BAB 78
"Kau ingin ke mana?" tanyaku dengan nada lirih, ada getaran sedih dalam suaraku.
Ya... aku memang sedih karena dia harus pergi. Pasalnya, ini kali pertama aku menemukan seseorang yang tidak begitu peduli dengan mataku. Bukan dalam artian buruk, melainkan sebaliknya—dia tidak menyudutkan, tidak menghina, apalagi bersikap kasar padaku hanya karena mataku yang buta. Ada rasa hangat yang berbeda dalam sikapnya, seolah aku tidak perlu menyembunyikan kelemahanku.
Sebenarnya kata diskriminasi bukanlah sesuatu yang memiliki arti baik, namun di negeri Semidio hal itu sudah menjadi bagian dari keseharian. Mereka yang lahir dari golongan kecil, dari kaum minoritas, sering diperlakukan berbeda. Mereka yang berasal dari darah campuran, yang terlahir lemah atau dianggap tidak sempurna, kerap menjadi sasaran ejekan. Dunia ini memang tak adil, dan aku sudah terlalu sering merasakannya.
Gadis itu kembali bersuara, terdengar ragu. "Entahlah..." ucapnya pelan, seakan tidak tahu ke mana harus melangkah.
Aku mengernyit, merasa aneh dengan jawabannya. "Kau aneh... bagaimana bisa kau tidak tahu tujuanmu?" tanyaku sambil menoleh ke arahnya, walau pandanganku kosong.
Hening sejenak, hanya angin sore yang menyapu dedaunan taman. Lalu dengan nada lembut, dia menambahkan, "Namaku Elsie Cotton. Kau bisa memanggilku Ivy."
Hatiku bergetar mendengar namanya. Elsie Cotton... sebuah nama yang entah kenapa langsung menancap di ingatanku.
Tiba-tiba, aku merasakan jemarinya yang halus menyentuh wajahku. Sentuhan itu begitu lembut, membuatku spontan memejamkan mata. Udara di sekitar seolah menggetar, lalu suara lirihnya melantunkan mantra yang tidak kupahami. Saat mantranya usai, dia berbisik, "Itupun kalau kita bertemu lagi..."
Dan seketika, dia berlari meninggalkanku. Aku hanya bisa mendengar derap langkahnya yang cepat menjauh di antara batu-batu taman. Detak jantungku berpacu dengan langkahnya. Ketika aku kembali membuka mata, entah bagaimana pandanganku mulai terang... samar-samar aku bisa melihat. Bayangan seorang gadis berseragam, berlari semakin jauh meninggalkan taman itu. Tanganku terangkat ke udara, mencoba meraihnya, namun yang kuraih hanyalah kehampaan.
Ketika akhirnya sosok itu menghilang dari pandangan, hatiku terasa kosong. Seolah aku baru saja kehilangan segalanya. Dalam hati aku sadar—mungkin dialah Elsie Cotton, gadis yang telah menyembuhkanku.
Aku pun bertekad suatu hari nanti akan menemukannya, hanya untuk mengucapkan terima kasih. Karena berkat dirinya, aku bisa kembali melihat dunia. Namun, hingga aku masuk sekolah sihir untuk pertama kalinya, aku tak pernah benar-benar menemukannya lagi.
Di sekolah itu, aku bertemu seorang gadis muda yang memiliki nama sama: Elsie Cotton. Tapi aku tahu, dia bukan gadis yang sama. Warna sihirnya berbeda, usianya juga sebaya denganku. Hatiku yakin, Elsie Cotton yang ini bukanlah penyelamatku. Meski begitu, aku merasa senang karena dia selalu bersikap baik padaku. Aku berusaha untuk dekat dengannya, walaupun sering kali dia terlihat acuh tak acuh. Itu menyakitkan, tapi aku memilih mengabaikannya, berharap suatu saat dia akan benar-benar menerimaku.
Namun segalanya berubah sejak munculnya seorang gadis lain: Elsie Ulusoy. Dia memiliki warna sihir yang sama dengan gadis yang pernah menolongku dulu. Walau begitu, aku mencoba menepis prasangka itu—nama mereka berbeda, usia kami pun sama. Padahal jika kuingat, gadis yang menyembuhkan mataku seharusnya kini berusia setidaknya 25 atau 27 tahun.
