43.

64 6 0
                                        

Bab 43



"Aku sangat benci dengannya. Kenapa kita harus kesini sih!" gerutu Margaret pelan, suaranya terdengar lirih tapi penuh amarah. Hanya Sementa, yang berdiri di sampingnya, yang bisa mendengarnya. Wajah Margaret tampak masam, bibirnya mengerucut, matanya menatap tajam ke arah pemakaman yang perlahan mulai sepi.

"Sudahlah, yang penting beban kita sudah selesai. Yaudah, ayo kita pulang," ucap Sementa, suaranya datar, berusaha menenangkan sahabatnya meski ia sendiri juga lelah dengan suasana duka itu.

"Kau akan pulang? Tidak pergi jalan-jalan dulu denganku?" tanya Margaret dengan nada sedikit kecewa, berharap Sementa mau menemaninya lebih lama.

"Lain kali saja, aku ada urusan keluarga setelah ini," jawab Sementa tegas namun tetap lembut. Setelah itu mereka berpelukan singkat, saling mengucapkan salam perpisahan sebelum memasuki mobil masing-masing.

Saat Sementa masuk ke mobil, sopir pribadinya segera menyapanya dengan sopan. Sementa hanya mengangguk singkat dan meminta sopir itu segera pulang. Sopirnya menjawab dengan patuh, lalu mobil hitam elegan itu pun melaju meninggalkan area pemakaman, menembus jalanan Manchester yang sore itu mulai ramai.

Semula perjalanan terasa biasa saja. Mobil meluncur mulus melewati jalan kota yang dipenuhi deretan toko tua bercampur bangunan modern, lalu berbelok menuju jalan yang lebih sepi di pinggir perkebunan apel yang sangat luas. Cahaya matahari sore menimpa kaca jendela, membuat suasana hangat namun juga sedikit menyilaukan. Di tengah ketenangan itu, tiba-tiba Sementa merasakan ada sesuatu yang janggal-suara napas berat, seperti seseorang sedang duduk di sampingnya.

Dengan refleks, ia menoleh ke samping, tapi kursi itu kosong. Tidak ada siapa pun. Hanya dirinya dan sopir. Dahi Sementa berkerut, matanya meneliti sekitar dengan rasa curiga.

Tanpa disadarinya, di kursi paling belakang ternyata ada sosok gadis berambut hitam panjang. Rambutnya kusut, wajahnya rusak dan mengerikan. Ia mengenakan seragam SMA yang sama dengan seragam Sementa, hanya saja lusuh, kotor, dan basah oleh cairan hitam berbau busuk. Kulitnya pucat, sebagian mengelupas, wajahnya hancur. Satu bola matanya hilang, mulutnya robek lebar, dan tubuhnya meneteskan cairan pekat berbau mayat. Perlahan, bau menyengat itu menyebar memenuhi kabin mobil.

Sementa menutup hidungnya dengan tangan, wajahnya meringis. "Kenapa mobil ini bau sekali? Apa kau lupa membersihkannya?" tanyanya kesal pada sopir.

"Sudah, Nona. Saya baru saja membersihkannya kemarin," jawab sopir itu cepat, meski wajahnya terlihat tegang menahan bau.

"Tapi kenapa... kenapa bau sekali? Seperti bau mayat!" gerutu Sementa.

"Begitulah..." terdengar suara lain dari belakang. Suara pelan tapi jelas menusuk telinga Sementa.

Sementa spontan menoleh ke kursi belakang, namun ia tidak melihat siapa pun. Jantungnya berdegup kencang. Suasana mobil semakin mencekam.

"Siapa tadi yang bicara?" gumamnya.

"Aku."

Suara itu kini terdengar tepat di sampingnya. Sementa segera menoleh, dan kali ini matanya langsung bertatapan dengan sosok menyeramkan tadi. Wajah hancur, mulut robek, mata kosong menatapnya.

"AAAAAAAAA!" Teriakan Sementa memecah keheningan mobil.

"Ada apa, Nona?" tanya sang sopir panik, menoleh ke arah Sementa. Namun ketika Sementa melihatnya, yang ia lihat bukan wajah sopir, melainkan wajah gadis menyeramkan itu-menyeringai lebar.

Refleks, Sementa mengayunkan tinjunya ke arah sosok itu. Pukulan itu justru mengenai sopir yang kaget, membuat mobil oleng hebat. Mobil melaju keluar jalur, menembus pagar pembatas, melesat dengan kecepatan tinggi ke tanah perkebunan, lalu berguling beberapa kali. Suara benturan keras terdengar sebelum akhirnya mobil itu menghantam pohon apel dengan hantaman brutal.

Tubuh Sementa terlempar ke depan, wajahnya terkena pecahan kaca, darah mengalir deras. Kakinya terjepit bangku mobil yang ringsek. Napasnya tersengal, pandangannya mulai gelap, hingga akhirnya kesadarannya hilang.

"Apa maksudmu Sementa, Margaret, dan kepala sekolah kecelakaan?" suara seorang gadis terdengar terkejut. Ia adalah Natali, yang baru saja menerima kabar buruk itu. Wajahnya pucat, mata melebar tak percaya. Udara di sekitarnya seakan membeku, membawa ketegangan baru yang menambah suram suasana setelah pemakaman tadi.

Bersambung !


SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang