BAB 81
Ivy terduduk lemas di atas tanah berumput kering, tubuhnya berguncang halus karena napasnya yang terengah-engah. Keringat menetes deras dari pelipis dan membasahi tengkuknya, membuat rambut putihnya yang kusut menempel pada kulit. Udara panas siang itu menekan dada, seolah menambah beban pada tubuhnya yang sudah kelelahan.
Murray yang sedari tadi berjalan di belakang segera mempercepat langkahnya. Ekspresi cemas jelas tergambar di wajah tampannya saat ia berjongkok di samping Ivy. Matanya meneliti wajah gadis itu yang pucat, sementara tangannya terhenti di udara, ragu apakah ia boleh menyentuh bahu Ivy atau tidak.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya dengan suara yang dalam namun penuh kegelisahan.
Ivy menoleh dengan tatapan sayu. Suaranya terdengar lemah namun masih menyimpan sedikit sarkasme.
“Menurutmu? Apa aku baik?”
Murray menundukkan wajahnya, menghela napas pelan. “Tidak,” jawabnya lirih, seakan kalimat itu terasa pahit baginya.
“Ya, tidak,” sahut Ivy cepat, menekankan rasa frustrasi. “Kita sudah berjalan setidaknya lima jam. Tapi masih belum menemukan apa pun! Ini membuatku kesal.” Suaranya pecah, ada keputusasaan di balik nada sinisnya.
“Sabarlah,” ucap Murray, suara itu hampir tak terdengar, seakan ia sendiri sadar kalimat itu terlalu ringan untuk menenangkan Ivy.
Sekilas Murray menatap sekeliling. Hutan di sekitar mereka tampak sunyi, hanya suara dedaunan yang berdesir diterpa angin, sesekali diiringi kicauan burung jauh di atas kanopi. Jalan setapak di hadapan mereka seakan tak ada ujung, terus menembus lebatnya pepohonan. Murray sendiri tidak begitu lelah; berjalan jauh bukan hal baru baginya, bahkan baginya itu seperti kebiasaan. Namun melihat Ivy yang kehabisan tenaga membuat dadanya diremas rasa kasihan.
Pikirannya berputar cepat, mencari cara agar mereka bisa sampai ke tujuan lebih cepat. Saat itulah ia teringat pada satu kebiasaan Ivy di sekolah asrama sihir—kebiasaan yang sering kali luput dari perhatian orang lain. Teleportasi. Ia pernah melihat cahaya samar energi sihir di sekitar Ivy ketika gadis itu berpindah tempat.
Mata Murray berkilat ketika ide itu muncul. Ia menoleh pada Ivy yang masih terengah-engah.
“Apa kita tidak bisa menggunakan sihir teleportasi seperti yang kerap kau gunakan?” tanyanya dengan penuh harapan, nadanya lebih hidup.
Ivy menoleh tajam padanya, lalu mendesah panjang. “Sihir itu tidak bisa digunakan jika kau tidak mengingat lokasi tujuanmu. Intinya, teleportasi hanya bisa dilakukan jika kau sudah pernah ke tempat tujuan sebelumnya. Jika tidak, sihir itu hanya akan membawamu ke tempat lain… yang mungkin jauh lebih berbahaya.”
Jawaban itu membuat bahu Murray merosot. “Begitu ya…” ucapnya pelan. Ia menunduk, bibirnya tertarik ke bawah. Kekecewaan jelas terpampang, namun dalam hitungan detik cahaya baru muncul di matanya.
Ia kembali menegakkan tubuh, suaranya terdengar lebih bersemangat meski agak ragu. “Kalau begitu… bagaimana kalau sihir terbang?”
Ivy terdiam sejenak, lalu menggeleng. “Itu akan membutuhkan banyak energi sihir. Dengan kemampuanmu, aku tidak yakin kau bisa terbang bersamaku.” Ucapannya datar, tapi cukup untuk membuat semangat Murray runtuh lagi.
Namun Ivy segera menambahkan, kali ini suaranya lebih lembut. “Bukannya meremehkan kemampuanmu… hanya saja aku tidak mau kau bernasib buruk sama sepertiku.” Tatapan matanya sedikit melunak.
Murray menelan ludah, wajahnya memerah. Kata-kata itu, meski sederhana, terdengar seperti bentuk kekhawatiran—sesuatu yang membuat dadanya berdebar. Ia merasa malu sekaligus senang, dan entah kenapa, seulas senyum samar berhasil menyelinap di bibirnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
