48.

62 2 0
                                        

BAB 48 




“Aku tak ingin mendengar kata maaf! Aku hanya ingin kau senang!” kata Brayen tegas, suara dan ekspresinya memancarkan kesungguhan. Ia meraih tangan Ivy, menatap matanya, dan tersenyum lembut. “Ayo, kita buat liburan ini tak terlupakan.”

Ivy menatap Brayen, sedikit tersenyum meski mata masih berkaca-kaca. Perasaan campur aduk membuncah—rindu, lega, dan haru, semua bercampur saat mereka melanjutkan jalan di bawah langit sore Bristol yang indah.

Ivy yang melihat tingkah konyol kekasihnya akhirnya tersenyum juga, meski perlahan. Brayen langsung berseri-seri. “Nah itu! Pacarku sangat cantik saat tersenyum!” serunya penuh semangat.

Ivy tertawa kecil mendengar kata-kata Brayen. Rasanya aneh, tapi menyenangkan. Ia merasa ada sedikit rasa malu karena Brayen masih memperlakukan mereka seperti sepasang kekasih, meski sebenarnya mereka pernah putus. Atau mungkin, Brayen tak pernah benar-benar menganggap mereka berpisah.

“Kau ini!” ujar Ivy sambil menepuk lengan Brayen, setengah kesal tapi tetap tersenyum.

Brayen mengandeng tangan Ivy, dan mereka mulai berjalan beriringan di trotoar kota Bristol. Namun, perasaan nyaman Ivy seketika terganggu. Ia merasa ada sesuatu yang tidak biasa. Beberapa orang di sekitarnya menatap mereka dengan cara yang aneh. Begitu Ivy menatap balik, pandangan mereka segera mengalihkan, namun gerak-gerik itu membuatnya gelisah.

“Kenapa aku merasa sedang diawasi?” gumam Ivy dalam hati, rasa takut mulai muncul di dadanya.

Ia ingin memanfaatkan mantra sihirnya untuk membaca pikiran orang-orang itu, namun sebelum sempat melakukan itu, Brayen menepuk lengannya dan berkata, “Ayo, kita makan di restoran ini,” sambil menunjuk restoran kecil yang hangat dan ramah. Ivy mengangguk dan ikut masuk, mencoba menenangkan diri.

Di dalam restoran, Ivy dan Brayen duduk berhadapan dan memesan makan. Suasana hangat di dalam restoran, aroma masakan dan tawa pengunjung membuat Ivy sedikit lega. Perlahan, ia melupakan orang-orang yang mencurigakan tadi. Fokusnya sepenuhnya tertuju pada Brayen, yang membuatnya merasa aman. Bahkan, ia seakan melupakan janjinya dengan Cagatay yang sempat menghantui pikirannya.

Beberapa menit kemudian, mereka selesai makan dan kembali berjalan di jalanan Bristol yang mulai sepi. Tiba-tiba, perasaan tidak nyaman Ivy muncul kembali. Sekarang suasana lebih sunyi dari sebelumnya, padahal beberapa menit lalu jalanan dipenuhi turis dan pejalan kaki. Ia merasa mereka sedang diikuti.

Ivy menoleh melalui kaca jendela pertokoan di samping mereka dan melihat beberapa orang berdiri dengan sikap mencurigakan, seolah mengawasi langkah mereka. Rasa takut kembali menggigit hatinya. Dengan cepat, Ivy menggenggam tangan Brayen lebih erat dan menempel di sisi tubuhnya, mencari perlindungan.

Brayen menatap Ivy dengan heran. “Ada apa?”

“Ada yang mengikuti kita,” jawab Ivy, suaranya pelan tapi tegas.

“Siapa?” tanya Brayen, matanya mulai menelisik ke arah sekeliling.

Ivy hanya menjawab dengan isyarat tangan, menunjuk ke belakang mereka. Brayen menoleh, menatap sekelompok orang yang tampak tidak biasa. “Mereka yang di sana belakang?” tanyanya.

“Iya. Aku merasa mereka bukan orang baik,” jawab Ivy, wajahnya masih menunjukkan kecemasan.

“Jadi, apa kau ingin aku memukul mereka?” tanya Brayen, nadanya masih terdengar santai, seolah menertawakan ketegangan di sekeliling mereka.

Ivy menelan ludah, hatinya berdebar kencang. Orang-orang yang mengikuti mereka bukanlah orang biasa. Ia tahu itu. Sedangkan Brayen, meski berotot dan besar, tidak ahli dalam berkelahi. Hatinya yang lembut membuatnya sulit menghadapi kekerasan. Kekhawatiran itu membuat Ivy cemas.

“Ah, itu bagus, tapi sangat konyol. Kita akan masuk penjara kalau sampai memukul mereka,” jawab Ivy cepat, mencoba menahan paniknya sekaligus melindungi Brayen.

“Kalau begitu, aku harus apa?” Brayen menatap Ivy, ragu tapi menunggu arahan.

“Lari. Bagaimana kalau kita lari saja?” usul Ivy, nadanya cepat dan tegas.

Brayen mengangguk, sedikit tersenyum sambil berkata, “Itu bukan ide yang buruk. Bagilah, hitungan ketiga, oke?”

Mereka berdua menyiapkan diri. Brayen mulai menghitung perlahan. “Satu… dua… tiga!”

Seketika, mereka berlari secepat mungkin. Dan benar saja, sekelompok orang misterius itu ikut mengejar. Jalanan sore itu menjadi kacau; orang-orang yang biasanya lalu lalang kini berlari mengintai, membuat Ivy dan Brayen harus menyeimbangkan kecepatan dan hati-hati agar tidak menabrak orang lain.

Ivy dan Brayen mempercepat langkah mereka. Namun, tepat di depan mereka muncul beberapa orang lain, seolah menghadang jalan. Dalam kekacauan itu, mereka terpisah; Ivy berbelok ke lorong kiri yang sempit, sementara Brayen menanjak ke jalan menurun di sebelah kanan.

Ivy menahan amarahnya. Hatinya panas karena kekasihnya tak bersamanya saat itu. Kekesalan itu bertambah ketika seorang pengejar muncul di depannya. Tanpa berpikir panjang, Ivy menggunakan sihirnya. Sebuah dorongan energi membuat orang itu terlempar jauh dan menabrak tembok dengan keras. Ia tampak tak berdaya, tapi Ivy tidak peduli; rasa simpatinya seolah hilang sementara demi melindungi dirinya dan Brayen.

Ivy terus berlari, matanya waspada menelusuri setiap sudut lorong untuk mencari Brayen. Namun tiba-tiba, hatinya mencelos. Di ujung lorong, ia melihat Brayen disandera oleh salah satu orang misterius itu. Brayen tampak tidak sadarkan diri, darah segar menetes di keningnya, mulutnya dibekap, tubuhnya terhuyung.

“Kau mau apa?!” teriak Ivy dengan mata menyala penuh amarah, suaranya menggema di lorong sempit.

Kemarahan itu bukan sekadar karena Brayen terluka. Bagi Ivy, Brayen bukan hanya kekasihnya—ia adalah rumah, tempatnya merasa aman dan berbagi kebahagiaan. Melihat tubuh Brayen terkulai di tangan musuh membuat darahnya mendidih, dan tekadnya membara.

Bersambung ! 

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang