren. Wujudnya seolah terjebak di antara dua dunia. Ketika Ana pertama kali melihatnya, matanya dipenuhi kebingungan bercampur rasa takut. Ia sempat berpikir untuk mengakhiri hidup Chayton, karena sejak kecil Ana diajarkan bahwa anak yang lahir tidak sempurna hanyalah beban. Bagi bangsa siren, anak cacat adalah kelemahan yang harus segera disingkirkan. Kejam, namun begitulah hukum alam yang mereka percayai.

Namun, Cedric tidak membiarkan itu terjadi. Saat ia tahu Ana berniat menyakiti Chayton, amarahnya meledak. Wajahnya memerah, suaranya bergetar saat ia mengancam akan meninggalkan Ana dan membawa kedua anaknya kembali ke Inggris, walaupun itu sangat berisiko. Tatapan Cedric penuh dengan kesungguhan, begitu tajam hingga membuat Ana goyah. Pada akhirnya, Ana terpaksa mengalah. Ia mencoba menyingkirkan doktrin kejam dari bangsanya, dan perlahan belajar mencintai Chayton tanpa syarat, meskipun hatinya masih sering berperang dengan ketakutan.

Tapi kekhawatiran Cedric tidak berhenti di sana. Pada masa itu, Eropa dipenuhi kegelapan. Banyak bangsawan dan raja menjadikan manusia tak sempurna sebagai koleksi, hiburan, atau bahan ejekan di istana mereka. Lebih buruk lagi, perburuan penyihir sedang merajalela—siapa pun yang dianggap berbeda akan dibakar hidup-hidup di tengah alun-alun. Bayangan ngeri itu selalu menghantui Cedric. Ia sering berdiri di jendela, menatap keluar dengan dahi berkerut, memikirkan cara melindungi keluarganya. Naluri protektifnya tumbuh semakin kuat setelah memiliki anak.

Demi menjaga keluarganya dari ancaman dunia luar, Cedric mengambil langkah besar. Ia membangun sebuah ruangan rahasia jauh di bawah tanah. Dengan bantuan seorang penyihir dan beberapa bangsa Semidio yang ia percaya, ruangan itu berdiri kokoh. Satu-satunya jalan masuknya tersembunyi di dasar sebuah sumur tua. Untuk menutupi rahasia itu, Cedric mendirikan sebuah mansion megah di atasnya, yang kelak menjadi tempat tinggal keluarganya.

Sejak itu, Chayton tumbuh dan besar di dalam ruangan bawah tanah tersebut. Cedric selalu berusaha menunjukkan kasih sayang pada putranya. Ia membangun ruangan lebih luas, mengisinya dengan barang-barang indah yang meniru kemewahan di dalam mansion utama, hanya agar Chayton merasa tidak berbeda dengan saudaranya. Namun, di balik semua itu, Cedric menyimpan rasa bersalah. Setiap kali ia menatap Chayton, hatinya teriris oleh kenyataan bahwa ia harus menyembunyikan putranya dari dunia. Ia yakin itu adalah pilihan terbaik, tetapi luka batinnya tetap ada.

Mansion itu kian megah, sementara kota Heraklion perlahan mulai ramai oleh manusia biasa. Hal ini membuat kaum Semidio merasa terancam. Hingga suatu ketika, sebagian dari mereka menemukan jalan menuju ruangan rahasia bawah tanah milik Cedric. Mereka datang satu per satu, mencari perlindungan dan tempat tinggal. Awalnya Cedric marah besar, karena merasa wilayah putranya diganggu. Namun, saat ia melihat Chayton begitu bahagia dengan kehadiran mereka, marahnya perlahan surut. Akhirnya, ia mengizinkan para Semidio tinggal di sana, meskipun ada perasaan tidak rela di hatinya.

Seiring waktu, ruangan itu semakin besar, berkembang, dan berubah menjadi sebuah negeri bawah tanah yang luar biasa—Negeri Semidio.

Ivy membalikkan selembar kertas dari buku tua yang ada di pangkuannya. Debu tipis terangkat ke udara, melayang-layang di bawah cahaya redup lilin. Matanya berbinar, terhanyut membaca sejarah panjang tentang negeri Semidio yang penuh misteri. Tangannya sedikit bergetar, entah karena takjub atau gugup. Setelah menutup buku itu perlahan, Ivy berdiri dan melangkah menuju jendela.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang