72.

84 5 0
                                        

BAB 72


Cagatay terjebak di daerah Heraklion yang saat itu masih berupa hutan belantara. Pohon-pohon raksasa menjulang tinggi, akar-akarnya merayap keluar dari tanah lembap, dan suara serangga malam bercampur dengan desir angin yang menusuk telinga. Udara terasa asing dan dingin, seolah tempat itu belum pernah disentuh manusia. Di tengah keterasingannya, Cagatay berusaha bertahan dengan segala kemampuan yang dimilikinya. Ia mulai menerima, mungkin inilah takdirnya sekarang. Namun, secercah cahaya harapan datang ketika seorang gadis cantik muncul tanpa sengaja dalam hidupnya.

Pertemuan pertama itu sama sekali tidak ramah. Gadis muda itu mengabaikannya, seolah kehadiran Cagatay tidak penting. Anehnya, justru sikap dingin itulah yang membuat Cagatay semakin tertarik. Ada sesuatu yang aneh mengalir di dalam dirinya—bukan sekadar rasa kagum, melainkan perasaan yang lebih dalam. Ia merasa menyayanginya, mencintainya bahkan lebih dari dirinya sendiri. Cagatay sadar, ini bukan sekadar ketertarikan antara pria dan wanita, melainkan sesuatu yang lebih sulit untuk dijelaskan.

Gadis muda itu tinggal bersama seorang pria yang usianya tampak sebaya dengannya. Mereka menempati sebuah rumah kayu kecil di tepi hutan, bangunannya rapuh, dengan dinding yang retak dan atap bocor. Tidak layak huni, namun itulah satu-satunya tempat tinggal mereka. Saat melihat kenyataan itu, dada Cagatay terasa sesak. Ia kesal bukan hanya kepada rumah reyot itu, tetapi juga kepada pria yang tinggal bersama gadis tersebut. Lebih dari sekadar cemburu, ia merasakan amarah yang sulit dijelaskan.

Pria itu tampak lemah, tidak berwibawa, dan menurut Cagatay sama sekali tidak pantas berdampingan dengan gadis muda itu. Maka, dengan ego dan kemarahan yang meletup-letup, Cagatay selalu mengerjai pria itu, membuatnya tidak tenang. Baginya, itu adalah cara agar pria itu sadar diri, bahwa ia tidak layak berada di sisi gadis itu.

Hari-hari berlalu dengan penuh gangguan dari Cagatay, hingga akhirnya gadis muda itu muak. Ia menatap Cagatay dengan sorot mata tajam, wajahnya yang teduh berubah menjadi dingin, lalu dengan suara tegas ia mengungkapkan siapa dirinya sebenarnya.

“Namaku Elsie Cotton,” ucapnya, suaranya bergetar namun penuh keberanian. “Tapi aku lebih senang dipanggil Ivy. Itu nama yang jarang dipakai orang lain. Aku lahir di tahun yang berbeda darimu… dan ibuku adalah—”

Cagatay sontak terdiam. Kata-kata itu seperti pisau yang menusuk dadanya. Wajahnya membeku, bibirnya terbuka tanpa suara. Dadanya naik-turun cepat, sulit menerima kenyataan yang baru saja didengarnya. Gadis muda itu… ternyata adalah putrinya dari masa depan.

Awalnya Cagatay menolak percaya. Hatinya menolak kenyataan yang terdengar mustahil. Namun rasa penasaran memaksanya melakukan pemeriksaan dengan sihir—sebuah mantra kuno untuk mengecek hubungan darah. Hasilnya jelas, tak terbantahkan: gadis itu memang darah dagingnya sendiri.

#21

Keterkejutan itu belum sempat reda ketika seseorang datang menghampirinya. Seorang pria asing, berwajah tegas dengan sorot mata khas Inggris, mendekati Cagatay. Dengan nada memohon, pria itu meminta bantuan untuk membangun sebuah rumah sederhana bagi anaknya. Masih dalam guncangan emosional setelah mengetahui kebenaran tentang Ivy, Cagatay akhirnya menyetujui permintaan itu. Ia pun melibatkan putrinya untuk membantu, sekaligus mencari kesempatan mengenalnya lebih dalam.

Hari-hari mereka habiskan untuk mengumpulkan kayu, menyusun batu, dan membangun rumah yang kokoh di tengah hutan. Setiap kali Cagatay melirik putrinya, ada perasaan hangat bercampur takut yang merayapi hatinya. Hangat karena ia bisa bersama Ivy, putri yang selama ini tidak pernah ia bayangkan akan ditemui. Takut, karena ia tahu, kebersamaan itu mungkin tidak akan berlangsung lama.

Usai rumah itu selesai dibangun, Cagatay menemukan sebuah petunjuk baru dalam penelitian sihirnya. Sebuah teori tentang cara kembali ke masanya. Awalnya ia hanya berniat mengetes, namun tanpa sengaja, ia dan Ivy terseret ke pusaran waktu yang lain. Tubuh mereka terhuyung, terlempar dalam cahaya menyilaukan, lalu… terpisah.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang