BAB 89
"Menu hari ini adalah roti dan sup tomat. Aku harap dia suka," gumam Ivy lirih.
Ia berjongkok di depan tungku perapian. Api yang berkobar kecil di dalamnya memantulkan cahaya jingga ke wajahnya, membuat kulit pucatnya tampak lebih hangat. Ivy merapatkan kedua lututnya sambil memeluk tangan sendiri, mencoba mengusir dingin yang merambat lewat celah-celah dinding kayu rumah sederhana itu. Pandangannya kosong menatap bara yang menyala, seolah pikirannya melayang jauh dari tempatnya sekarang.
“Kalau dipikir-pikir… sekarang aku benar-benar sudah bersikap seperti seorang istri. Tinggal serumah dengan seorang pria, membantunya bekerja, menyiapkan makanan untuknya, bahkan sekarang… aku sedang menunggunya pulang.” Suaranya pelan, nyaris tenggelam oleh suara kayu yang berderak terbakar.
Ivy menggigit bibirnya sendiri, wajahnya memerah. “Satu-satunya hal yang tidak kami lakukan adalah berhubungan suami istri.”
Ingatannya melayang pada malam-malam saat ia dan Murray tidur di ranjang yang sama. Tidak pernah ada yang terjadi, namun membayangkan kemungkinan itu membuat jantungnya berdebar kencang. Bayangan tentang ciuman, sentuhan, atau sesuatu yang lebih dalam membuat darahnya mengalir deras ke pipinya. Wajahnya semerah tomat, seolah menyamai sup yang tadi ia masak.
“Astaga! Apa yang kupikirkan!” Ivy cepat-cepat menepuk kedua pipinya dengan telapak tangan, berharap bisa mengusir pikiran aneh yang merayap masuk.
“Ivy.”
Suara itu membuat tubuhnya tersentak. Ia menoleh dengan cepat, dan di ambang pintu berdirilah Murray. Pria itu tampak letih, bahunya sedikit merosot, namun matanya menatap Ivy dengan kelembutan yang hangat, seperti rumah setelah hari panjang yang melelahkan.
“Selamat datang…” Ivy hampir menyelesaikan ucapannya, namun suaranya tercekat. Tatapannya langsung tertuju pada wajah Murray, yang dipenuhi lebam. Guratan biru keunguan di bawah mata, sedikit bengkak di pipi, membuat jantung Ivy mencelos.
“Ya Tuhan, Murray! Apa yang terjadi dengan wajahmu?” seru Ivy panik, ia bangkit berdiri, mendekat dengan tatapan cemas. Tangannya refleks hampir menyentuh luka di pipi pria itu, namun tertahan di udara.
“Apa seseorang memukulmu?” tanyanya penuh kecemasan.
Murray menggeleng pelan, senyum tipis terpaksa tercetak di wajahnya. “Tidak. Mereka tidak melakukan apa-apa padaku.” Suaranya datar, jelas berbohong.
Hari itu sebenarnya Murray dipanggil oleh bos besarnya. Sedikit kelambatan dalam pekerjaannya membuatnya jadi sasaran kemarahan. Ia dipukul, dihajar, diperlakukan semena-mena, hingga tubuhnya terasa remuk. Namun semua itu ia pendam, tak ingin Ivy mengetahuinya. Ia lebih memilih menanggung sakit sendiri ketimbang melihat gadis itu diliputi rasa khawatir.
“Ini hanya… kecelakaan kerja,” katanya, mengalihkan pandangan agar Ivy tidak bisa membaca kebenaran dari matanya.
Namun Ivy tak begitu saja percaya. Ia menggenggam lengannya erat dan mulai menariknya ke arah meja. “Aku akan mengobatimu dengan sihirku.”
Murray terpaksa ikut beberapa langkah, namun tiba-tiba ia menghentikan langkah dan menarik tangannya kuat-kuat hingga pegangan Ivy terlepas.
“Jangan.” Nada suaranya serius, meski penuh kekhawatiran. “Bagaimana kalau mereka menyadarinya? Ini bisa berbahaya. Dan lagi… kau sendiri sedang sakit. Jangan buang energimu hanya untuk mengobatiku.”
Kata-kata itu membuat dada Ivy serasa diremas. Matanya mulai berkaca-kaca, lalu butiran bening jatuh satu per satu. “Jangan seperti ini, Murray… Jangan terlalu baik. Kau membuatku merasa sangat jahat…” suaranya pecah, tangisnya meluncur tanpa bisa ia tahan.
