BAB 37
"Teriak lah sekeras yang kau bisa, karena di sini tidak akan ada seorang pun yang mendengarmu!" seru Je dengan suara menggema, lalu dia kembali tertawa sinis sambil terus menyeret gadis itu semakin jauh ke dalam hutan. Daun-daun kering berdecit di bawah langkah kaki mereka, dan cahaya lampu jalan yang remang hanya menambah bayangan gelap di sekitar, membuat suasana semakin mencekam.
Danil yang tidak tahan lagi menghentikan langkahnya. Dia menatap kedua sahabatnya, Hugo dan Mak, dengan campuran ragu dan amarah yang tersimpan di matanya. "Apa kita benar-benar harus melakukannya?" tanyanya perlahan, suaranya serak karena menahan emosi.
"Tentu saja," jawab Mak dengan nada santai, seolah tidak ada yang serius terjadi. Ekspresinya datar, namun senyum sinis tetap menghiasi wajahnya.
Hugo menatap Danil dengan tajam, alisnya berkerut. "Kenapa kau terlihat ragu? Bukankah kau sudah sering melakukan hal seperti ini?" tanyanya, nada tajamnya menekan Danil untuk segera mengambil keputusan.
Dengan suara ragu dan napas tersengal, Danil akhirnya menjawab, "Ya... tapi aku tidak pernah melakukannya dengan keterpaksaan seperti ini. Biasanya, kami melakukannya karena sama-sama mau..." Kata-katanya terdengar lemah, seolah mencoba menenangkan dirinya sendiri, namun bayangan ketidaknyamanan masih jelas tergambar di matanya.
Danil tahu ia memang brengsek di masa lalu, tetapi satu hal yang membedakannya dari Je, Hugo, dan Mak adalah: ia tidak pernah memaksa seorang gadis untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan. Meskipun ia sering terlibat hubungan dengan wanita ketika mabuk atau situasi "saling setuju," tidak ada yang pernah ia lakukan dengan paksaan.
Hugo mengangkat bahu, nada suaranya dingin dan tanpa ampun. "Natali sudah membayar kita mahal untuk melakukan hal ini. Kami tidak berniat mengembalikan uangnya. Dan kalau kau tidak suka, jangan ikut, Danil. Biarkan kami yang mengurus semuanya."
Suasana di hutan semakin mencekam. Angin malam menerpa ranting pohon, daun-daun bergesekan seperti bisikan gelap. Gadis itu, yang digenggam kasar oleh Je, hanya bisa meringis kesakitan dan menahan napas, ketakutan mengalir di setiap serat tubuhnya. Mata Danil menatap gadis itu sebentar, ada perasaan bersalah yang tak tertahankan, namun ketakutan terhadap Hugo dan Mak membuatnya tetap diam.
Mak, Hugo, dan Je sebenarnya berasal dari keluarga kaya, namun kedua orang tua mereka sangat disiplin soal uang. Ketika Natali menawarkan sejumlah uang yang cukup besar untuk melakukan "tugas" ini, mereka tentu saja menerima tanpa ragu. Situasinya berbeda dengan Danil, yang sejak kecil dimanja sebagai anak tunggal dan memiliki prinsip kuat; uang bukanlah masalah baginya, karena satu hari jajanannya bisa membeli emas.
Sementara itu, Mak dan Hugo mengabaikan keraguan Danil dan dengan cepat mendekati Je dan gadis itu. Je mendorong gadis itu ke tanah dengan kasar, membuatnya terjatuh ke atas dedaunan kering yang mengerik di bawah cahaya lampu remang hutan. Gadis itu mencoba bangkit dan berlari saat Je sedikit melepaskan genggamannya, namun Hugo dengan cepat menyergapnya. Sebuah tangan kuat meraih lengannya, lalu tubuhnya dilempar kembali ke tempat semula.
