2

246 7 0
                                        

BAB 2

Masih menatap cermin, Ivy perlahan menaikkan blus seragamnya, memperlihatkan perut rampingnya. Jari-jarinya menyentuh kulitnya yang tertoreh bekas luka, dan ia merasakan sensasi yang lebih buruk daripada luka di pipinya. Bekas luka di perutnya itu mengeruk, terasa tertarik dan licin di beberapa bagian. Meski sudah mengering, rasa sakitnya masih membekas, membuat Ivy tersentak dan menahan napas sejenak. Hanya dengan melihatnya, hatinya bergetar dan rasa takut muncul kembali, samar namun nyata.

Satu tangan Ivy terkepal, dan ia menutup matanya, membayangkan wajahnya tanpa bekas luka itu. Sesaat, bayangan itu memberinya rasa lega, membuat dadanya sedikit lebih ringan. Namun beberapa menit kemudian, lamunan itu buyar, digantikan perasaan marah yang membakar di dalam dirinya.

“Karna luka ini, semua mimpiku hancur! Bahkan rasa sakitnya masih terasa,” gumam Ivy pelan, suaranya datar, matanya menatap kosong ke arah lantai. Kata-katanya seolah hanya untuk dirinya sendiri, namun terasa menahan beban yang terlalu besar untuk usianya.

Tiba-tiba, ketukan terdengar di pintu, memecah suasana kamar yang hening. Ivy menoleh, dan tak lama terdengar suara lembut seorang wanita paruh baya dari luar:

“Ivy?”

Gadis itu menatap pintu dengan mata setengah terpejam, menahan desah panjang. Nama itu terasa hangat, familiar—namanya panjang, Elsie Cotton, namun ia lebih suka dipanggil Ivy. Ada cerita tersendiri mengapa ia memiliki nama panggilan itu, sebuah cerita yang membuatnya merasa berbeda, tapi bukan sesuatu yang buruk.

“Ya, Mama?” jawab Ivy, suaranya lembut namun terdengar tegak dan bertenaga. Nada itu tidak penuh semangat; seolah ia tidak mengharapkan kehadiran ibunya pagi ini.

“Apa boleh Mama masuk?” tanya suara dari luar, lembut dan penuh sopan santun.

“Tentu,” jawab Ivy singkat.

Pintu perlahan terbuka, dan ibu Ivy melangkah masuk. Mata wanita itu penuh kehangatan dan kelembutan, berbeda dengan tatapan putrinya yang tampak dingin dan sedikit menahan diri. Meskipun Ivy tidak menampakkan kebencian, matanya memancarkan kesedihan dan kerinduan yang sulit diungkapkan. Ada kehangatan yang ia rindukan, namun dibalut rasa kecewa yang halus.

“Ada apa, Ma?” tanya Ivy, nada suaranya terdengar dingin, tapi masih cukup sopan. Sambil berkata demikian, ia memasukkan beberapa buku ke dalam tas sekolahnya, gerakan tangannya cepat dan rapi.

“Apa kau akan ke sekolah?” tanya sang ibu, dengan senyum lembut.

“Iya, kenapa, Mama?” jawab Ivy sambil sesekali melirik ibunya.

“Tidak, bukan apa-apa,” ucap ibunya, menunduk sejenak sebelum menatap Ivy kembali dengan tatapan hangat namun sedikit cemas.

Ivy menelan rasa penasaran yang muncul karena sikap ibunya hari ini, meski hatinya merasa aneh. Ia memilih untuk mengabaikan perasaan itu dan kembali fokus pada rutinitasnya.

“Sayang… jika kau punya masalah di sekolah… kau harus cerita pada Mama, ya?” suara ibunya terdengar lembut, hampir bergetar karena kekhawatiran.

Ivy menatap ibunya lekat, menyelidiki sikapnya. Ada sesuatu yang berbeda kali ini; ekspresi cemas dan perhatian yang tulus. Wanita paruh baya itu adalah sosok yang dulu sangat dicintai Ivy, sebelum pernikahan baru ibunya dan jarak emosional yang mulai terbentuk. Ivy menyadari bahwa di balik tatapan cemas itu, ada kasih sayang yang tulus—sesuatu yang ia rindukan lebih dari yang bisa ia ungkapkan.

Saat matanya menoleh ke perut ibu yang membuncit, Ivy menatap dengan rasa sinis samar. Ia menyadari itu bukan karena gemuk, melainkan karena ibunya sedang mengandung. Sebuah perasaan kompleks muncul di dalam hatinya: sedikit ketidaksukaan, namun juga kesadaran akan kehidupan yang baru sedang hadir di keluarganya.

“Hem… iya, Ma,” gumam Ivy sambil mengenakan tas sandangnya dengan gerakan cepat.

