58.

60 3 0
                                        

BAB 58

Mendengar hal itu, Ivy hanya mengangguk lemah, wajahnya datar namun sorot matanya menyiratkan kelelahan yang ia tahan. Mereka pun mulai berjalan keluar dari aula besar itu. Udara koridor yang lebih sejuk dibanding ruang makan membuat napas Ivy sedikit lega, meski langkah kakinya terasa berat.

Selama perjalanan, banyak siswa menyapa Elsie Cotton. Ada yang melambaikan tangan sambil tersenyum, ada pula yang dengan bersemangat menghampiri untuk sekadar berbicara dengannya. Ivy memperhatikan dari samping, sesekali berhenti karena Elsie Cotton harus meladeni percakapan singkat mereka. Dari cara siswa-siswa itu memandang, jelas sekali Elsie Cotton sangat populer di sekolah ini—baik di kalangan laki-laki maupun perempuan.

Ivy tidak merasa iri, hanya sedikit terganggu. Ia menginginkan tur ini cepat selesai agar ia bisa beristirahat. Kelelahan hari ini masih menempel di tubuhnya, ditambah rasa canggung yang muncul setiap kali ia berada di keramaian. Beberapa kali ia ingin mengutarakan pikirannya, tetapi setiap kali menatap Elsie Cotton yang tetap ramah pada semua orang, niatnya menguap begitu saja. Akhirnya, ia hanya menahan diri, menyembunyikan keluhan di balik senyum tipis.

Beberapa menit kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan yang begitu megah dan luas. Ivy spontan terdiam, matanya membesar. Di hadapannya berdiri sebuah perpustakaan raksasa. Deretan rak buku yang menjulang tinggi memenuhi ruangan, tersusun rapi dan tampak tak ada habisnya. Yang membuat Ivy terkesima adalah desain bangunannya—ruangan itu bertingkat, dengan bagian tengah yang terbuka sehingga seseorang bisa melihat lantai atas maupun bawah dari posisi mana pun. Seolah-olah perpustakaan itu adalah jurang pengetahuan yang tak berujung.

Namun, sesuatu yang aneh membuat Ivy mengernyit. Tidak ada tangga, tidak ada lift, bahkan tidak ada jalan penghubung yang jelas. Ia hanya bisa melihat para siswa dan guru mengangkat tongkat sihir mereka, lalu tubuh mereka melayang begitu saja menuju lantai yang dituju. Semakin tinggi lantainya, semakin sepi pengunjungnya, seakan hanya orang-orang tertentu saja yang berani menjelajahinya.

“Ini adalah perpustakaan,” jelas Elsie Cotton dengan suara bersemangat, senyumnya begitu bangga. “Di dalamnya ada triliunan buku dari seluruh dunia—mulai dari kitab kuno hingga buku terbaru yang bahkan belum lama dirilis di toko. Kami menjamin, ini adalah perpustakaan terlengkap di dunia.”

Ivy terpaku. Ada rasa kagum, sekaligus bingung yang mengaduk-aduk pikirannya. “Itu… luar biasa. Tapi siapa yang bisa membaca sebanyak itu? Dan bagaimana mereka bisa mengumpulkannya?” batinnya. Rasa takjub dan curiga saling bertabrakan di dadanya.

Setelah cukup lama berada di perpustakaan, Elsie Cotton kembali mengajaknya berkeliling. Kali ini mereka masuk ke sebuah ruangan yang langsung membuat bulu kuduk Ivy berdiri.

Ruangan itu menyerupai laboratorium, tetapi jauh lebih aneh dan asing. Rak-rak kaca dipenuhi toples berisi binatang-binatang kecil yang belum pernah Ivy lihat sebelumnya. Ada yang bersisik seperti ular namun bersayap, ada juga yang tubuhnya transparan sehingga organ-organnya terlihat jelas. Di meja panjang, tabung-tabung kaca berisi cairan hijau memancarkan cahaya redup—anehnya cairan itu harum, bertolak belakang dengan penampilannya yang menyeramkan. Di sudut ruangan, tanaman berduri bergerak pelan, seolah hidup dan memiliki kesadaran.

Ivy menelan ludah, merasakan geli yang merayapi kulitnya. Meski ruangan itu mengerikan, anehnya ia tidak takut. Rasa ingin tahunya lebih kuat, bercampur dengan sedikit rasa risih setiap kali matanya bertemu dengan makhluk aneh di dalam toples.

“Ini adalah ruang belajar Tuan Nona Vivian,” ujar Elsie Cotton sambil menoleh pada Ivy.

“Nona… Vivian?” Ivy terkejut, alisnya terangkat tinggi. Nama itu begitu familiar, seolah mengikuti dirinya ke mana pun ia pergi.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang