Bab 77
"Kau tidak boleh menggunakan sihir sembarangan di sini! Kalau sampai ketahuan, kau bisa mendapat masalah besar!" seruku refleks.
Begitu kata-kata itu lolos dari bibirku, aku langsung menutup mulut rapat-rapat. Nafasku tercekat, jantungku berdegup kencang. Namun semuanya sudah terlambat—aku tahu sosok itu sudah menyadari keberadaanku.
Untuk sesaat, hening menyelimuti taman itu. Angin musim dingin berembus pelan, menggoyangkan ranting-ranting pohon yang kering. Daun-daun cokelat yang tersisa di cabang pun jatuh, melayang sebelum akhirnya menyentuh tanah beku. Sosok itu berdiri tak jauh dariku, diam menatap—atau setidaknya aku merasa dia menatap.
Hening itu akhirnya pecah saat suara lembut terdengar. Suara itu indah, bening, tapi sekaligus mengandung nada ragu.
"Kau… bicara padaku?" tanyanya.
Dari suaranya, aku yakin dia seorang gadis muda. Mungkin beberapa tahun lebih tua dariku. Nada bicaranya terdengar agak bingung—mungkin terkejut karena aku bisa mengetahui aksinya barusan, atau mungkin kaget karena keberadaannya tidak luput dari perhatianku. Entah bagaimana, nada itu membuatku sedikit lega. Rasa takut di dadaku mereda, berganti dengan keberanian kecil yang muncul begitu saja.
"Tentu saja," jawabku, mencoba tegas sambil mengangguk pelan. Setelah itu, aku buru-buru mengenakan kacamata aneh dengan lensa tebal yang diberikan oleh orang tuaku.
Gadis itu memperhatikan gerak-gerikku, lalu bertanya dengan nada penasaran.
"Kacamata apa yang kau gunakan? Kenapa bentuknya begitu aneh?"
"Ini untuk melindungi mataku," jawabku singkat.
"Memangnya, matamu kenapa?" tanyanya lagi.
"Aku buta. Ayah memintaku memakainya. Katanya agar mataku tidak semakin rusak akibat cahaya matahari," jelas ku dengan nada datar, berusaha terdengar tenang meski ada sedikit getir di hati.
Gadis itu terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar ringan namun aneh, seolah ia tidak benar-benar serius dengan ucapannya.
"Kacamata itu keren. Kau malah terlihat tampan saat memakainya."
Aku tersenyum kecil, meski aku tahu ia tidak sungguh-sungguh. "Ah, terima kasih," sahutku sekadar sopan.
Lalu ia mencondongkan tubuh sedikit, suaranya kini terdengar penuh rasa ingin tahu.
"Dan… kalau kau tidak bisa melihat, tahu dari mana kalau aku baru saja menggunakan sihir?"
Aku mengangkat dagu, mencoba terdengar bangga. "Aku bisa merasakan energi sihirmu bekerja."
Sejenak, aku menatap aura yang mengelilinginya—pekat, kuat, dan berbeda dari yang pernah kulihat sebelumnya. "Kau punya energi sihir yang luar biasa untuk usiamu," pujiku, meski tak bisa menyembunyikan sedikit nada ngeri yang menyelinap di suaraku.
"Terima kasih atas pujiannya, tuan kecil," balas gadis itu lembut. Nada bicaranya kini lebih hangat, berbeda dari sebelumnya yang terkesan kasar. Aku bisa merasakan ada sesuatu dalam dirinya—mungkin beban atau masalah yang membuat emosinya naik turun.
"Tapi… apa kau juga seorang penyihir?" tanyanya kemudian.
Aku menunduk sebentar sebelum menjawab. "Mungkin. Semua keluargaku penyihir, jadi mungkin aku juga akan menjadi seperti mereka." Jawabanku terdengar ragu.
Kenangan pahit itu menyeruak lagi. Orang tuaku penyihir hebat, tapi aku? Sampai usia tujuh tahun, aku bahkan belum bisa menguasai satu pun sihir dasar. Anak-anak lain di seusiaku sudah bisa memunculkan api kecil atau menggerakkan benda, sementara aku hanya bisa merasakan aura. Setiap kali melihat tatapan kecewa kedua orang tuaku, aku merasa mereka malu memiliki anak sepertiku—meski mereka tidak pernah mengatakannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
