BAB 54
Setelah berjalan sekitar dua puluh menit, akhirnya Adalgiso dan Ivy berhenti di depan sebuah toko besar yang berdiri mencolok di antara deretan bangunan lain. Toko itu tampak tua namun megah, dengan papan kayu besar berukir simbol kuno dan tulisan berwarna emas kusam: “L’arte della Bacchetta – Tongkat Sihir Agung”. Dari luar saja terlihat jelas bahwa toko ini bukan sembarang tempat. Beberapa jendela kaca berdebu memantulkan cahaya lampu kuning redup dari dalam, seolah menyembunyikan rahasia yang hanya boleh diketahui mereka yang terpilih.
Adalgiso berhenti, menatap Ivy dengan tatapan yang sulit ditebak.
“Masuklah. Kau harus melakukannya sendiri. Aku ada urusan lain,” katanya singkat.
Ivy mengerutkan kening, ragu-ragu. “Kenapa kita ke sini?” tanyanya dengan suara pelan.
“Karena kau memerlukannya. Setiap penyihir wajib memiliki tongkat. Dan karena mulai hari ini kau juga akan menjalani kehidupan sebagai penyihir, kau harus memiliki satu.” Suara Adalgiso tegas, tidak memberi ruang untuk bantahan.
Sebelum berbalik pergi, ia menyodorkan sebuah kantong kain kecil. “Ulusoy menitipkan uang ini untukmu. Gunakan dengan bijak untuk membeli perlengkapan sekolah.”
Ivy menerima kantong itu, merasa penasaran. Begitu ia membuka, matanya langsung melebar. Jemarinya menyentuh dinginnya logam, dan betapa terkejutnya ia ketika mendapati isinya adalah kepingan emas yang berkilauan.
“I–ini… emas?” ucap Ivy dengan suara tercekat, setengah tidak percaya.
“Benar. Di sini emas adalah mata uang utama. Sekarang masuklah. Aku pergi dulu.” Adalgiso melangkah cepat, meninggalkan Ivy yang masih tertegun dengan kantong emas di genggamannya.
Butuh beberapa detik bagi Ivy untuk mengatur napas dan menenangkan diri dari keterkejutan itu. Dengan hati-hati ia memasukkan kembali koin-koin tersebut, lalu melangkah masuk ke toko.
Begitu pintu kayu berat itu bergeser, aroma kayu tua bercampur debu langsung menyergap hidungnya. Suasana dalam toko jauh dari rapi. Rak-rak tinggi yang penuh dengan kotak-kotak persegi panjang kecil tersusun tidak beraturan, sebagian bahkan miring seakan nyaris tumbang. Lantai kayunya berderit setiap kali Ivy melangkah, menambah kesan angker sekaligus misterius. Cahaya lampu minyak yang menggantung di langit-langit memberikan sinar temaram, membuat bayangan panjang menari di dinding.
Di sudut ruangan, seorang wanita tua duduk di meja kasir yang dipenuhi kertas kusut dan botol tinta kering. Begitu melihat Ivy masuk, wajahnya langsung berubah cerah. Ia berdiri, berjalan tertatih menghampiri Ivy, dan tersenyum ramah.
“Maaf, nona, kami sudah tutup musim ini. Kau hanya bisa datang saat musim sekolah tahun depan,” katanya dengan suara lembut namun jelas.
“Tapi… Adalgiso memintaku kemari,” jawab Ivy cepat.
Mendengar nama itu, mata wanita tua itu berbinar, dan senyumnya semakin lebar. “Ah, Adalgiso rupanya. Jadi kau… nona Elsie?”
“Iya…” jawab Ivy pelan, masih kebingungan.
“Aku Vivian,” ucap wanita itu sambil mengulurkan tangan keriputnya. Ivy sempat teringat pada guru kimianya di sekolah dulu yang juga bernama Vivian—sama-sama ramah, sama-sama menenangkan. Namun jelas, wanita di hadapannya ini orang yang berbeda.
Mereka berjabat tangan. Sentuhan tangan Vivian terasa hangat, membuat Ivy sedikit lebih tenang.
“Senang berkenalan denganmu, nona. Mari, ikut aku.” Vivian memberi isyarat dengan tangannya.
Ivy ragu sejenak sebelum bertanya, “Bagaimana bisa kau mengenalku?”
Vivian tersenyum samar. “Adalgiso sudah memberitahuku bahwa kau akan datang hari ini. Dia bahkan memohon agar aku membuka toko, padahal biasanya toko ini hanya buka ketika musim masuk sekolah sihir.”
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
