82.

7 0 0
                                        

BAB 82


Ivy segera mengalihkan pandangannya. Ia menatap pria itu lebih jelas—sorot matanya dalam, penuh wibawa, meski raut wajahnya menyimpan ketegasan yang membuat udara sekitar seolah ikut menegang. Ivy menarik napas singkat, lalu berkata dengan nada sopan,
"Maaf atas ketidak-sopananku, Tuan. Namaku Ivy… dan ini Murray."

Ivy menundukkan sedikit kepalanya, sebuah gestur penghormatan yang tulus. Sikapnya yang tenang dan ramah membuat pria paruh baya itu—yang tadinya terlihat waspada—perlahan melonggarkan wajahnya. Ada sedikit kelegaan di sorot matanya.

"Ah… namaku Royan," ucap pria itu akhirnya, suaranya berat namun bergetar halus seperti seseorang yang sudah kenyang makan pahit-manis kehidupan.

Di sekitar mereka, hamparan ladang ilalang berdesir diterpa angin sore. Pohon-pohon tinggi di kejauhan berdiri muram, dan dari sela dedaunan terdengar suara burung-burung hutan yang kembali ke sarang. Keadaan itu membuat pertemuan mereka terasa lebih menegangkan sekaligus asing.

"Jadi, kenapa kalian bisa ada di sini?" tanya Royan lagi. Tatapannya menusuk, penuh selidik.

Ivy merasakan tengkuknya dingin. Nada curiga yang keluar dari mulut Royan membuatnya sedikit tidak nyaman. Itu wajar, pikirnya. Mereka berdua memang tampak mencurigakan—berpakaian berbeda dari warga sekitar, dan terlebih lagi rambut mereka: putih pucat milik Ivy, serta perak terang milik Murray. Warna rambut itu nyaris mustahil ditemukan di wilayah terpencil seperti ini. Bagi orang lain, mereka mungkin tampak seperti makhluk jadi-jadian yang menyaru sebagai manusia.

"A… itu… ceritanya cukup panjang," jawab Ivy hati-hati, suaranya lirih namun tegas. "Tapi bisakah Anda menunjukkan jalan ke kota terdekat?"

"Kota?" ulang Royan sambil mengerutkan kening. Ivy buru-buru mengangguk.

"Hah… kota jaraknya sangat jauh, Nona. Kalian bisa menempuhnya sekitar satu minggu perjalanan darat… atau tiga hari jika lewat jalur laut."

Mata Ivy melebar, napasnya tercekat. "Se… sejauh itu?" tanyanya tak percaya.

Murray yang sedari tadi menahan rasa lelah spontan menimpali, suaranya meninggi karena panik, "Kita bisa mati dalam perjalanan!"

Ivy langsung menoleh dengan tatapan tajam yang mampu menusuk hati siapa pun. Nada suaranya tegas, dingin, tapi bergetar karena emosi,
"Jangan asal bicara! Aku tidak akan mati, dan aku juga tidak akan membiarkanmu mati di tempat ini!"

Murray seketika bungkam. Wajahnya memanas, berubah merah seperti kepiting rebus. Dengan gugup ia menutup mulutnya menggunakan tangan, mencoba menghindari sorot mata Ivy yang membuat dadanya berdebar hebat. Ivy yang melihat sikapnya justru semakin kesal—entah karena rasa jengkel, atau karena ia sendiri tidak mengerti mengapa ucapan itu begitu keluar dari hatinya.

Sementara itu, Royan memperhatikan keduanya dalam diam. Senyum samar terbentuk di bibirnya. Di kepalanya, ia menduga sesuatu yang berbeda: pasangan muda ini tampak seperti sepasang kekasih yang melarikan diri agar bisa hidup bersama. Di zaman itu, bukanlah hal aneh jika ada banyak pasangan yang menentang restu keluarga lalu memilih kabur demi cinta.

"Apa kalian sudah menikah?" tanya Royan tiba-tiba, suaranya datar tapi menusuk.

Pertanyaan itu membuat Ivy dan Murray seketika terbelalak. Ivy tergagap, "Ha? Me… menikah? Ap… apa maksud pertanyaan itu?"

Ia melirik Murray, memberi kode agar pria itu menjawab. Namun Murray hanya berdiri kaku seperti patung, wajahnya semakin memerah hingga nyaris menyerupai bara api.

"Aku memperhatikan, kalian tidak mirip sama sekali," lanjut Royan. "Apa kalian sepasang kekasih yang sedang melarikan diri? Jika iya, sebaiknya kalian menikah terlebih dahulu. Tidak baik pria dan wanita tanpa status yang jelas bepergian bersama."

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang