67.

66 2 0
                                        

BAB 67


Marlin menunduk, menatap ke bawah. Matanya membelalak ngeri saat melihat tanah yang begitu jauh, setidaknya tiga ratus meter di bawah sana. Angin berhembus kencang, membuat rambutnya berantakan, seolah-olah mengingatkan bahwa jika Ivy melepaskan genggamannya, tubuhnya akan hancur seketika, darahnya mengalir membasahi tanah. Bahkan sekalipun ada penyihir penyembuh terhebat, itu tidak akan ada gunanya—cederanya terlalu fatal untuk bisa diselamatkan.

Tubuh Marlin gemetar hebat. Kakinya seakan kehilangan tenaga, dingin menyusup hingga ke tulang. Rasa takut menusuk dadanya, menyesakkan napasnya. Seketika mentalnya runtuh, keberanian yang selalu ia tunjukkan hanyalah topeng kosong. Kini ia sadar, mengganggu gadis di hadapannya sama saja dengan menggali kuburnya sendiri.

"I-Ivy... se-selamatkan aku. Aku—aku berjanji tidak akan berkata kasar lagi!" ucap Marlin dengan suara bergetar, nyaris putus asa. Air matanya menetes, membasahi pipi manisnya yang kini dipenuhi rasa takut. Tangannya meronta, mencoba bertahan meski sia-sia.

Namun Ivy hanya menatapnya dengan sorot mata sedingin es. Tidak ada iba, tidak ada belas kasih, hanya tatapan dingin yang menusuk hati. Bibir Ivy menekuk sedikit, bukan dalam senyum, tapi dalam kejenuhan. Ia bosan mendengar rengekan itu. Dan tanpa ragu, jemari Ivy melepaskan genggamannya.

Tubuh Marlin melesat jatuh ke bawah, angin menerpa telinganya, membuat teriakannya melengking panjang, membangunkan banyak orang yang tertidur. Panik, jeritan, dan tatapan kaget terdengar dari arah asrama. Namun sebelum tubuhnya benar-benar menghantam tanah, cahaya putih menyilaukan muncul, membentuk lingkaran bercahaya. Tubuh Marlin melintas masuk ke dalam lingkaran itu, lalu—dengan hentakan yang mengejutkan—ia justru jatuh di atas kasurnya sendiri.

Ya, Ivy tidak benar-benar membiarkan Marlin mati. Membunuhnya hanya akan menyulitkan hidupnya. Dengan dingin ia berbisik, “Kali ini aku ampuni.”

Marlin masih duduk di kasurnya, tubuhnya gemetar hebat. Napasnya terengah-engah, keringat dingin membasahi dahinya. Pupil matanya membesar, tanda ia belum pulih dari keterkejutan. Hening beberapa detik, lalu terdengar suara aneh—tetesan cairan yang mengenai seprai. Marlin menunduk, wajahnya memucat. Rasa panas dan basah menjalar di sekujur tubuhnya. Ia telah kehilangan kendali, pipis di celana.

Ivy melihat sekilas, tapi ekspresinya tetap datar. Ia mengibaskan jari, seketika sihirnya membersihkan seprai, pakaian, dan tubuh Marlin dari kotoran itu. Baginya, pemandangan itu hanya menegaskan betapa menyedihkannya Marlin. Saat Ivy sibuk membereskan diri dengan tenang, Marlin perlahan menoleh ke arahnya. Tatapannya penuh ketakutan, seolah Ivy adalah monster yang siap menelannya hidup-hidup.

Suara pintu mendadak berderit terbuka. Seorang guru masuk bersama beberapa murid perempuan. Wajah-wajah mereka dipenuhi kepanikan, mata melebar saat melihat kondisi Marlin yang masih gemetar. Mereka berhamburan mendekat, mengerubungi Marlin, menanyakan banyak hal dengan suara cemas. Ivy, tanpa ekspresi, hanya menjawab seadanya—kebohongan kecil yang sulit dicurigai. Sementara Marlin tetap membisu, bibirnya bergetar namun tak mampu mengeluarkan sepatah kata pun.

Menarik? Tidak. Menyedihkan? Ya. Itulah yang terlintas di benak Ivy saat melihatnya. Ia bahkan berharap Marlin melaporkan perbuatannya pada guru, agar ia bisa dikeluarkan dari sekolah. Namun rupanya rasa takut Marlin jauh lebih besar daripada keinginannya untuk membalas.

Keesokan paginya, sinar matahari menerobos kaca jendela kamar. Ivy duduk diam, menatap jam dinding yang menunjukkan pukul delapan. Jam pelajaran akan segera dimulai, seharusnya ia sudah berjalan menuju kelasnya. Tapi tubuhnya masih enggan beranjak. Marlin sudah pergi sejak pagi buta, dan semenjak kejadian semalam, ia menjadi lebih pendiam, bahkan sengaja menjaga jarak dari Ivy. Rasa takutnya kini jelas terlihat, dan Ivy justru merasa itu lebih baik.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang