71.

129 4 0
                                        

BAB 71


Sejujurnya, Adalgiso tak pernah menyangka jika Ivy memiliki kekuatan sebesar itu. Gadis muda itu berdiri tegap di dalam lingkaran biru yang ia ciptakan, perisai sihir kuno yang bahkan para penyihir besar di Semidio tak mampu menembusnya. Rasa kagum bercampur amarah berputar di dalam hati Adalgiso. Gadis itu… cepat atau lambat akan menjadi legenda, sama seperti ayahnya. Namun, semua akan bergantung pada jalannya sendiri—apakah ia akan meninggalkan nama harum seperti leluhurnya, atau justru menodai sejarah dengan kejahatan.

Cagatay yang berdiri di dekatnya hanya tersenyum tipis. Sorot matanya redup, namun di dalamnya ada percikan kebanggaan. “Aku tahu. Tapi aku serta semua orang tidak akan bisa membantu. Dia menggunakan sihir kuno, hanya dia yang bisa melepas segel itu.” Suaranya tenang, penuh kepastian.

Adalgiso menatapnya tajam, rahangnya mengeras. Perasaannya campur aduk—marah, kesal, dan juga kecewa. Ia sangat terpukul karena Taki adalah anak buah paling berbakat yang pernah ia miliki. Menyegel sihirnya sama saja dengan mematahkan kaki seorang manusia. “Bagaimana seorang penyihir bisa hidup tanpa kekuatan sihir?” pikirnya getir. Taki akan jatuh, akan menjadi pecundang di mata dunia. Itu membuat dadanya sesak.

“Dia harus bersabar. Ini hanya lima tahun.” Kalimat tenang Cagatay terdengar seakan menampar, namun juga menyalakan secercah harapan di dada Adalgiso.

Alis Adalgiso mengerut. “Apa maksudmu?” tanyanya dengan suara dalam dan penuh curiga.

Cagatay tersenyum samar, seolah ia tahu sesuatu yang tak pernah dimengerti orang lain. “Ivy akan mendatanginya lima tahun lagi untuk menghapus segelnya. Jadi bertahanlah.”

Ada jeda hening. Angin dingin malam Semidio berembus, membuat jubah hitam Adalgiso berkibar perlahan. Kata-kata itu sedikit menenangkan, seperti air segar yang menetes di padang tandus. Namun amarah di hatinya belum benar-benar padam.

“Lalu bagaimana dengan pemimpin perwakilan penyihir itu? Dia pasti akan mengincar putrimu,” ucap Adalgiso, nada suaranya menajam, penuh kekhawatiran yang ia samarkan dengan amarah.

“Putriku bukan gadis bodoh. Dia punya caranya sendiri untuk melepaskan diri,” balas Cagatay dengan keyakinan yang teguh.

Adalgiso memicingkan mata, seolah mencoba menembus pikiran pria di hadapannya. “Bagaimana kau bisa se-yakin itu?”

Cagatay hanya mengangkat kepalanya, sorot matanya berkilat penuh rahasia. “Apakah kau lupa, kalau aku adalah penjelajah waktu?”

Kata-kata itu membuat dada Adalgiso serasa kosong. “Aa…” ia terdiam, kehilangan kata-kata.

Ingatan itu tiba-tiba menyeruak—sepuluh tahun yang lalu, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana pria itu meninggal. Ya… Cagatay seharusnya sudah tiada. Namun kini, ia berdiri di hadapannya dengan tubuh nyata, bukan bayangan, bukan ilusi. Itu hanya bisa berarti satu hal: pria ini datang dari masa lalu.

Namun, ada satu pertanyaan yang selalu menghantui benaknya—jika benar Cagatay bisa melompati waktu, kenapa ia tidak mengubah masa lalunya? Kenapa ia membiarkan dirinya tetap mati di garis waktu lain?

Cagatay seakan bisa membaca keraguan itu, namun ia memilih untuk tidak menjawab. Sebaliknya, ia menundukkan kepala sedikit, nada suaranya merendah namun tetap penuh wibawa. “Sekali lagi, aku minta maaf atas kekacauan yang putriku buat. Ayahku mungkin akan datang sebentar lagi. Mintalah dia untuk membayar kompensasinya.”

Kata-kata itu membangunkan Adalgiso dari lamunannya. Ia hanya mendengus pendek, menahan seribu tanya yang masih berputar di kepalanya.

“Kalau begitu aku pergi dulu,” lanjut Cagatay. Cahaya terang mendadak menyelimuti tubuhnya dan gadis yang ia gendong. Cahaya itu begitu menyilaukan, seolah menelan segala bayangan di sekitar mereka. Dan saat cahaya itu meredup, Cagatay dan gadis itu lenyap, seakan mereka tak pernah ada di tempat itu.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang