69.

64 2 0
                                        

BAB 69




Ivy berdiri di depan jendela kamar Brayen, menatap langit cerah di luar sana. Cahaya senja perlahan memudar, meninggalkan gradasi jingga dan ungu yang indah di langit. Namun bagi Ivy, keindahan itu terasa hampa. Ia berdiri kaku di sana, tak beranjak sedikit pun, seakan menunggu sesuatu yang tak kunjung datang. Hingga langit berubah gelap dan bintang-bintang mulai bermunculan, hatinya tetap dipenuhi rasa harap.

Tiba-tiba, suara pintu berderit memecah keheningan. Jantung Ivy berdegup semakin kencang, hampir pecah. Ia menoleh dengan cepat, wajahnya dipenuhi senyum yang penuh harapan dan kebahagiaan.

Dari tatapannya, rasa rindu yang tak terbendung berkecamuk begitu jelas. Ia ingin segera menuntaskan kerinduan itu. Cintanya pada pria itu begitu dalam, hingga setiap serat tubuhnya seakan berteriak memanggil nama Brayen.

Begitu pintu benar-benar terbuka, dan sosok pria tampan yang selama ini memenuhi mimpinya masuk ke kamar, Ivy tak sanggup menahan diri. Ia berlari dan langsung melingkarkan lengannya, memeluk Brayen dengan erat, seolah dunia bisa runtuh bila ia melepaskannya.

Namun, kehangatan yang ia dambakan tidak kunjung kembali. Brayen tidak membalas pelukan itu. Sebaliknya, ia menegang, menatap Ivy dengan wajah terkejut dan sedikit panik. Tatapan itu seperti belati yang menusuk hati Ivy.

"TUHAN... TIDAK...!" jerit batinnya, putus asa. "Aku mohon, dia harus ingat padaku!"

Tapi harapan itu hancur dalam sekejap. Dengan nada bingung dan hati-hati, Brayen berkata,
"Maaf... kau siapa? Kenapa kau ada di kamarku?"

Kata-kata itu bagai palu godam yang menghantam jantung Ivy. Lututnya melemas, hampir membuatnya jatuh ke lantai. Ia berusaha bertahan dengan berpegangan pada ujung meja di sampingnya, namun air mata tak lagi bisa ia tahan. Isaknya pecah, deras, membanjiri wajahnya yang pucat.

Brayen menatapnya bingung, masih belum paham apa yang terjadi. Ia melangkah mendekat, hendak bertanya lebih lanjut. Namun sebelum kata-kata itu terucap, sebuah suara lembut terdengar dari ambang pintu.

"Brayen..." panggil suara itu pelan.

Brayen menoleh, dan Ivy ikut menatap ke arah pintu. Di sana berdiri seorang gadis muda dengan wajah cantik dan anggun. Seketika, darah Ivy terasa mendidih. Gadis itu adalah sosok yang paling ia benci, seseorang yang ia ingin cabik dari ujung rambut sampai kakinya.

Ivy terdiam sejenak, lalu tiba-tiba tertawa. Tawanya getir, bergetar, penuh rasa sakit. Suara itu membuat Brayen dan gadis itu sama-sama terkejut. Air mata mengalir di sela tawanya, dan akhirnya ia menyebutkan nama itu dengan suara bergetar,
"...Natalie Hershlag."

Tawa Ivy berubah lirih, pilu, bercampur tangis yang semakin deras. Ia menatap Natalie dengan mata yang berkilat penuh kebencian. Sementara Natalie berdiri kaku, wajahnya pucat pasi, antara terkejut dan ketakutan.

"Kenapa..." suara Ivy hampir berbisik, namun dipenuhi luka, "kenapa dari sekian banyak wanita... harus dia? Tidakkah kau membencinya juga, sama besarnya denganku?"

Kalimat itu menggantung di udara, penuh perih. Ivy merasa seolah takdir sedang mencekiknya, merenggut kebahagiaan yang seharusnya miliknya. Dunia seakan runtuh tepat di hadapannya.

Brayen hanya bisa terdiam, bingung, wajahnya dipenuhi kebingungan yang tak bisa ia sembunyikan. Sementara itu Natalie, dengan langkah pelan, mundur menjauh. Namun saat kesempatan datang, ia langsung berbalik dan berlari keluar, mencoba melarikan diri dari rumah Brayen.

Ivy tersentak. Dengan cepat ia melesat mengejar, kekuatannya bangkit dengan liar. Dalam sekejap ia sudah menghadang Natalie, memandangnya dengan tatapan tajam yang dipenuhi amarah murni. Udara di sekitar mereka bergetar, seakan terhisap oleh aura Ivy yang mengerikan.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang