BAB 20
"Ya, aku tahu," ucap Bob singkat, suaranya terdengar datar.
Bob pun memberitahu Ivy lokasi rumah yang ia tanyakan. Ivy tidak lupa menanyakan akun media sosial Zafar dan segala informasi yang berkaitan dengannya. Rasa penasarannya terlalu besar untuk dibiarkan menggantung. Saat itu, Ivy juga bertanya apa hubungan Bob dan Zafar—karena dari cara mereka berbicara, jelas terlihat ada kedekatan di antara keduanya. Bob menjawab tanpa banyak pikir, bahwa ia dan Zafar adalah teman lama.
Dari percakapan itu, Ivy mengetahui satu hal yang membuat alisnya sedikit terangkat—Zafar mendadak menjadi kaya setelah berhenti dari pekerjaannya. Menurut Bob, Zafar mengaku mendapatkan warisan besar dari orang tuanya, dan kini ia sedang membuka bisnis manisan khas Turki di pusat kota.
Setelah mendapatkan semua informasi yang ia butuhkan, Ivy bergegas menghapus rekaman CCTV yang menampilkan dirinya. Jemarinya bergerak cepat, memastikan setiap frame yang bisa menjadi bukti sudah lenyap. Ia bahkan mematikan sistem CCTV itu sepenuhnya agar saat ia keluar dari ruangan, tak ada rekaman baru yang merekam keberadaannya. Langkah terakhir—dan yang paling sulit—ia menghapus semua ingatan tentang dirinya dari pikiran para satpam yang berjaga malam itu. Butuh tenaga ekstra, tapi ia tidak punya pilihan lain.
Begitu yakin semua sudah aman, Ivy meninggalkan sekolah.
Namun begitu kakinya melangkah keluar gerbang, tubuhnya mendadak terasa berat. Udara malam Manchester yang dingin menusuk hingga ke tulang, membuat napasnya terasa membeku. Ivy terpaksa berjalan menempel ke dinding, jemarinya menyusuri permukaan bata yang dingin untuk menopang tubuhnya agar tidak jatuh.
Langkahnya tiba-tiba terhenti. Pandangannya berkunang-kunang, dan sebelum sempat berpikir, lututnya goyah lalu ia jatuh terduduk di trotoar basah. Rasa lemas menyapu seluruh tubuhnya. Padahal, ia selalu makan teratur. Tapi malam ini, ada rasa hampa yang tak bisa ia jelaskan. Kesedihan dan keputusasaan datang menyerang tanpa ampun, seperti ombak dingin yang menenggelamkan dirinya.
Sekilas, pikiran gelap terlintas—bagaimana jika ia mengakhiri semua ini? Menyelam, tenggelam, dan berhenti melawan. Ia terlalu lelah. Terlalu banyak pertanyaan tanpa jawaban. Semua usaha mencari kebenaran tentang kematian Jessica terasa sia-sia.
Namun saat wajah Jessica terbayang—ramah, penuh perhatian—lalu berubah menjadi wajahnya yang rusak karena kebakaran itu, hati Ivy berdenyut nyeri. Rasa kasihan dan marah bercampur, menghalangi pikirannya untuk menyerah sepenuhnya.
Dengan sisa tenaga, Ivy mencoba berdiri. Tubuhnya bergoyang, membuatnya harus tetap berpegangan pada dinding bata yang basah oleh hujan sore tadi. Langkahnya lambat, nyaris terseret, tapi ia memaksa. Untuk memotivasi dirinya, ia berbisik lirih, berulang kali, "Semangat… semangat… jangan berhenti."
Saat sampai di depan rumah, jam sudah menunjuk pukul dua dini hari. Embusan angin malam membawa aroma tanah basah dan sisa hujan, membuat kulitnya semakin menggigil. Kakinya terasa seperti jeli, tapi bukannya lega, justru rasa kesal menyergap begitu matanya menangkap sesuatu di teras—kotak paket misterius itu.
Paket itu masih sama seperti sebelumnya—tertulis atas namanya, tanpa alamat pengirim, tanpa tanda apa pun. Diam menunggu, seakan tahu bahwa Ivy pasti akan menemukannya.
Dengan napas berat, ia duduk di kursi kayu teras, lalu menarik kotak itu mendekat. Ia membukanya dengan kasar, menggunakan kekuatan tangan karena tidak ada alat di dekatnya. Kardus itu terkoyak, dan seketika tubuh Ivy menegang.
Di dalamnya, ada boneka teddy bear putih. Bulu boneka itu berlumuran darah—masih segar di beberapa bagian—dan sebilah pisau kecil menancap di perutnya. Jemari Ivy bergetar ketika ia meraih secarik kertas yang terlipat di dasar kotak.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