"Kau ingin cara kasar, atau cara halus?" tanya Hugo, senyumnya licik dan mata menatap penuh nafsu. Suara serak dan dingin itu bergema di hutan yang sunyi, membuat udara di sekeliling semakin mencekam.
"Apa... apa yang ingin kalian lakukan?" suara gadis itu gemetar, gadis itu... tidak lain adalah Ivy, menatap ketiga pria itu dengan mata yang penuh ketakutan. Tubuhnya bergetar, dan napasnya tersengal-sengal karena panik.
Ketiganya menatapnya dengan tatapan cabul, jelas menunjukkan niat mereka yang gelap. Hugo menurunkan celana seragamnya sedikit, Mak melakukan hal serupa, dan Je ikut menatap dengan ekspresi penuh keinginan. Ivy itu hanya bisa merangkak menjauh, rasa takut dan jijik menyelimuti tubuhnya, setiap langkahnya terasa berat di tanah yang dingin dan lembab.
"Jangan pura-pura bodoh, Ivy. Kami tahu kau cukup sering melakukannya dengan Brayen dulu!" ucap Mak dengan nada sok tahu dan tatapan licik yang menakutkan.
Ivy yang mendengar itu hanya bisa menggeleng lemah, tubuhnya bergetar hebat. Ia mencoba bangkit, berusaha lari menjauh dari keempat pria itu, namun langkahnya terhenti saat mereka berhasil menangkapnya lagi. Dengan ganas, Mak dan Hugo merobek baju seragamnya, menjatuhkan Ivy ke tanah lembab yang dipenuhi daun dan ranting kering. Udara dingin hutan menyentuh kulitnya yang terbuka, membuat bulu kuduknya meremang.
Tubuh Ivy memberontak, berusaha melawan, tapi semakin dia berontak, tubuhnya semakin sakit. Kedua tangan dan kakinya terkunci kuat, seolah tubuhnya menjadi tawanan tanpa harapan. Hugo menekan tangannya dengan kasar, rasa sakit menjalar hingga ke seluruh lengan. Je berdiri di antara kedua kaki Ivy, dengan kasar mengikat kakinya menggunakan tali sepatunya, memastikan Ivy tidak bisa bergerak sama sekali. Sementara itu, Mak mulai meraba tubuh Ivy dengan gerakan yang mengerikan, setiap sentuhan membuat jantung Ivy terasa seperti akan berhenti.
"To... tolong!" teriak Ivy, suaranya parau karena kelelahan dan ketakutan.
Ia hanya bisa menjerit, memohon bantuan pada siapa pun yang mungkin mendengar. Tapi hutan sunyi itu tetap membisu, hanya suara angin dan ranting yang patah di bawah kaki mereka yang terdengar. Perlahan, teriakan Ivy berubah menjadi tangisan yang memilukan, setiap isak menyayat hati, namun ketiga pria itu tampak tak peduli. Mata mereka hanya menatap dengan nafsu dan keserakahan, seolah gadis itu hanyalah benda yang bisa mereka kuasai.
Di sisi lain, Danil berdiri beberapa langkah menjauh, wajahnya menegang. Matanya menatap pemandangan mengerikan itu dengan rasa bersalah dan kemarahan yang bercampur, namun tubuhnya tetap kaku. Ia ingin menolong, ingin menghentikan kekejaman itu, tapi sesuatu menahan langkahnya. Hatinya penuh dengan pergolakan, antara rasa ingin bertindak dan ketakutan menghadapi konsekuensi, membuatnya hanya bisa menelan ludah sambil mengalihkan pandangan.
Suasana hutan semakin mencekam. Daun-daun bergesekan dengan angin malam yang dingin, bayangan pepohonan menari-nari di tanah yang gelap. Tangisan Ivy terdengar begitu putus asa, sementara ketiga pria itu semakin leluasa dengan tindakannya. Setiap detik terasa panjang, dan Ivy hanya bisa merasakan ketakutan yang membakar dari dalam, dicampur dengan rasa jijik yang hampir tak tertahankan.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
عاطفية"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
