BAB 73
Cagatay pun tersasar di waktu yang tidak ia inginkan, jauh di masa depan. Udara di sekelilingnya berbeda—lebih sejuk, namun asing, dengan langit kelabu yang terasa sunyi. Dilihat dari rentetan waktu, tahun di mana Cagatay berada tidaklah terlalu jauh dari masa sebelum ia menjelajahi waktu. Intinya, ia masih berada di negeri Semidio. Namun, keinginan untuk kembali menjelajahi waktu lagi tak dapat ia lakukan. Tenaganya habis, tubuhnya lemah, seolah setiap sendi menolak untuk bergerak.
Sembari mengumpulkan tenaga untuk menjelajahi waktu kembali, Cagatay memilih tinggal di Inggris. Negeri itu menyambutnya dengan suasana berbeda: kota-kota kecil dengan bangunan batu tua berlumut, jalanan berliku yang dihiasi lampu minyak, dan pasar yang riuh dipenuhi orang. Di sanalah ia mencoba memulai kehidupan barunya, berusaha hidup selayaknya manusia biasa tanpa meninggalkan jejak masa lalunya.
Suatu hari, takdir membawanya pada sebuah pertemuan yang tidak disangka. Di sebuah kota wisata dengan jembatan batu yang membelah sungai jernih, Cagatay melihat seorang wanita muda yang tengah sibuk membantu seorang pedagang tua. Senyumnya sederhana, namun menenangkan, membuat Cagatay tak mampu memalingkan pandangan. Wanita itu bernama Linda Hansen, dan dialah sosok yang pernah disebut oleh Ivy di masa lalu.
Linda bukanlah wanita bangsawan atau orang kaya, melainkan gadis sederhana yang bekerja keras demi keluarganya. Sifatnya yang hangat, tulus, dan pekerja keras membuat Cagatay semakin terpesona. Perlahan, ia mulai mendekati Linda, menaruh perasaan tulus yang lama tak pernah ia rasakan sejak ia meninggalkan tanah kelahirannya. Hingga akhirnya, cinta itu berbalas, dan keduanya memutuskan untuk menikah.
Meski begitu, jauh di dalam hatinya, Cagatay menyimpan kegelisahan. Ada kerinduan untuk kembali ke Semidio, setidaknya menemui ayahnya. Namun kenangan pahit dan kehidupan yang memuakkan di masa lalu membuatnya enggan kembali. Ia memilih tenggelam dalam kebahagiaan sederhana bersama Linda, membangun rumah tangga yang hangat, dan sesekali menulis buku sihir yang ia dedikasikan untuk putrinya kelak.
Lima tahun berlalu dalam kebahagiaan yang tenang. Di suatu malam musim dingin, tangisan bayi perempuan pecah, mengisi rumah kayu kecil yang mereka tinggali. Air mata haru membasahi wajah Cagatay ketika ia menggendong bayi mungil itu. Sesuai dengan takdir yang sudah pernah ia dengar, ia memberi nama putrinya Elsie Cotton Ulusoy, namun untuk memudahkan panggilan sehari-hari, ia menyematkan nama yang sederhana dan mudah diingat: Ivy.
Kehadiran Ivy mengisi kekosongan dalam hatinya, membuat hari-hari Cagatay dipenuhi warna baru. Ia merasa utuh, seolah dunia yang keras akhirnya memberi hadiah yang tak ternilai. Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung selamanya.
Pada suatu hari, ketika Cagatay sedang berjalan santai bersama putri kecilnya yang tertidur pulas dalam gendongannya, salju tipis turun membungkus jalanan kota Inggris. Udara dingin menusuk tulang, napasnya keluar dalam kepulan putih. Saat melewati sebuah taman, pandangannya terpaku pada seorang gadis yang tiba-tiba muncul di antara pepohonan. Gadis itu tampak aneh: mengenakan seragam sekolah khas musim gugur yang jelas tidak sesuai dengan musim dingin yang membekukan. Pakaiannya lusuh, kotor, dan wajahnya terlihat kebingungan, seakan-akan ia datang dari tempat yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya.
Cagatay memperhatikannya cukup lama, hingga hatinya bergetar. Raut wajah gadis itu… mirip sekali dengan bayi mungil yang ada di gendongannya. Matanya melebar, pikirannya kacau—apakah mungkin gadis itu adalah putrinya dari masa depan?
