BAB 98
“Syukurlah, aku bisa menemukanmu! Apa dia menyakitimu?” tanya Murray dengan suara panik, matanya menyapu setiap sudut hutan yang remang karena cahaya senja mulai memudar.
“Tidak… aku segera berlari ke hutan untuk menghindarinya,” jawab Ivy lemah, tubuhnya terlihat murung dan lesu.
Ivy merintih pelan saat kakinya terasa nyeri, akibat berdiri terlalu lama di atas permukaan tanah yang tidak rata dan lecet terkena ranting pohon yang tajam. Suasana hutan yang mulai gelap menambah rasa dingin yang menusuk kulitnya.
“Kenapa?” tanya Murray, nada suaranya terdengar panik.
“Kakiku… sakit,” jawab Ivy, suaranya terdengar perih, wajahnya menahan rasa nyeri yang menusuk setiap langkahnya.
“Apa ini sakit?” tanya Murray lagi, matanya menatap kaki Ivy dengan cemas.
Ivy hampir ingin memukul kepala suaminya karena pertanyaan itu terdengar terlalu jelas. Meski begitu, ia ingin meyakinkan Murray bahwa ia baik-baik saja. Namun, air matanya sudah tak terbendung lagi, menetes perlahan di pipinya, tubuhnya gemetar karena dingin dan rasa takut yang masih tersisa. “Aku ingin bilang kalau aku baik-baik saja… tapi aku tak bisa menahan air mataku. Ini turun semakin deras, dan tubuhku mulai gemetar. Aku takut…” batinnya.
Mendengar itu, Murray segera meraih Ivy, memeluknya dengan erat, seakan ingin menyalurkan semua kehangatan dan rasa aman yang ia miliki. “Ada apa, Ivy?” tanyanya dengan panik, wajahnya menegang karena rasa khawatir yang mendalam.
“Tidak… ini sangat… Huaaaa… sangat sakit, Murray! Aku sangat takut! Aku… hiks… takut!” tangis Ivy pecah, lemah dan tak bisa lagi berpura-pura kuat. Tubuhnya yang kecil menempel di dada bidang Murray, gemetar hebat, sementara suara tangisnya pecah di antara pohon-pohon yang sunyi.
“Tenanglah… sekarang tidak akan ada lagi yang menyakitimu!” bisik Murray, memeluknya lebih erat, seakan takut kehilangan Ivy untuk kedua kalinya.
Setelah Ivy mulai sedikit tenang, Murray menggendongnya dan melangkah pelan menuju rumah. Udara malam yang dingin terasa lebih hangat di antara mereka. Ivy yang mengantuk perlahan tertidur di gendongan Murray, menempel di dadanya yang hangat. Detak jantung Murray bagai simfoni yang menenangkan Ivy.
Namun, tanpa Ivy sadari, Murray tidak dalam kondisi normal. Sorot matanya tajam, seperti hewan buas yang siap menerkam, dan asap hitam dari tubuhnya semakin pekat. Energi sihirnya meluap—mirip dengan warna sihir Ivy, namun jauh lebih besar dan dahsyat. Selama ini ia mampu mengendalikannya, tapi amarah dan kekhawatiran saat mengetahui istrinya dalam bahaya membuat energi itu tumpah begitu saja.
Pohon-pohon yang mereka lewati kering, hangus, dan mengeluarkan asap tipis akibat panas dari aura Murray. Meski begitu, Ivy aman dalam pelukan suaminya, tak tersentuh oleh kehancuran yang mengelilingi mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka akhirnya tiba di rumah. Ivy membuka matanya perlahan, wajahnya masih tertunduk di dada Murray. “Apa dia masih ada di sini?” tanyanya dengan suara pelan, hati-hati.
“Aku rasa dia sudah pergi,” jawab Murray, matanya masih waspada menatap hutan. Ia tidak yakin sepenuhnya, namun kemungkinan besar Lukas sudah melarikan diri setelah melihat betapa mengerikannya wujud Murray. Murray mengingat kembali kemarahan dan energi yang meledak di tubuhnya, yakin Lukas pasti ketakutan dan akan pergi ke desa untuk menyebarkan cerita yang dilebih-lebihkan. Lukas tidak akan berani mengaku kesalahannya sendiri, pria itu licik dan pasti mencari kesempatan untuk balas dendam.
“Syukurlah… aku tidak mau melihatnya lagi, Murray,” ucap Ivy lemah, wajahnya menempel di dada suaminya.
“Baiklah… bagaimana kalau kita pindah ke tempat lain?” ucap Murray, suaranya tenang tapi tegas, penuh perhatian pada Ivy yang kini mulai rileks dalam pelukannya.