“Ja-jangan menangis,” pinta Murray panik, langkahnya maju mendekat. Tapi semakin ia mencoba menenangkan, semakin deras air mata Ivy jatuh.
Akhirnya Murray menarik napas dalam-dalam, lalu meraih tubuh Ivy ke dalam pelukannya. Pelukannya hangat, lengan kuatnya melindungi, sementara telapak tangannya mengusap lembut punggung Ivy. “Ivy, jangan menangis. Aku mohon…” ucapnya lirih, nyaris bergetar.
Dalam pelukan itu, Ivy bisa merasakan detak jantung Murray yang stabil, kontras dengan debaran miliknya yang kacau. Dan untuk sesaat, di tengah segala luka, kesedihan, dan rahasia yang mereka simpan, Ivy merasakan kenyamanan yang sulit ia dapatkan di tempat lain.
***
Malam itu begitu gelap, hanya diterangi cahaya bulan yang sesekali tertutup awan tipis. Udara dingin menusuk tulang, membuat kabut tipis turun dan menempel di sepanjang jalan berbatu desa. Suara jangkrik dari rerumputan di tepi jalan bercampur dengan hembusan angin malam, menemani langkah kaki Xia yang pulang dari tempat kerjanya. Di tangan kanannya, ia membawa sebuah obor yang api kecilnya menari-nari, sesekali berderak ketika tertiup angin.
Xia tampak lelah, matanya sedikit sayu, namun ia tetap berjalan mantap menuju rumah. Saat ia melewati sebuah bar tua yang masih ramai dengan suara riuh orang-orang mabuk dari dalam, pintunya mendadak terbuka. Seorang pria keluar dengan langkah terseok. Aroma menyengat alkohol langsung tercium ke udara.
“Hei, kau!” seru pria itu sambil menunjuk ke arah Xia.
Xia menoleh dan segera mengenali sosok yang memanggilnya. Ia mendekat dengan raut wajah sopan namun waspada.
“Ya, Tuan Lukas?” tanyanya.
Wajah Lukas merah padam, matanya sayu dan berair, jelas sekali karena pengaruh minuman keras. Rambutnya berantakan, dan ia bahkan kesulitan menjaga tubuhnya tetap tegak. Saat bicara, suaranya serak, bukan karena mengantuk, melainkan karena terlalu banyak menenggak alkohol.
“Aku dengar… ada pekerja baru di tempatmu bekerja, ya? Istrinya itu… kerja di toko roti, kan?” ujar Lukas terbata-bata, suaranya agak tinggi dan tidak stabil.
Xia mengernyit sedikit, memastikan maksud ucapan itu. “Maksud Tuan, pria bermata abu-abu itu?”
“Iya! Istrinya… yang kerja di toko roti itu!” jawab Lukas dengan nada menekan, meski langkah kakinya oleng ke kiri dan kanan.
Xia menarik napas, mencoba menahan ekspresi bingung. “Benar, Tuan. Mereka suami istri. Nampaknya baru saja menikah dan pindah ke sini.”
Lukas tertawa pendek, suara tawanya serak dan berat. Ia mendekat dengan bau alkohol yang semakin menusuk, lalu menambahkan dengan nada penuh gosip, “Kata orang-orang… mereka datang ke desa ini karena kawin lari.”
Xia terdiam sejenak. Obor di tangannya bergoyang pelan saat angin bertiup, membuat bayangan wajahnya tampak berubah-ubah. Ia menatap Lukas dengan penuh kehati-hatian, lalu bertanya, “Memangnya, kenapa Tuan ingin tahu tentang mereka?”
Lukas tersenyum miring, bibirnya sedikit bergetar. “Tidak… aku hanya ingin bertanya,” katanya akhirnya, lalu berbalik pergi dengan langkah sempoyongan. Tubuhnya hampir jatuh beberapa kali, namun ia tetap berjalan, menghilang di tikungan jalan, meninggalkan bau alkohol yang masih tertinggal di udara.
Xia berdiri sejenak, memandang punggung pria itu yang kian jauh. Ekspresi wajahnya berubah serius, seolah percakapan singkat barusan membekas di benaknya. Ia menghela napas berat sebelum kembali melanjutkan perjalanan pulang, obornya bergoyang perlahan seiring langkahnya yang mulai cepat, seakan ada sesuatu yang kini membebani pikirannya.
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
