BAB 44
"Apa maksudmu Sementa, Margaret, dan kepala sekolah kecelakaan?" ucap Natali dengan nada kaget.
Natali terdiam, wajahnya pucat. Kabarnya begitu mengejutkan. Baru beberapa jam lalu ia masih melihat mereka sehat-sehat saja, bahkan sempat bertegur sapa. Sulit baginya menerima bahwa dalam waktu sesingkat itu, ia mendengar berita mengerikan seperti ini.
"Aku tidak tahu persis kejadiannya," suara dari seberang telepon terdengar tergesa, "tapi ini sangat aneh. Bagaimana bisa ada tiga kecelakaan dalam waktu bersamaan? Bahkan menurut keterangan polisi, penyebabnya hampir sama."
Natali terperanjat. "Apa mereka menaiki mobil yang sama?" tanyanya memastikan, suaranya bergetar.
"Tidak, mereka membawa mobil sendiri-sendiri."
Natali menelan ludahnya dengan susah payah. "Lalu... bagaimana keadaan mereka?"
"Kau... aku tak tahu pastinya, tapi katanya mereka kritis!" suara itu terdengar makin panik. "Natali, kau harus berhati-hati. Aku merasa, sejak kematian Jessica, ada banyak peristiwa aneh di sekolah."
"Heii! Jangan asal bicara!" bentak Natali spontan, emosinya meledak. "Kejadian ini tidak ada hubungannya dengan gadis itu!"
"Ya... baiklah, jangan emosi begitu..." jawab lawan bicaranya, terdengar ragu.
"Ah, sudah! Aku tidak ingin bicara lagi denganmu!" Natali menutup telepon dengan kasar, lalu membanting ponselnya ke ranjang. Nafasnya terengah, dadanya naik turun menahan amarah bercampur ketakutan.
Beberapa detik ia hanya berdiri mematung, sebelum akhirnya kembali mengambil ponselnya. Ia mencoba menyalakannya, namun layar hitam itu tidak menyala. Mati. Natali berasumsi baterainya habis. Dengan kesal, ia berjalan ke kamarnya, mencari kabel cas yang biasanya ia letakkan di atas sofa kecil di sudut ruangan.
Namun langkahnya terhenti. Dari arah balkon, samar-samar terdengar suara aneh-lirih, seolah berasal dari seseorang yang sedang berbisik.
Natali menoleh. Pintu kaca balkon tertutup, tetapi tirai putih tipis yang menutupi pintu itu bergoyang lembut, ditiup angin malam Manchester yang menusuk dingin. Dari balik tirai, ia melihat bayangan samar seseorang. Sosok itu berdiri diam, tampak seperti seorang gadis muda dengan seragam SMA yang sama persis dengan seragam sekolahnya.
Jantung Natali berdetak kencang. Ia hendak melangkah mundur, namun tiba-tiba, tepat di telinganya, terdengar bisikan lirih-parau dan serak, namun jelas terdengar.
"Ke... kemapa...?"
Napas Natali tercekat. Suara itu tidak asing. Sangat lemah, seakan keluar dari tenggorokan seseorang yang sudah lama kehilangan nyawa. Ia menoleh cepat ke sampingnya, namun tak ada seorang pun di sana. Kamar itu kosong, sunyi, hanya dentuman jarum jam dinding yang terdengar.
Pelan-pelan Natali kembali menoleh ke balkon. Sosok gadis itu masih berdiri di balik tirai.
"Siapa kau?!" teriak Natali, suaranya bergetar.
Tak ada jawaban. Hanya keheningan dan suara angin yang masuk melalui celah jendela. Dengan langkah gontai bercampur rasa takut, Natali mulai mendekat. Semakin dekat ia melangkah, semakin jelas bentuk sosok itu, dan semakin berat pula rasa ngeri yang merambati tubuhnya.
Akhirnya, ia sampai di depan pintu balkon. Tirai masih bergoyang, sementara pintunya ternyata sudah terbuka. Udara dingin dari luar menembus masuk, membawa aroma lembap khas malam Manchester setelah hujan. Rambut Natali sedikit tergerai ditiup angin.
Ia memberanikan diri menarik tirai itu dengan kasar. Suara kain terseret rel terdengar keras, memecah keheningan.
Di balik tirai, sosok itu terlihat jelas. Gadis itu berdiri dengan tubuh basah kuyup, rambut hitamnya menempel di wajah pucatnya. Namun bukan air biasa yang menetes, melainkan cairan hitam pekat yang menebarkan bau amis menusuk, mirip darah basi yang membusuk.
Mata Natali membelalak, hampir meloncat keluar. Tubuhnya kaku seperti patung. Dari lantai balkon terdengar suara crot... crot...-air menetes deras. Natali menunduk pelan, dan melihat sumber suara itu: cairan hitam menetes dari salah satu kaki gadis itu... yang ternyata sudah putus.