Bagi Murray, pergi adalah opsi terbaik untuk saat ini. Pikiran tentang Lukas yang mungkin menghasut warga untuk menghakiminya membuat darahnya mendidih. Jika itu benar-benar terjadi, Murray tahu ia bisa mengalahkan mereka dengan mudah. Namun yang lebih penting, ia tidak ingin Ivy melihat sisi gelapnya. Istrinya pasti akan membenci dirinya jika ia sampai membunuh orang-orang yang tidak bersalah di hadapan mata polos Ivy.
“Ya, aku setuju,” ucap Ivy, suaranya terdengar lembut namun tegas. Murray tersenyum lega mendengar kata-kata itu, meski sedikit terkejut saat mendengar kelanjutan ucapan istrinya.
“Tapi… kita harus membawa rumah ini beserta isinya. Tidak mungkin kita pergi begitu saja, apalagi sebentar lagi musim dingin. Aku tidak mau kita mati membeku,” lanjut Ivy, matanya menatap Murray dengan serius.
“Bagaimana caranya memindahkan semua ini?” tanya Murray, alisnya berkerut, mencoba mencerna rencana itu.
“Menggunakan mantra teleportasi. Tapi mungkin energi sihirmu akan terkuras habis,” jawab Ivy, nadanya agak ragu namun penuh keyakinan.
“Baiklah, aku tidak masalah dengan ini,” ujar Murray, menatap mata istrinya. Matanya mulai melembut, melihat Ivy yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Pancaran kebahagiaan di wajah Ivy membuat amarah Murray perlahan surut.
Dengan suara gemetar, Ivy berkata, “Terima kasih, Murray.”
“Tidak… ini sudah sewajarnya aku lakukan,” jawab Murray, lalu dengan penuh kelembutan dan hati-hati, ia mengecup puncak kepala istrinya. Ivy menunduk, menempelkan pipinya ke dada suaminya, merasakan kehangatan yang menenangkan.
Di sisi lain, penduduk desa berjalan rapi di tengah malam, masing-masing membawa obor yang menyala redup, menebar cahaya hangat di jalan setapak. Mereka berjalan tergesa-gesa menuju pinggiran desa, wajah-wajah mereka terlihat tegang dan penasaran.
Di barisan itu, Xia menatap pemimpin rombongan—Lukas—dengan mata penuh kebencian. Hatinya bergolak karena ia tahu Lukas telah berbohong. Pria itu memimpin warga untuk menunjukkan “seorang penyihir,” yaitu McKellen. Lukas meyakinkan warga bahwa Murray adalah seorang penyihir berbahaya, tapi Xia tahu ini tidak benar.
“Aku tidak yakin jika Tuan McKellen seorang penyihir,” gumam seorang warga.
“Iya, ini pasti akal-akalan-nya untuk menghakimi McKellen. Pria itu pasti melawan saat istrinya digoda,” sahut warga lain, ragu.
“Ya, aku juga tidak percaya,” tambah seorang wanita, wajahnya menunjukkan kebingungan.
Sebagian besar warga tidak mempercayai Lukas, namun sebagian kecil mulai merasa ragu. Xia menatap Lukas dengan tajam, berpikir bahwa pria itu bertindak demikian karena malu gagal menggoda Ivy, atau ingin membalas dendam atas hinaan yang ia terima dari Murray.
Setelah berjalan beberapa menit di jalan setapak berdebu dan diterangi obor, mereka akhirnya sampai di lokasi rumah Murray dan Ivy. Namun yang mereka temukan hanya tanah kosong—rumah itu hilang tanpa jejak.
“R-rumahnya… tidak ada!” ucap seorang warga dengan suara bergetar, panik.
Nyonya Loren, yang juga berada di rombongan, menatap kosong ke arah tanah di mana rumah itu seharusnya berdiri. Tubuhnya kaku, mata terbelalak seakan hampir keluar dari rongganya.
“Bagaimana bisa rumahnya menghilang? Aku yakin tadi ada rumah di sini!” ucap Loren dengan suara gemetar, tangan gemetar menahan ketakutan dan keterkejutan.
Ya… Ivy dan Murray telah pergi dari tempat itu, membawa semua barang mereka. Yang tersisa hanyalah tanda tanya besar bagi semua warga desa. Tidak ada yang tahu ke mana mereka pergi, namun satu hal yang pasti—kepergian mereka membuat warga semakin yakin bahwa Murray adalah seorang penyihir.
Bersambung !
***
✨ Pesan Penulis ✨
Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