“Kalau begitu, aku pergi sekolah dulu,” ucap Ivy singkat, lalu melangkah keluar meninggalkan ibunya.

Di dalam kamar, ibunya menatap punggung Ivy yang semakin menjauh. Tangannya seketika ingin meraih lengan putrinya, menahannya agar tidak segera pergi, namun ia menahan diri. Tangan itu berhenti di udara, seolah menimbang antara melepas atau menahan. Wajahnya memerah, mata berkaca-kaca, napasnya berat, tapi ia berusaha tetap tegar. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan Ivy, meskipun hatinya hampir hancur melihat gadis itu pergi. Saat Ivy akhirnya tidak lagi terlihat, ia menunduk sebentar, kemudian mengangkat wajah ke atas, menatap langit-langit kamar dengan harapan air matanya tidak jatuh.

Sementara itu, Ivy menuruni anak tangga dengan langkah cepat. Kamarnya berada di lantai dua, dan cahaya pagi menembus tirai jendela, menyorot debu-debu tipis yang menari di udara. Di sepanjang dinding tangga, terpajang banyak foto-foto lama Ivy dan ibunya saat Ivy masih kecil. Dalam foto-foto itu mereka tersenyum, tertawa, tampak sangat bahagia dan dekat. Namun kini, melihat foto-foto itu, Ivy merasakan jarak yang begitu jauh antara dirinya dan ibunya—meskipun mereka masih tinggal di rumah yang sama.

Langkah Ivy tiba-tiba terhenti. Matanya tertuju pada sebuah foto besar yang tergantung di dinding: foto pernikahan ibunya dengan seorang pria. Pria itu bukanlah ayah kandung Ivy, melainkan ayah tirinya. Ivy menatap foto itu dengan ekspresi datar, napasnya tercekat sebentar saat menilai wajah suami ibunya yang tersenyum dalam kebahagiaan.

“Kenapa Mama terlihat begitu aneh…? Selama ini kan… Mama tidak pernah peduli sama aku,” gumam Ivy dalam hati, nada suaranya hampir tak terdengar. Ia mengerutkan alisnya, merasakan campuran bingung dan kecewa.

Di ruang tamu, seorang pria duduk santai di sofa, menikmati secangkir kopi hangat. Ia tampan, dengan jambang tipis menghiasi pipinya, meskipun usianya sudah tidak muda lagi. Saat hendak meraih koran di atas meja, pandangannya tertumbuk pada Ivy yang berdiri di tangga, menatap ke arah dinding foto. Ia hampir tersedak kopi yang sudah berada di mulutnya. Dengan cepat ia meneguk, lalu berkata, “Ivy.”

Suara itu membangunkan Ivy dari lamunannya. Ia menoleh dan segera mengenali siapa yang memanggilnya—ayah tirinya. Tanpa ingin berurusan dengan pria itu, Ivy mempercepat langkahnya, berniat meninggalkan rumah secepat mungkin.

Ayah tirinya menyadari gerakan putrinya, segera bangkit. Kakinya yang panjang membuatnya dengan mudah mendekati Ivy. Saat Ivy berada di lorong menuju pintu keluar, pria itu berdiri di depan, menghalangi jalan. Senyum hangat menghiasi wajahnya.

“Ivy, apa kau mau ku antar ke sekolah?” tanyanya lembut, penuh perhatian.

Ivy tetap diam, menatapnya dengan dingin. Dari raut wajahnya terlihat jelas kebencian, ketidaksukaan yang mendalam. Namun pria itu tampak tidak terlalu terganggu.

“Ivy,” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih tegas, tapi Ivy kembali mengabaikannya. Ia memilih berjalan melewati pria itu, ingin secepat mungkin keluar dari rumah.

Tanpa peringatan, pria itu meraih tangan Ivy dengan lembut, berkata, “Ivy, tunggu.”

Kata-kata itu terdengar hangat dan penuh niat baik, tetapi justru membuat Ivy merasa risih. Ia menepis tangannya dengan cepat, menatap pria itu tajam, penuh kebencian. “Bajingan, jangan sentuh aku!” ucapnya tegas, suaranya menantang dan membangkitkan rasa gugup pada pria di hadapannya.

Pria itu terkejut, matanya melebar sejenak, dan tubuhnya mendadak kaku. Setelah beberapa detik, ia menundukkan kepala dan berkata pelan, “Ah… aku minta maaf.”

Di sekeliling mereka, rumah yang hangat dan penuh cahaya pagi terasa hening. Hanya suara langkah kaki Ivy yang bergema di lantai kayu, dan aroma kopi hangat masih menggantung di udara, menambahkan nuansa realisme dan kesunyian yang kontras dengan ketegangan antara mereka.

Bersambung !

***

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang