BAB 39
Di dalam mobil sedan putih, Danil menoleh ke belakang. Pandangannya terarah pada hutan yang perlahan menghilang di balik kabut malam Manchester. Pohon-pohon besar menjulang, rantingnya merangkul udara seakan tangan kurus yang hendak meraih mereka. "Apa kalian mendengar suara itu?" bisiknya dengan nada serak, matanya melebar, penuh kecemasan yang sulit dijelaskan.
"Suara apa maksudmu?" tanya temannya yang duduk di samping. Suaranya gemetar, lebih mirip bisikan daripada ucapan, nyaris tenggelam oleh deru mesin dan bunyi roda yang melibas jalanan basah.
Danil membuka mulut, hendak menjawab, namun tiba-tiba dunia seakan runtuh. Mobil yang mereka tumpangi mendadak mengeram keras, seperti ada kekuatan gaib yang mencengkeram rangkanya dari segala arah. Setir bergetar liar di tangan pengemudi, tubuh mereka terasa ringan-seperti melayang dari kursi. Lampu kabin berkedip-kedip, menebarkan cahaya putih pucat yang membuat bayangan wajah mereka terlihat seperti topeng mayat.
Dalam sekejap, sedan itu oleng ke samping lalu terguling. Kaca depan meledak dengan suara memekakkan telinga, serpihannya melesat seperti ribuan pisau kecil, menggores kulit dan wajah. Tubuh mereka terhempas ke dinding kabin, menghantam pintu, langit-langit, dan jendela yang kini tak lagi utuh.
Jeritan histeris memenuhi kabin, bercampur dengan suara logam yang remuk, dentuman keras, dan raungan ban yang terputus-putus. Setiap kali mobil berguling, darah muncrat dari luka-luka terbuka, menodai kursi dan kaca yang patah. Aroma besi yang menusuk mulai memenuhi udara sempit di dalam mobil, membuat napas mereka semakin tercekik.
Danil meraih setir dengan putus asa, jari-jarinya berlumuran darah, tapi genggamannya terlepas. Tubuhnya terlempar ke udara, lalu menghantam keras sisi pintu, tulangnya terasa retak. Ia menjerit, tapi suara itu tenggelam dalam kekacauan yang memekakkan.
Mobil itu berguling sekali lagi, lalu berhenti mendadak di sisi jalan yang becek, terbalik seperti bangkai binatang besar yang baru saja diburu. Mesin masih berderak-derak, mengeluarkan suara serak dan bau bensin yang tajam. Di dalam kabin, tubuh-tubuh mereka terkulai tak berdaya, sebagian terjepit logam, sebagian lain tergeletak dengan wajah berlumuran darah dan mata terbuka membatu.
Hutan di sekitar mereka kembali diam. Kabut merayap turun, menelan bangkai mobil dan menutupi tanah yang becek dengan selimut putih dingin. Angin bertiup lirih, membawa suara ranting yang patah, seperti bisikan samar yang datang dari kegelapan. Seolah-olah hutan itu sendiri sedang menyaksikan tragedi ini, menelan jeritan dan penderitaan mereka ke dalam perutnya yang gelap.
Di kejauhan, di antara kabut, ada bayangan samar seorang gadis berdiri. Senyumnya yang lebar tampak tidak wajar, menyalakan kesan kegilaan di tengah keheningan yang mencekam. Malam Manchester terasa semakin dingin, seakan udara itu sendiri dipenuhi arwah yang haus darah.
Gadis itu adalah Ivy. Senyumnya sumringah-senyum yang tak lagi manusiawi, lebih mirip lengkungan bibir seorang psikopat yang puas melihat penderitaan orang lain. Namun senyum itu hanya bertahan sebentar sebelum tubuhnya limbung. Ivy terjatuh ke tanah, tidak sadarkan diri, tergeletak bagai boneka yang dibuang.
Dari balik pepohonan, suara langkah pelan terdengar. Seorang gadis lain muncul, wajahnya serupa dengan Ivy, namun tatapannya lebih dingin, penuh ketenangan mematikan. Dialah Ivy dari masa depan. Ia menatap mobil putih yang kini terbalik di tengah jalan, asap tipis mengepul dari kap mesin, kaca pecah berhamburan, dan suara retakan besi masih bergema.
Saat matanya jatuh pada dirinya sendiri yang terbaring di tanah, Ivy dari masa depan bergumam lirih, suaranya datar namun mengandung nada ngeri,
"Jadi... akulah yang sudah membunuh mereka."
Ia menunduk, memperhatikan seragam sekolah yang ternoda darah dan sobekan kain yang menempel di tanah. Itu seragam yang ia kenakan saat malam kelam itu terjadi-malam ketika tubuhnya dipermalukan. Pandangannya membeku. Tanpa ragu, ia mengangkat tangannya. Api biru gelap menyala dari telapak tangannya, menjilat kain seragam itu hingga terbakar habis. Bau hangus menyengat menusuk udara malam, bercampur aroma tanah lembap dan darah.
Selesai dengan seragam itu, pandangan Ivy bergeser ke arah rumah yang berdiri tak jauh di belakangnya. Bangunan tua bercat pucat itu berdiri angkuh, namun kaca jendela kamarnya memantulkan bayangan dirinya. Ivy memandangnya lama, dan kenangan beberapa jam lalu menampar pikirannya.
Ia menghela napas panjang, lalu berbisik pada dirinya sendiri,
"Semua harus dihapus. Tidak boleh ada jejak yang tersisa."
Dengan tenang, ia menghancurkan ponsel milik para pemuda itu, menghapus setiap sidik jari, bahkan mencabut helai rambutnya yang tercecer. Semua bukti yang dapat menjerat dirinya hilang tanpa sisa, dilenyapkan oleh sihirnya.
Setelah memastikan semuanya bersih, Ivy dari masa depan mendekati tubuh Ivy yang masih tak sadarkan diri. Tangan dinginnya menyentuh dahi gadis itu. Dalam sekejap, mereka berdua menghilang, ditelan cahaya samar teleportasi. Ruang di sekelilingnya bergetar, udara menderu, lalu keduanya lenyap dari jalanan yang sunyi itu.
Teleportasi selalu menuntut energi besar, dan Ivy mengetahuinya. Sesampainya di kamar, ia segera membersihkan luka-luka di tubuh Ivy yang lebih muda, mengganti bajunya, dan akhirnya... menghapus ingatan mengerikan itu dari kepalanya. Semua-rasa sakit, rasa takut, dan suara tawa pria-pria itu-dihapus tanpa sisa.
Awalnya, Ivy dari masa depan tidak pernah berniat ikut campur. Ia hanya ingin menyaksikan, ingin tahu seberapa besar kengerian yang pernah ia alami. Namun menyaksikan dirinya sendiri diperlakukan seperti itu, tanpa daya, membuat hatinya teriris. Ia ingin menolong, tapi tubuhnya membeku. Sihirnya tak bisa ia kendalikan, rasa takut melumpuhkan kekuatannya. Hingga akhirnya, hanya amarah yang tersisa, amarah yang membawanya ke titik ini-menghapus, menghancurkan, membakar, sampai tidak ada yang tersisa.
Ivy kembali mengalihkan perhatiannya pada kaca jendela. Pantulan bayangan dirinya di sana membuat dadanya tercekat. Rambutnya kini sebagian telah memutih-mirip uban, tetapi jauh lebih aneh, karena memutih dengan cara yang tidak wajar. Wajahnya tampak pucat diterpa cahaya bulan dari balik jendela, menambah kesan rapuh. Saat itu, Ivy menyadari sesuatu: setiap kali ia mengeluarkan terlalu banyak sihir, tubuhnya akan melemah, dan tanda paling mencolok adalah rambutnya yang berubah menjadi putih kusam. Namun, begitu energi dalam tubuhnya kembali stabil, warna hitam alami itu perlahan muncul lagi.
Suasana kamar sunyi, hanya suara detak jarum jam dan desir angin malam dari luar. Ivy mengusap helaian rambutnya, matanya menyipit penuh keresahan. Ia tahu ada harga yang harus dibayar, tetapi bagian dari dirinya menolak untuk menyerah.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