***
Elsie Ulusoy muncul bagai bintang di tengah malam—memukau sekaligus penuh misteri. Tatapannya dingin namun dalam, langkahnya selalu tenang, seolah ia tidak pernah terburu-buru mengikuti alur dunia. Banyak yang meragukan kehadirannya, banyak pula yang curiga pada identitasnya. Wajar saja, sebab Elsie Ulusoy datang bukan sejak awal semester, melainkan tiba-tiba, di pertengahan pelajaran—sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Lebih aneh lagi, orang tua gadis itu tidak pernah disebutkan, namun ia membawa nama keluarga Ulusoy, nama yang hanya dimiliki oleh kalangan bangsawan.
Begitu kabar menyebar bahwa Elsie Ulusoy hanyalah anak manusia biasa, desas-desus mulai berbisik di setiap sudut asrama. Tatapan aneh, cibiran samar, hingga suara-suara lirih yang memandangnya rendah mulai bermunculan. Namun, gadis itu sama sekali tidak terusik. Ia tetap melangkah anggun di lorong-lorong sekolah, wajahnya tetap tenang, dan sorot matanya tak pernah goyah. Bagiku, justru sikap itulah yang membuatnya semakin mempesona.
Sejak hari pertama ia menginjakkan kaki di sekolah sihir ini, aku sering memperhatikannya diam-diam. Dari balik kerumunan, dari ujung kelas, atau sekadar saat ia duduk sendirian di taman asrama. Dan setiap kali mata kami beradu—meski hanya sepersekian detik—aku buru-buru mengalihkan pandangan, seolah-olah baru saja tertangkap melakukan kesalahan. Ada rasa malu yang menyesakkan dadaku; aku tak ingin dia tahu betapa sering aku memperhatikannya.
Namun di balik segala kerumitan identitasnya, satu hal yang pasti: Elsie Ulusoy adalah gadis yang luar biasa. Kemampuan sihirnya melampaui batas rata-rata siswa, bahkan sepupuku yang terkenal jenius pun tidak sebanding dengannya. Karena itulah aku merasa kecil, seolah tidak pantas untuk sekadar berbicara dengannya. Aku yakin tidak akan pernah ada kesempatan bagiku mendekat, hingga suatu hari tak terduga ia sendiri yang menyapaku.
Percakapan pertama kami bukanlah hal yang indah. Ia menyinggung kebiasaanku yang selalu menatap Elsie Cotton. Ucapannya membuatku tersinggung, seakan aku pria menyedihkan yang tidak punya keberanian selain mengamati dari kejauhan. Saat itu, amarah dan rasa malu bercampur jadi satu di dadaku.
Hari-hari berlalu, sampai akhirnya kejadian itu datang tanpa pernah kuduga. Sore itu, aku sedang merasa pusing dan memutuskan berjalan sendirian di sekitar asrama, berharap udara segar meredakan sakit kepalaku. Namun langkahku terhenti ketika kudengar suara yang familiar. Itu suara Elsie Cotton—ia sedang berbicara dengan seorang gadis lain. Rasa penasaran menyeretku untuk mendekat, dan betapa terkejutnya aku saat melihat siapa lawan bicaranya. Bukan sekadar bicara, mereka bertengkar hebat. Gadis itu adalah Elsie Ulusoy.
Awalnya aku hanya berdiri terpaku, ragu untuk ikut campur. Pertengkaran antar perempuan bukan urusanku, pikirku. Tapi situasi berubah saat aku melihat serangan sihir aneh melayang menghantam Elsie Cotton. Panik, aku segera melangkah maju. Niatku sederhana—melepaskan mantra yang menyandra Elsie Cotton. Namun baru beberapa langkah lagi menuju Elsie Ulusoy, cahaya putih menyilaukan tiba-tiba meledak dari arah mereka.
Aku berlari terlalu cepat, tak sempat menghentikan diri. Tubuhku tertelan cahaya itu, dan tanpa kusadari aku ikut terperangkap di dalamnya bersama Elsie Ulusoy.
Yang lebih mengejutkan adalah fakta yang muncul kemudian. Segala sesuatu yang selama ini kuketahui runtuh begitu saja—ternyata Elsie Cotton bukanlah anak dari Cagatay Cotton Ulusoy. Justru Ivy lah anak kandung dari Cagatay Cotton Ulusoy. Fakta itu berputar-putar di kepalaku, membuat kepusinganku semakin menjadi. Semuanya terlalu rumit untuk kupahami sekaligus.
Aku menoleh, menatap jalan yang baru saja dilewati Ivy. Langkahnya cepat, penuh amarah, hingga sulit untuk mengikutinya. Aku ingin menyusul, ingin berada di sisinya. Namun rasa takut menahanku. Aku takut membuatnya semakin marah. Ivy dalam amarahnya ibarat singa—gagah, liar, dan berbahaya.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Cinta"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
