BAB 8
"Maaf, nona. Ini bukan wewenang saya untuk menjawab. Silakan keluar." Suara polisi itu terdengar datar, tegas, seperti pintu besi yang tertutup rapat.
"Tapi… Anda harus memberi tahu saya apa hubungan mereka," desak Ivy, suaranya mulai meninggi, napasnya memburu. "Kematian Jessica ini ada kaitannya dengan saya! Saya dituduh membunuh Jessica, padahal saya tidak melakukannya!" Ia meraih lengan meja yang berada di dekatnya, berusaha menahan gemetar di tangannya. "Justru saya berusaha menyelamatkannya… dari kebakaran. Coba lihat luka ini!" Ia menepuk bagian lengannya yang masih menyisakan bekas. "Luka ini saya dapat saat mencoba menariknya menjauh dari bahaya! Masalah ini sudah menghancurkan hidup saya!"
Nada emosional Ivy menggema di ruangan itu. Matanya mulai memerah, memantulkan kilatan kemarahan dan kesedihan yang bercampur menjadi satu. Setiap kata yang ia ucapkan terasa seperti tusukan, mengiris kembali luka yang belum sembuh. Di luar jendela, langit Manchester tampak kelabu, seolah ikut menyesakkan udara di dalam ruangan.
"Terlepas dari semua itu…" Suaranya melemah, tapi matanya tetap menatap polisi itu dengan penuh tekad. "Jessica adalah sahabat saya sejak kecil. Saya harus tahu kebenarannya."
Polisi itu hanya terdiam, kedua alisnya sedikit berkerut. Tatapannya seperti orang yang terjebak di antara rasa iba dan ketidaksetujuan. Wajahnya sulit dibaca, namun ada sesuatu di sorot matanya—campuran keraguan dan kehati-hatian—yang membuat Ivy merasa tatapan itu pernah ia lihat sebelumnya.
Tatapan itu membawanya kembali enam bulan lalu. Saat ia masih terbaring di rumah sakit, sendirian, tubuhnya penuh perban, kaki kirinya digips. Bau antiseptik memenuhi ruangan, lampu redup, dan suara langkah kaki perawat yang samar terdengar di koridor. Saat itu, Brayen datang—membawa seikat bunga lili putih. Hatinya sempat hangat sesaat, tapi kemudian tatapan iba dari Brayen menusuk seperti belati yang dingin. Saat pria itu berbalik untuk pergi, Ivy tahu… ada jarak yang tiba-tiba tumbuh di antara mereka. Dan ia benar. Sebulan kemudian, Brayen memutuskan hubungan mereka.
Ivy tidak melawan, tidak berusaha menahannya. Di matanya, Brayen adalah sosok yang terlalu sempurna, sedangkan dirinya kini… rusak. Luka-luka di kulitnya, dan kaki yang tak lagi sempurna, seolah menjadi pengingat bahwa ia tak lagi pantas berada di sisi pria itu. Tapi luka hati yang ditinggalkan Brayen—seperti bekas luka bakar yang membekas di kulitnya—tidak pernah benar-benar hilang. Dan kini, duduk di hadapan dua polisi yang menatapnya dengan pandangan dingin itu, rasa kehilangan itu kembali mencengkeramnya.
“Pak, tolong… katakan saja. Saya tidak akan pergi sebelum tahu,” suara Ivy bergetar, nyaris pecah. Jemarinya menggenggam pinggiran meja polisi itu begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. “Apa… hubungan mereka? Apa yang terjadi pada Jessica?!”
Kedua polisi saling melirik. Salah satu dari mereka menghela napas panjang, jelas mulai kehilangan kesabaran. “Nona Ivy,” ucap polisi yang duduk di hadapannya, suaranya meninggi sedikit, “ini bukan waktunya, dan bukan tempatnya. Anda sudah diberitahu, ini rahasia penyelidikan.”
“TIDAK!” teriak Ivy, tubuhnya condong ke depan, tatapannya liar. “Kalian tidak paham! Hidup saya… hancur! Semua orang memanggil saya pembunuh! Saya kehilangan sahabat, kehilangan segalanya… Bahkan dia—” suaranya tercekat, “…bahkan dia meninggalkan saya.”
Ruangan itu mendadak terasa pengap. Salah satu polisi berdiri, mencoba mendorong Ivy menjauh.
“Cukup! Keluar sekarang, atau kami akan memanggil petugas keamanan!” bentaknya.
Namun Ivy menepis tangan itu, dadanya naik-turun cepat. “Tidak! Katakan! Katakan padaku!”
Nada suaranya bergema di ruangan sempit itu, memecah keheningan yang sudah rapuh.
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