Ia mencoba menepis pikirannya, berusaha meyakinkan diri bahwa itu hanya halusinasi. Namun tatapan sang gadis membuatnya ragu. Tatapan itu aneh, penuh keterkejutan sekaligus rasa ingin tahu. Perasaan Cagatay makin tidak tenang. Ia segera melangkah pergi, pura-pura tak peduli, tapi diam-diam ia ingin tahu apakah gadis itu akan mengikutinya.
Benar saja, langkah kaki ringan terdengar dari belakang. Ia berjalan lebih jauh melewati jalan bersalju yang sepi, dan saat memberanikan diri menoleh—gadis itu lenyap begitu saja, seakan tertelan udara dingin.
Cagatay terdiam sejenak, hatinya bergemuruh. Ia menduga putrinya di masa depan mungkin belum mampu mengendalikan kekuatannya, atau mungkin mantranya salah hingga tubuhnya terlempar ke waktu yang tak menentu. Namun, demi ketenangan istrinya dan bayi kecilnya, ia memilih mengabaikan peristiwa itu, berusaha menjalani hari-harinya seperti biasa.
Beberapa minggu kemudian, di sebuah sore ketika langit Inggris merona jingga dibalut cahaya senja, ketenangan itu terusik lagi. Dari jendela rumahnya, Cagatay melihat sosok seorang gadis berdiri di depan pagar. Wajahnya jelas, tatapannya tajam namun lembut. Ia tampak lebih dewasa, matang, dan begitu familiar di matanya. Hatinya bergetar hebat, nafasnya tercekat. Ia tak perlu bertanya lagi—gadis itu adalah putrinya dari masa depan.
Pertemuan itu seharusnya penuh bahagia, namun tidak. Gadis itu datang dengan kabar berat. Ia menyerahkan selembar surat, berisi rentetan tanggal dan kejadian penting yang akan mewarnai hidup Ivy. Wajah Cagatay menegang, matanya bergerak cepat membaca setiap baris, sementara tangannya gemetar. Semakin ia pahami, semakin hatinya tercekik. Bahkan di sana tertulis kapan anaknya akan meninggal.
Gadis itu tidak memaksa. Ia hanya meninggalkan kertas itu lalu pergi, memberikan kebebasan bagi Cagatay untuk memilih: tetap tinggal bersama keluarganya atau melakukan perjalanan ke waktu yang disebutkan dalam surat itu. Namun, jauh di lubuk hatinya, Cagatay tahu—jika ia tidak pergi, sejarah akan berubah. Dan perubahan itu bisa menghancurkan lebih banyak hal.
Setelah pertimbangan panjang, dengan hati berat, Cagatay mengambil keputusan. Ia akan pergi. Tapi sebelum itu, ia harus melakukan sesuatu yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Dengan mantra khusus, ia menghapus ingatan Linda dan Ivy tentang dirinya. Senyuman mereka, tawa mereka, semua terhapus begitu saja, seolah ia tak pernah ada dalam hidup mereka. Ia bahkan menyingkirkan seluruh barang miliknya, meninggalkan rumah itu kosong dari jejaknya.
Cagatay berdiri lama di ambang pintu rumahnya yang remang diterpa cahaya bulan. Air matanya jatuh, namun ia tidak menghapusnya. “Maafkan aku,” bisiknya pada malam, pada keluarganya yang kini tidak lagi mengenalnya.
Semua itu ia lakukan demi melindungi mereka. Ia tahu, jika ada seseorang yang mengetahui dirinya menguasai mantra penjelajahan waktu—sihir hitam yang berbahaya—keluarganya bisa menjadi korban. Lebih baik ia menghilang, meski itu berarti menanggung rasa sakit seumur hidup.
Dengan langkah berat, Cagatay memulai perjalanan panjangnya ke waktu yang tertulis di surat Ivy. Sama seperti sebelumnya, mantra penjelajahan waktu tidak selalu membawanya tepat ke tujuan. Kadang ia tersesat di tahun berbeda, kadang ia harus menunggu hingga enam bulan lamanya untuk memulihkan energi sebelum mencoba lagi. Setiap kali ia mengucapkan mantra itu, tubuhnya melemah, wajahnya pucat, dan jiwanya seolah terkuras habis.
Namun ia tetap bertahan. Karena baginya, waktu berjalan sebagaimana mestinya. Dan kali ini, ia harus memastikan takdir Ivy berjalan sebagaimana yang seharusnya.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