Natali tercekik napasnya. Matanya semakin membesar ketika menyadari kaki satunya tidak menapak ke lantai. Kaki itu... melayang di udara.
"AAAAAAAAA!"
Natali berteriak sekuat tenaga, suaranya memecah keheningan malam dan bergema di seluruh kamar. Tubuhnya sontak terjatuh ke lantai berkarpet tebal yang dingin. Dengan wajah penuh kengerian, ia berusaha menjauh sambil merangkak mundur, kukunya mencakar-cakar lantai seakan ingin lari dari kenyataan yang baru saja ia lihat.
Suara teriakannya membuat sosok gadis muda itu perlahan mengangkat wajah. Natali tak mampu mengalihkan pandangan. Seketika rasa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya. Wajah gadis itu... lebih mengerikan dari apa pun yang pernah ia bayangkan. Kulitnya pucat pasi, sebagian terkelupas seakan terbakar. Salah satu pipinya hangus, hitam pekat, bibirnya robek lebar hingga ke ujung pipi, menampakkan deretan gigi yang berlumuran darah. Matanya hanya satu yang tersisa, sementara sisi lainnya adalah rongga hitam kosong yang terus meneteskan cairan merah pekat. Dari lehernya, darah mengucur deras, membentuk genangan di lantai marmer dekat balkon, menebarkan bau amis menusuk hidung.
"Kenapa...?" bisikan lirih itu kembali terdengar. Suaranya serak, lemah, namun begitu dekat seakan berhembus tepat di telinga Natali.
Natali gemetar hebat, air matanya jatuh tanpa henti. Ia tak sanggup lagi menoleh ke arah suara itu, hanya berusaha sekuat tenaga merangkak ke pintu. Nafasnya tersengal-sengal, dadanya sesak, sambil terus menjerit minta tolong. Ia berharap seseorang mendengar, siapa pun, agar segera menyelamatkannya dari mimpi buruk ini.
Namun sesampainya di pintu, Natali dilanda kepanikan baru. Pintu itu tidak bisa dibuka. Ia mengguncangnya, menggedor dengan keras hingga bunyi dentuman memenuhi apartemen, tapi sia-sia. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Napasnya tercekat, rasa putus asa mulai menelan kesadarannya.
Hingga tiba-tiba, ia merasakan hembusan napas panas tepat di tengkuknya. Tubuhnya kaku. Dengan sangat perlahan, seolah dipaksa oleh rasa takut yang luar biasa, Natali menoleh. Dan di sana-hantu gadis itu berdiri tepat di belakangnya, menatapnya dengan mata yang kosong namun menusuk. Dari bibir robeknya terdengar suara serak yang menyayat, "Mau... ke mana?"
"AAAAAAAAAAAAAAAAA!!!"
Natali berteriak histeris. Jeritannya begitu panjang dan melengking, membuat pita suaranya hampir putus. Tubuhnya gemetar hebat, hingga ia tidak sadar telah mengompol, rasa takut menguasainya total. Matanya terbalik, dan dalam sekejap, kesadarannya hilang. Tubuhnya terkulai tak berdaya di lantai dekat pintu kamarnya.
Beberapa detik kemudian, terdengar langkah tergesa-gesa mendekat dari koridor apartemen. Pintu kamar Natali didobrak, memperlihatkan ayah dan ibu Natali bersama adiknya, Baul. Mereka langsung panik. Sang ayah segera mengangkat tubuh Natali yang pingsan ke atas sofa ruang tamu, sementara ibunya dengan tangan gemetar menelepon dokter pribadi mereka.
Baul, anak laki-laki yang masih belia itu, hanya berdiri terpaku. Ia tidak berteriak, tidak menangis-hanya tatapannya yang penuh kebingungan. Telinganya masih mengingat jelas suara jeritan kakaknya, seakan ada bahaya besar. Namun saat matanya menyapu kamar, ia tidak melihat sesuatu yang ganjil. Kamar itu tampak normal, kecuali balkon yang pintunya terbuka, tirainya bergoyang diterpa angin malam kota Manchester.
Pelan-pelan, dengan rasa ingin tahu yang besar, Baul melangkah ke balkon. Ia mengintip keluar, namun tidak menemukan apa-apa. Jalanan kota Manchester yang sepi di bawah hanya diterangi lampu jalan yang redup kekuningan. Udara dingin menusuk kulitnya. Ia hendak kembali masuk ketika matanya menangkap sesuatu-seorang gadis bergaun putih berdiri di sisi jalan, jauh di bawah sana.
Gadis itu hanya berdiri diam, kepalanya sedikit mendongak, menatap tepat ke arah apartemen mereka. Mata Baul membelalak, tubuhnya menegang. Namun sebelum ia sempat memanggil orang tuanya, gadis itu mulai melangkah pergi, menghilang di balik kabut tipis yang menggantung di jalanan. Yang tersisa hanyalah rasa bingung... dan tanda tanya besar di benak Baul.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romansa"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
