BAB 29
Elena berniat menjauh dari Ivy, namun tangan Ivy dengan cepat menahan pergelangan Elena. Suaranya berbisik dingin, menusuk ke telinga Elena:
"Mengerikan, bukan? Dulu aku juga seperti ini saat membuka paket ini. Kali ini, aku akan mencari siapa yang mengirimnya, lalu membuatnya merasakan hal yang sama dengan boneka ini…"
Ivy menekankan kata terakhirnya dengan dingin, menambahkan satu kata yang membuat darah Elena seakan membeku: "Pembunuh!"
Ucapannya membuat Elena melemah, tubuhnya hampir jatuh tersungkur. Namun, beberapa pelayan yang kebetulan berada di lorong segera merangkulnya, menahan tubuh Elena yang rapuh itu.
"Apa yang terjadi?" tanya salah satu pelayan dengan cemas, matanya menatap tajam ke arah Ivy.
"Aku tidak tahu, dia mendadak menjadi aneh setelah melihat isi paket," jawab Ivy tenang, matanya tetap menatap Elena.
Pelayan itu menoleh ke sekeliling dan terkejut saat melihat pecahan kaca yang berserakan di lantai serta boneka Barbie tanpa kepala yang mengerikan. Udara di apartemen itu terasa tegang, seolah setiap detik menunggu sesuatu yang lebih buruk.
"Ka… kau siapa?!" suara Elena gemetar di tengah kepanikan, matanya menatap tajam Ivy.
"Bagaimana kau bisa masuk?" pelayan lain bertanya, menatap Ivy dengan curiga.
Ivy menatap mereka dengan dingin, suaranya rendah namun jelas: "Tenang. Aku tidak berniat jahat pada Elena. Aku kan sahabatnya. Apa kalian tidak ingat wajahku? Aku pernah beberapa kali ke sini."
"Pergi sekarang, atau ku panggil polisi!" ancam pelayan itu, mencoba menegakkan kewibawaannya.
Ivy menarik napas panjang, menghela emosi yang membara di dalam dadanya, lalu melangkah pergi. Bukan karena takut, tapi ia tidak ingin repot menghadapi polisi yang hanya akan menghambat jalannya. Elena hanya bisa menatap kepergian Ivy dengan wajah pucat dan tubuh yang gemetar hebat, matanya penuh campuran rasa takut, bingung, dan sedikit penyesalan.
Malam itu, Ivy duduk sendiri di sebuah taman sepi. Lampu jalan yang berjarak cukup jauh membuat suasana menjadi temaram, bayangan pohon-pohon menari diterpa angin malam yang dingin. Langit di atasnya gelap gulita, tanpa bulan dan bintang. Suasana hening, hanya suara dedaunan yang bergerak pelan menemani kesendiriannya.
Ivy menundukkan pandangan, menatap kedua telapak tangannya. Suaranya lirih, seolah berbicara pada dirinya sendiri:
"Aku sudah tahu siapa pelakunya… tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa."
Rasa sedih menyesakkan dada Ivy. Ia tahu siapa pembunuh Jessica, namun fakta itu terasa tak berguna. Kasus Jessica sudah ditutup, dan jika ia mencoba membukanya kembali, apakah ada peluang untuk membuktikan semuanya? Bukti nyaris tak ada, dan semua saksi bisa saja telah disuap oleh keluarga Emeli yang kaya raya.
Selain itu, keluarga Jessica kini sulit ditemui. Mereka menjadi tertutup, memilih pindah ke luar kota. Ivy berpikir mereka mungkin ingin mencari ketenangan, atau mencoba melupakan tragedi mengerikan yang menimpa Jessica. Namun semakin ia memikirkannya, spekulasi lain muncul: mungkin keluarga Jessica telah menerima kompensasi atau bahkan diancam. Semua kemungkinan itu terasa nyata, terutama melihat pengaruh besar keluarga Emeli yang merentang ke seluruh Eropa.
Ivy mendesah kasar, udara malam yang dingin menusuk tulang sambil ia memutuskan untuk berhenti memikirkan semua masalah itu. Memikirkan Rouni dan kekacauan hari ini hanya akan membuat hatinya semakin sakit. Namun masalah baru muncul: ia bingung harus bermalam di mana. Pulang ke rumah bukan pilihan, mengingat insiden dengan Rouni tadi sore. Rasa takutnya—meski samar—membuatnya yakin pria itu bisa saja melaporkannya ke polisi. Ibunya mungkin akan mempercayai Rouni, jadi untuk sementara, rumah bukanlah tempat aman.
"Pria bejat seperti dia pantas menerima hal ini!" gumam Ivy dalam hati, rahangnya mengeras, matanya menatap gelap ke jalanan kosong di depannya.
Sambil berjalan perlahan, Ivy terus berpikir ke mana ia bisa menginap malam itu. Tanpa sengaja, matanya tertumbuk pada hotel bintang lima di seberang jalan, tepat di pinggir taman. Gedung itu megah, lampu-lampu kuning hangat menerangi fasadnya, dan terlihat ramai meski malam telah larut. Sebuah ide muncul di kepala Ivy—ia bisa tidur di sana, menggunakan sihirnya untuk membuat para pegawai hotel tunduk dan tidak curiga.
Senyum tipis merekah di bibir Ivy. Ia tak pernah membayangkan akan menginap di hotel semewah itu; bahkan berani membayangkannya saja terasa mustahil. Namun dengan kekuatannya, semua yang mustahil bisa menjadi nyata. Bukankah impian Ivy sebenarnya sederhana? Namun ironisnya, hal sederhana itu terasa begitu sulit untuk dimiliki.
Dengan semangat baru, Ivy mulai menyeberang jalan menuju hotel, menunggu sejenak hingga lalu lintas sepi. Saat ia berdiri menunggu di tepi trotoar, suara notifikasi dari ponselnya memecah kesunyian. Ivy menoleh cepat dan melihat layar—pesan dari Brayen.
Ia membuka pesan itu dengan jantung berdebar. Pesan itu sederhana, hanya menanyakan kabarnya sekarang. Namun hal itu membuat hati Ivy tersentuh sekaligus merasa bersalah. Ia ingin tahu bagaimana ia terlihat di mata Brayen, ingin memahami apa yang dia pikirkan tentang dirinya. Di balik rasa penasaran itu, kerinduan Ivy menguasai dirinya. Ia ingin memeluk Brayen, mencium bibirnya, meski sadar pria itu mungkin sudah memiliki kekasih.
"Apakah aku sekotor itu?" gumam Ivy, matanya menatap layar ponsel seolah mencari jawaban.
Ia menyadari, pikiran-pikirannya terasa kotor. Banyak hal yang ia lakukan—menggunakan sihir untuk menyakiti orang lain, memata-matai rahasia mereka, bahkan melakukan hal-hal di luar nalar—semuanya membuatnya merasa bersalah dan kotor. Tapi alih-alih menyesal, ia malah berpikir untuk melangkah lebih jauh, daripada hanya setengah-setengah.
"Aku sudah kotor… kenapa tidak sekalian jatuh saja? Tidak masalah dipenuhi lumpur," bisiknya, suara lembutnya tertelan oleh hembusan angin malam Manchester yang dingin.
"Aku… apakah aku bisa jadi selingkuhan? Tapi… apakah dia mau menerima kekasih buruk rupa seperti aku?" lanjut Ivy, matanya menatap pesan dari Brayen dengan perasaan campur aduk antara rindu, penyesalan, dan keputusasaan.
Sebenarnya, Ivy sadar peluang untuk mendapatkan Brayen kembali sangat tipis. Wajahnya yang sudah rusak, serta reputasinya sendiri, menjadi penghalang besar. Namun keinginannya untuk mencoba mendekati Brayen begitu kuat, meski hanya untuk sesaat, meski hanya untuk merasakan hangatnya kedekatan yang dulu pernah mereka miliki.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
عاطفية"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
