96.

5 0 0
                                        

BAB 96

Setelah selesai berbelanja persediaan makanan, Ivy berjalan menyusuri jalanan pasar yang masih ramai oleh pedagang dan pembeli. Udara musim dingin menusuk kulitnya, membuat pipinya sedikit memerah. Tujuannya kali ini adalah toko baju pria, ingin membeli baju hangat untuk Murray—karena sang suami belum memiliki pakaian hangat sama sekali.

Saat Ivy memasuki toko, ia bertemu Xia. Ivy tak begitu mengenal Xia, namun pernah melihat pria itu menyapa Murray beberapa kali. Ia mengira mereka adalah teman baik. Dengan ramah, Ivy menyapanya, dan Xia membalas dengan senyum hangat. Mereka pun terlibat dalam percakapan panjang, berbicara ringan tentang cuaca, pekerjaan, dan kabar terakhir.

Namun, suasana hangat itu segera terganggu. Seorang pria masuk, aura agresifnya langsung terasa. Tuan Lukas. Ia melangkah dekat, mencoba mengajak Ivy berbicara, dan sikapnya begitu memaksa. Ivy merasa tidak nyaman, tubuhnya menegang. Di toko roti, Nyonya Loren atau Tuan Tutin mungkin akan melindunginya, tapi di sini, siapa yang berani menentang Lukas? Xia hanyalah seorang pria biasa dengan nyali kecil, dan sebagian orang di sekitarnya seolah mengabaikan tingkah Lukas.

Panik dan waspada, Ivy memutar otak untuk menghindari pria itu. Ketika ia melihat kesempatan, ia segera meraih baju hangat yang dibutuhkan Murray, menekankan tangannya pada tas belanja, dan melangkah cepat keluar toko.

Langkah Ivy cepat, menembus udara dingin musim dingin. Walau lelah karena beban barang dan jarak rumah yang cukup jauh dari pasar, ia tak sedikit pun melambat. Pikiran Ivy hanya satu: menjauh dari Lukas dan kembali ke rumahnya yang nyaman, tempat di mana ia bisa merasa aman.

Setelah sampai di rumah, Ivy segera menyimpan semua belanjaannya. Tapi ia tak beristirahat lama. Dengan napas sedikit terengah, ia keluar lagi, menuju halaman belakang untuk mengumpulkan kayu bakar. Daun-daun kering dan ranting-ranting berserakan di tanah, sementara angin dingin meniup lembut di rambutnya. Ivy menunduk, memunguti ranting demi ranting dengan hati-hati.

Tiba-tiba, ia merasakan sesuatu memeluknya dari belakang. Jantungnya hampir meloncat. Pertama, ia pikir itu Murray, tapi saat menoleh, tubuh itu berbeda. Tanpa berpikir panjang, Ivy mendorong pria itu dengan kasar.

"Kau! Apa yang kau lakukan?!" teriaknya, menatap tajam sosok di belakangnya.

Pria itu adalah Tuan Lukas. Ivy menatapnya dengan mata melotot, tubuhnya tegang. Lukas jauh lebih besar darinya, wajahnya tampan namun dipenuhi aura mesum yang membuat Ivy merasa jijik dan marah. Ia teringat wajah tiga remaja yang pernah mencoba merenggut kehormatannya—rasa sakit dan kemarahan muncul kembali. Detik itu, hatinya terbakar amarah dan kebencian terhadap orang-orang seperti mereka. Namun di balik semua itu, Ivy penasaran bagaimana Lukas bisa menemukannya.

“Darimana dia tahu rumahku? Apa dia mengikuti aku? Sial… seharusnya aku lebih waspada!” gerutu Ivy dalam hati.

Lukas menatap Ivy dari ujung kaki hingga rambut dengan tatapan penuh nafsu. “Kau cantik sekali. Aku yakin kau akan lebih cantik saat berada di bawahku,” katanya, suaranya menggigit dan menakutkan.

Pria itu meraih lengan Ivy dengan cepat, membuat tubuhnya tak bisa bergerak leluasa. “Ayo… kemarilah, layani aku sebentar,” desis Lukas dengan nada kasar.

Ivy menatapnya dengan mata menyorot amarah. Ia mencoba melepaskan diri, menendang, dan menarik tangannya. Namun perbedaan kekuatan membuatnya hampir tak berdaya. Tapi Ivy menolak menyerah. Hatinya membara untuk mempertahankan martabatnya sebagai seorang wanita, sebagai istri, dan demi menjaga nama baik suaminya.

"Tuan… apa yang anda katakan! Saya ini sudah menikah! Suami saya bahkan masih sehat sekarang!" teriak Ivy tegas, suaranya menggema di halaman belakang rumah yang dikelilingi pohon-pohon kecil dan semak-semak kering. Nafasnya terengah, namun matanya tetap menatap Lukas penuh keberanian.

Lukas tersenyum sinis, menatapnya dari atas ke bawah dengan tatapan penuh kesombongan. “Oh, pria miskin itu… Jangan khawatir tentangnya. Dia pasti tidak akan menyadarinya,” ucap Lukas dengan nada merendahkan Murray. Kata-katanya menusuk hati Ivy, membuatnya menggigit bibir hingga nyaris terluka.

Ivy menelan ludah, panik dan gelisah. Di pikirannya berkecamuk berbagai opsi. Apa yang harus kulakukan? Aku ingin melawannya dengan energi sihir-ku… tapi… aku tidak punya energi sihir sekarang. Lari ke hutan mungkin pilihan paling aman, tapi… bagaimana kalau aku bertemu monster atau hewan buas lainnya? gumamnya dalam hati, jantungnya berdetak kencang, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

“Jadi… ayo kemari, aku sudah tidak tahan,” desis Lukas sambil menarik lengan Ivy, menyeretnya entah ke arah mana.

Ivy mencoba memberontak. Tubuhnya menempel pada pohon kecil di dekatnya, memeluknya sekuat tenaga agar pria itu tak bisa menyeretnya pergi. Tapi Lukas tertawa sinis. “Jangan sok jual mahal, aku ini orang paling kaya di desa! Aku mampu memberimu kehidupan yang nyaman, tidak seperti suami miskinmu itu!”

Di tempat lain, jauh dari adegan itu, Murray tengah sibuk menjual hewan buruan kepada seorang penampung di pasar. Suasana pasar ramai, aroma tanah basah dan asap kayu bakar menyelimuti udara, dan teriakan pedagang bercampur dengan obrolan pembeli. Saat Murray sedang berdebat menentukan harga, ia tiba-tiba mendengar seseorang memanggil namanya. Sekilas ia menoleh, melihat Xia berdiri di sampingnya, tapi ia hanya mendesah dalam hati, mengganggu saja. Murray ingin fokus menyelesaikan transaksi agar bisa mendapat harga terbaik.

“McKellen!” panggil Xia lagi, suaranya terdengar tergesa-gesa.

Murray mengerutkan alis, kesal. “Darimana saja kau? Aku mencari-mu dari tadi! Dan… kenapa ku mengacuhkan?” tanya Xia, napasnya terengah-engah seperti orang yang baru berlari jauh.

“Ada apa? Kenapa kau terlihat sangat panik?!” tanya Murray, sedikit penasaran, alisnya berkerut.

“Pria gila bernama Lukas itu tadi menggoda istrimu!” ucap Xia cepat.

Tubuh Murray seketika menegang. Wajah Ivy, senyum manisnya, dan aroma tubuhnya muncul di ingatan Murray, membuat dadanya berdebar dan perasaan gelisah menguasai dirinya.

“Aku juga melihat dia mengikuti istrimu pulang! Sebaiknya cepat susul istrimu, dia pasti dalam bahaya!” tambah Xia, suaranya panik.

“Sial!” umpat Murray, giginya terkepal. Tanpa menunggu lebih lama, ia langsung berlari ke arah rumahnya. Setiap langkah dipenuhi adrenalin, kepanikan, dan kekhawatiran bercampur menjadi satu. Ia menendang beberapa orang yang menghadang jalannya tanpa ragu, tak peduli teriakan mereka, karena pikirannya hanya satu: menemukan Ivy.

Saat sampai di depan rumah, Murray berteriak memanggil nama istrinya. Pintu rumah ia buka dengan keras, namun kamar kosong. Hatinya melonjak panik, seluruh tubuhnya tegang, campuran cemas, takut, marah, dan frustrasi membuat kepalanya hampir meledak.

“IVY!” teriak Murray, suaranya pecah, berharap terdengar oleh sang istri. Tapi tak ada jawaban. Ia segera keluar lagi, matanya menyapu halaman belakang, mencari-cari tanda keberadaan Ivy.

Langkah Murray melambat saat matanya menangkap sosok pria yang sedang berusaha berdiri. Murray mendekat, napasnya terengah, dan aura tegang menyelimuti tubuhnya. Sosok itu tak lain adalah Lukas.

“Dimana istrimu?” tanya Murray, suaranya rendah dan tegang. Tatapan Murray menembus Lukas seperti hewan buas yang siap menerkam, menyalurkan amarah sekaligus kekhawatiran yang membuncah di dadanya. Aura dingin dari Murray membuat udara di sekitar mereka seketika mencekam.

Lukas menatap Murray sejenak, sedikit terganggu dengan intensitas pria di depannya, tapi ia tetap tenang. Dalam hati Lukas, ide jahat mulai muncul. Ia berencana menuduh Ivy menggoda dirinya, berharap menimbulkan konflik antara Murray dan Ivy, bahkan mungkin membuat mereka bercerai. Saat Ivy kehilangan segalanya, Lukas akan muncul sebagai “penyelamat”.

“Ah… kau mencari jalang itu ya,” ucap Lukas sambil tersenyum sinis, tatapannya menggeliat penuh niat jahat.

Bersambung !

***
✨ Pesan Penulis ✨

Terima kasih sudah membaca! Jangan lupa untuk like, beri nilai terbaik, dan tinggalkan komentar atau saran. Dukungan kalian sangat berarti dan membuat penulis lebih semangat berkarya. ❤️


SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang