80.

9 0 0
                                        

BAB 80

Beberapa jam kemudian, Ivy akhirnya kembali ke tempat mereka menginap. Udara sore terasa lembap, cahaya matahari yang hampir tenggelam menembus celah dedaunan, menciptakan bayangan panjang di tanah berumput. Dari kejauhan, Ivy melihat Murray berjalan mondar-mandir di sekitar tenda kecil yang mereka dirikan. Gerakannya gelisah, langkahnya terburu-buru, seolah-olah sedang menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Begitu Murray menyadari kehadiran Ivy, ia segera menghampiri dengan wajah tegang.

“Kau dari mana saja?” tanyanya dengan nada meninggi. Alisnya berkerut, rahangnya mengeras, jelas pria itu sedang menahan amarah bercampur cemas.

Ivy menanggapinya dengan tenang, meski sedikit bersalah. “Aku habis berkeliling sebentar.” Suaranya terdengar datar, seolah berusaha menutupi kegelisahan batinnya. Dalam hati, ia sadar Murray pasti khawatir karena sudah terlalu banyak direpotkan olehnya.

“Lain kali jangan pergi sendiri. Tempat ini sangat berbahaya,” ucap Murray tegas, suaranya mantap tapi ada getar halus yang menunjukkan kekhawatiran tulus.

Ivy hanya membalas dengan deheman singkat, lalu melangkah masuk ke bawah tenda lusuh yang Murray buat dari ranting dan kain tipis. Aroma tanah lembap dan dedaunan kering memenuhi udara di dalamnya. Murray mengikuti dari belakang, ekspresinya masih kesal namun sorot matanya jelas menyimpan rasa peduli.

Begitu Ivy duduk, Murray menyerahkan sebuah apel merah segar kepadanya. “Makanlah apel ini. Aku tidak mau kau kelaparan, apalagi sampai sakit lagi,” katanya dengan nada agak kasar, namun cara tangannya mengulurkan buah itu begitu hati-hati, nyaris penuh kasih.

Ivy menerima apel itu dengan tatapan ragu. Justru perhatian Murray membuatnya semakin menyesal. Dalam hatinya, ia berharap Murray marah besar padanya, menuduhnya, bahkan menghardik dengan kata-kata pedas. Dengan begitu, mungkin rasa bersalah yang menyesakkan dadanya bisa sedikit berkurang. Tapi kenyataannya, Murray justru bersikap sebaliknya—tulus dan lembut.

“Kau tidak marah padaku?” tanya Ivy lirih sambil menatap buah di tangannya, seolah tak berani menatap wajah pria itu.

Murray terdiam beberapa saat, lalu menghela napas panjang. “Tidak. Lagipula, aku juga salah waktu itu,” jawabnya. Suaranya terdengar lebih pelan, seakan ia sendiri sedang menanggung beban perasaan yang sulit diungkapkan.

Keheningan pun menyelimuti mereka. Hanya suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin malam yang mulai turun. Beberapa menit mereka terjebak dalam diam, masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri, sampai akhirnya Murray berkata pelan, “Jangan terlalu dipikirkan. Ini tidak sepenuhnya salahmu. Aku juga salah, karena waktu itu sok jadi pahlawan.”

Ivy tertegun. Kata-kata itu terdengar aneh sekaligus jujur. Ia menatap Murray lama, pandangan matanya seperti ingin menembus isi hati pria itu. Saat Murray menyadarinya, wajahnya seketika memerah, telinganya panas, dan dengan canggung ia berdiri lalu berlalu pergi meninggalkan Ivy sendirian di dalam tenda.

Satu minggu kemudian.

Kabut tipis menyelimuti pepohonan pagi itu, embun masih menggantung di ujung dedaunan. Ivy sedang sibuk memasukkan beberapa buah ke dalam sehelai kain yang ia keluarkan dari tas ajaibnya. Kain itu kini tampak lusuh, warnanya memudar, karena sudah terlalu sering mereka gunakan sebagai selimut di malam hari. Udara malam begitu dingin, menusuk tulang, dan hanya kain tipis itu yang menjadi penghangat mereka.

“Apa kau sudah siap?” tanya Ivy sambil mengikat kain berisi buah-buahan. Sorot matanya kali ini lebih mantap, meski kelelahan masih terlihat dari wajahnya.

“Sudah,” jawab Murray singkat. Ia berdiri dengan punggung tegap, meski terlihat jelas ia mencoba menyembunyikan rasa was-was.

“Kita harus berjalan secepat mungkin saat langit cerah. Saat malam, mustahil kita bisa melanjutkan perjalanan,” lanjut Ivy. Nada suaranya penuh tekad, seakan ia sudah menyiapkan dirinya untuk perjalanan jauh dan berbahaya.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang