47.

61 3 0
                                        

BAB 47


Beberapa menit yang lalu, sebenarnya Brayen sedang menceritakan hal-hal yang ia temukan selama hubungannya dengan Natali. Selama ini, banyak rahasia yang ia simpan karena hubungan mereka sedang buruk, sehingga ia baru berani membagikannya sekarang. Ia juga berusaha mengumpulkan bukti kejahatan Natali dalam bentuk foto, sebagai langkah berjaga-jaga.

Brayen meletakkan HP-nya di atas meja hotel dengan perlahan, lalu menatap Ivy. Suaranya terdengar tegas namun lembut saat ia berkata, “Kedua orang tua dan adik Natali tidak tahu kalau Natali terlibat dalam kebakaran enam bulan lalu. Natali juga mendapatkan sumbangan dana dari ayahnya Elena. Dana itu ia gunakan untuk menyogok Sementa dan Margaret agar menjauhiku, bahkan beberapa saksi pun ikut disogok.”

Ivy menatap Brayen dengan mata terbelalak. “Lalu, bagaimana dengan kepala sekolah? Apa dia terlibat?” tanyanya pelan, suara hampir tersedak.

“Ya, aku yakin dia terlibat,” jawab Brayen dengan tegas.

Ivy mengernyit, masih ragu. “Aku tidak yakin, tapi mungkin seseorang mengancamnya dengan video vulgar Danil, anaknya, bersama para siswa. Agar nama baiknya tidak tercemar, dia akhirnya menurut,” tambah Brayen lagi, mencoba menjelaskan kronologi secara hati-hati.

“Apa hanya itu yang kau tahu?” tanya Ivy, suaranya sedikit menahan emosi. Brayen hanya mengangguk, tak menambahkan kata-kata lain.

Dalam hati Ivy, terselip rahasia yang belum bisa ia ungkapkan: kasus pemerkosaan yang menimpanya. Rasa bersalah dan kesedihan membanjiri pikirannya, membuat matanya berkaca-kaca.

Ivy mengalihkan pandangannya ke jendela hotel. Dari sana, terlihat panorama Kota Bristol yang indah di bawah sinar matahari pagi. Ia dan Brayen telah berada di kota ini selama hampir tiga hari. Mereka memanfaatkan waktu sebaik mungkin, menciptakan momen romantis, menikmati kebersamaan tanpa gangguan dari dunia luar.

Menyadari Ivy bersedih, Brayen bangkit dan memeluknya dari belakang. Pelukannya hangat, erat, dan menenangkan. “Aku mencintaimu,” bisiknya, diikuti dengan kecupan lembut di pundak Ivy.

Ivy perlahan berbalik, menatap Brayen dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya terasa hancur. Ia sedih, kecewa, dan takut karena Brayen tidak mengetahui kenyataan pahit tentang dirinya. Kesuciannya telah direnggut paksa, dan ia merasa seperti telah membohongi kekasihnya. Namun, di sisi lain, ia takut Brayen akan terluka jika mengetahuinya.

Brayen sendiri belum pernah melintasi batas itu dengan Ivy; mereka hanya berciuman dan berpelukan. Meskipun tinggal dalam satu kamar, ia tetap menjaga sikapnya sebagai seorang gentleman. Namun Ivy merasa dirinya tidak lagi sempurna untuk Brayen, takut tidak bisa memberinya keturunan, dan rasa itu membuatnya tersiksa sebagai seorang perempuan.

Menyadari Ivy sedang bersedih, Brayen mencoba menenangkan. Ia menatap wajah Ivy dan bertanya lembut, “Kenapa kau sedih, Ivy?” Namun Ivy hanya tersenyum tipis, menahan rasa sakitnya sendiri, dan memilih untuk diam. Hal itu membuat Brayen bingung sekaligus semakin ingin melindunginya.

***

Lorong itu gelap dan lembab, dinding-dinding batu tua memantulkan cahaya obor yang digenggam erat oleh seorang pria berjubah hitam dengan penutup kepala. Setiap langkahnya menggema, membuat beberapa tikus yang bersembunyi di sela-sela batu berlari dengan suara berdecit ketakutan. Udara di lorong itu terasa pengap, bercampur aroma tanah lembab dan debu yang menempel di setiap sudut.

Saat pria berjubah itu tiba di sebuah dinding batu, ia berhenti sejenak dan mengucapkan sesuatu dalam bahasa Yunani kuno. Secara mengejutkan, susunan bata itu bergeser perlahan, membuka jalan menuju lorong tersembunyi. Tanpa ragu, pria itu melangkah masuk, dan seketika susunan bata kembali ke posisi semula. Lorong yang baru ia masuki berubah drastis—menjadi ruangan besar, terang, dan megah, dengan lantai marmer yang bersih serta dinding berhiaskan lukisan klasik yang memancarkan aura anggun dan misterius.

Tiba-tiba, seorang pria lain muncul entah dari mana. Ia juga mengenakan jubah, namun ujungnya disulam emas yang berkilau, memancarkan wibawa yang tak bisa diabaikan. Pria berjubah hitam pembawa obor segera memberi hormat dengan kepala menunduk.

“Lapor, tuan. Kami sudah menyelidiki kasus yang Anda minta,” kata pria berjubah hitam itu dengan suara tegas.

“Kebakaran di toko kue Turki memang dibakar menggunakan kekuatan sihir. Kami juga menemukan beberapa tanda keberadaan si penjelajah waktu,” lanjutnya.

Pria berjubah bersulam emas mengangguk pelan. “Baiklah. Jika sudah menemukannya, pastikan dia dibawa dalam keadaan hidup.”

Pria berjubah hitam itu memberi hormat kembali, lalu mundur perlahan dan meninggalkan ruangan. Begitu ia pergi, seorang pria berambut perak muncul dari sudut lain ruangan, mendekati pria berjubah emas itu.

“Satu-satunya orang yang bisa menjelajah waktu adalah Cagatay, keturunan keluarga Ulusoy. Tapi ia ditemukan meninggal sekitar tujuh tahun lalu,” kata pria berambut perak dengan nada serius.

“Aku tahu. Tapi ini pasti bukan Cagatay. Energi penjelajah waktu ini berbeda. Siapapun dia, kita harus menemukannya secepatnya!” jawab pria berjubah emas dengan tegas, matanya menyapu seluruh ruangan penuh fokus.

Sementara itu, di tempat yang jauh berbeda, Brayen menatap langit sore yang dihiasi cahaya oranye keemasan. Senyum tipis tersungging di wajahnya, meski pikirannya masih setengah melayang memikirkan Ivy. Ia menoleh ke samping, menatap gadis itu yang berjalan di sampingnya.

“Bukankah tempat ini indah?” ucap Brayen, mencoba menimbulkan semangat di wajahnya.

Ivy hanya mengangguk pelan, suaranya terdengar lesu. “Ya…”

Melihat itu, Brayen merasakan hati yang sesak. Wajahnya sedikit mengerut, bibirnya menegang. Ia tahu Ivy sedang sedih, mungkin karena masalah di sekolah atau bayangan masa lalu yang terus menghantuinya. Namun ia tidak ingin momen liburan ini dirusak oleh kesedihan. Ia ingin Ivy tersenyum, ingin kebahagiaan mereka terasa utuh.

“Hei, kenapa kau terlihat sedih? Katanya ini liburan. Seharusnya kita bersenang-senang,” ucap Brayen dengan wajah penuh harapan, mencoba menghibur.

“Maaf,” jawab Ivy pelan, masih lesu dan menunduk.

“Aku tak ingin mendengar kata maaf! Aku hanya ingin kau senang!” kata Brayen tegas, suara dan ekspresinya memancarkan kesungguhan. Ia meraih tangan Ivy, menatap matanya, dan tersenyum lembut. “Ayo, kita buat liburan ini tak terlupakan.”

Ivy menatap Brayen, sedikit tersenyum meski mata masih berkaca-kaca. Perasaan campur aduk membuncah—rindu, lega, dan haru, semua bercampur saat mereka melanjutkan jalan di bawah langit sore Bristol yang indah.

Bersambung ! 

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang