BAB 55
Setelah itu Ivy dan Vivian kembali ke bagian depan kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Suasana di meja kasir terasa hening, hanya terdengar suara gesekan pena tua yang mencatat setiap barang, serta dentingan kecil dari koin emas yang dimasukkan ke dalam laci kayu berukir. Cahaya lilin dari lampu gantung menari-nari di dinding, menciptakan bayangan panjang yang bergetar seiring embusan angin dingin dari pintu masuk.
Ivy berdiri agak kaku di sisi meja, tangannya masih menggenggam tongkat sihir hitam yang baru saja ia pilih. Perasaan aneh masih menyelimuti dirinya, seolah tongkat itu sedang berdenyut di telapak tangannya, seakan hidup. Ia menatapnya beberapa kali, lalu cepat-cepat memalingkan pandangan. Vivian sendiri tampak resah. Senyumnya tipis, matanya sering melirik ke arah tongkat itu, namun ia memilih untuk diam, hanya sesekali menghela napas seakan menyimpan sesuatu yang tak ingin ia ucapkan.
Setelah pembayaran selesai, Ivy duduk di kursi panjang kayu tua dekat meja kasir. Kursi itu dingin dan sedikit berdebu, namun ia tetap duduk di sana sambil meluruskan punggungnya. Pandangannya berkeliling, memperhatikan rak-rak buku tua yang penuh debu, tumpukan botol ramuan yang sebagian besar berlapis lumut, serta meja kecil dengan tumpukan buku unik yang warnanya mulai memudar.
Saat itulah matanya berhenti pada sebuah tumpukan buku di atas meja kecil di sampingnya. Sampulnya kusam, sebagian pinggirannya mengelupas, namun tetap memancarkan kesan misterius. Ivy mengangkat alis, lalu bertanya pelan,
“Ini… buku apa?”
Vivian menoleh sekilas, wajahnya datar, namun nada suaranya terdengar acuh.
“Buku-buku itu tidak ada yang berguna. Aku berencana membuangnya.”
Ivy, yang selalu penasaran dengan sesuatu yang dianggap tak berguna, segera mengambil salah satu buku itu dan membukanya. Helaian kertasnya kaku dan tua, namun ada sesuatu yang membuat jantungnya berdebar lebih cepat. Setelah membaca sekilas, matanya membesar penuh keterkejutan. Ia segera berdiri, menghampiri Vivian dengan langkah cepat.
“A-apa aku bisa memilikinya?” tanyanya dengan nada sedikit terburu.
Vivian menatap Ivy agak heran, tapi kemudian hanya mengangguk singkat. “Iya, ambil saja.”
Jawaban singkat itu membuat Ivy tersenyum samar, meski ia sendiri tidak mengerti mengapa buku itu terasa begitu penting baginya.
Tak lama, pintu terbuka, dan Adalgiso muncul sambil menenteng banyak sekali barang belanjaan. Dari kejauhan saja terlihat betapa kerepotannya ia berjalan dengan kedua tangan penuh tas kain dan kotak berisi pakaian serta pernak-pernik. Ivy buru-buru berpamitan pada Vivian, lalu berlari kecil menyusul Adalgiso.
Pria tua itu mendengus keras, wajahnya merah karena lelah, namun suaranya tetap tegas saat berkata, “Semua ini untukmu.”
Ivy melirik isi tas-tas itu. Hampir semuanya berupa pakaian dengan warna lembut dan model yang manis, jelas berlawanan dengan sifat dingin dan keras yang ia tunjukkan selama ini.
Sejujurnya, Ivy merasa benda-benda itu tidak cocok untuk dirinya. Tapi melihat betapa repotnya Adalgiso membawakan semua itu, ia tidak tega mengeluh. Ia hanya tersenyum kecil, bahkan menahan tawa dalam hati. Baginya, cukup lucu melihat pria tua yang biasanya kasar dan pemarah itu membeli barang-barang semanis ini untuknya. Bukankah itu sisi unik yang jarang ia lihat?
Esok harinya, Ivy duduk di kursi panjang yang ada di sebuah lorong sepi. Lorong itu terlihat megah dengan gaya Eropa kuno, dindingnya terbuat dari batu pahatan abu-abu, kokoh dan dingin saat disentuh. Deretan jendela besar berbentuk setengah lingkaran berjajar di satu sisi dinding, membiarkan cahaya matahari pagi masuk dan memantulkan sinar hangat di atas lantai batu yang mengilap.
Merasa mulai bosan, Ivy membuka tasnya dan mengeluarkan buku yang ia dapatkan dari Vivian. Sampul lusuhnya kini lebih jelas terlihat. Ia menatap judul yang tertera dengan tinta hitam: Darah yang Tergenang. Judul itu memberi kesan kelam, sedikit horor, penuh misteri. Namun, bukan judulnya yang membuat Ivy begitu tertarik.
Jantungnya berdetak lebih cepat saat menemukan sebuah nama di halaman pembuka—Elsie Cotton. Nama itu nyaris serupa dengan nama aslinya sendiri.
Yap, ini adalah kisah tentang para penyihir di negeri Semidio. Novel itu memiliki alur cerita yang penuh liku, dengan konflik mengenai kasta para penyihir dan hubungan asmara yang penuh dengan cobaan.
Ivy membalik halaman berikutnya dengan hati-hati, ujung jarinya yang pucat menyapu kertas tua yang berbau debu dan tinta lama. Cahaya matahari dari jendela besar di lorong batu berwarna abu-abu menyorotinya, membuat huruf-huruf di halaman itu terlihat jelas. Suasana sepi di lorong hanya dipecah oleh bunyi halus kertas yang bergesekan ketika dibalik. Pandangan Ivy penuh rasa ingin tahu, namun di dalam matanya juga terselip ketegangan—seolah ia takut menemukan sesuatu yang lebih dalam tentang dirinya sendiri di dalam kisah itu.
Novel itu dimulai dari pengenalan keluarga McKellen. Keluarga bangsawan penyihir itu digambarkan sebagai keluarga yang kuat, kaya, dan sangat disegani. Selama ratusan tahun, mereka selalu melahirkan keturunan hebat yang namanya harum di seluruh negeri. Ivy bisa membayangkan kemegahan istana mereka: aula tinggi dengan pilar-pilar menjulang, lambang keluarga berwarna emas terpampang di dinding, serta suara langkah para bangsawan yang bergaung di lantai marmer dingin.
Sir John McKellen adalah kebanggaan keluarga itu. Sejak lahir, ia sudah dipuji karena energi sihirnya yang luar biasa. Namun, di sisi lain ada Hugo Murray McKellen, sepupu Sir John, yang dianggap sebagai aib keluarga. Ivy merasakan ada semacam ironi getir saat membaca itu, bibirnya menegang seolah ia sendiri sedang menanggung beban Murray.
Hugo Murray McKellen lahir dengan potensi yang sama besarnya, bahkan lebih kuat dari Sir John. Tetapi takdir kejam menimpanya ketika ia berusia tujuh atau delapan tahun. Seorang penyihir jahat menyihirnya hingga buta. Orangtuanya dan para penyihir terkuat negeri itu tak mampu menyembuhkan mata Hugo. Hingga suatu hari, seorang penyihir baik hati berhasil mengembalikan penglihatannya. Sayangnya, pengobatan itu melemahkan energi sihirnya, membuatnya dipandang sebagai sampah. Bahkan keluarganya sendiri enggan mengakuinya sepenuhnya.
Di asrama sekolah menengah penyihir, tempat semua anak-anak berbakat ditempa, Murray dan Sir John berada di tingkatan yang sama. Sekolah itu memiliki sistem kasta ketat, di mana anak-anak dengan nilai dan sihir terbaik diperlakukan istimewa, sementara yang lemah dipandang rendah. Ivy bisa merasakan atmosfer sekolah itu, penuh hiruk-pikuk suara tawa, bisikan meremehkan, dan tatapan penuh ejekan yang menekan Murray setiap harinya.
Murray sering dibully, dipukul, dan dijauhi. Hingga pada suatu hari, seorang gadis bernama Elsie Cotton muncul seperti cahaya di tengah kegelapan hidupnya. Elsie membantu Murray, tidak hanya dalam pelajaran, tetapi juga melindunginya dari gangguan teman-teman yang kejam. Ivy terdiam sejenak, menatap nama itu dengan sorot mata sendu. Elsie… Cotton. Nama itu lagi-lagi menusuk pikirannya, terasa begitu dekat dengan dirinya sendiri.
Sejak hari itu, Murray dan Elsie menjadi dekat. Tanpa sadar, Murray jatuh cinta pada kebaikan gadis itu. Namun Sir John, yang juga menaruh hati pada Elsie, mulai merasa cemburu. Dengan memanfaatkan kedekatannya dengan Murray, Sir John perlahan mendekati gadis itu.
Hingga akhirnya, Sir John benar-benar berhasil membuat Elsie jatuh hati, dan keduanya resmi berpacaran. Ivy bisa membayangkan perasaan Murray yang hancur—sakit, marah, dan tersisih. Murray mencoba segala cara untuk memisahkan mereka, bahkan tega menyebarkan rumor bahwa Elsie adalah keturunan darah kotor agar Sir John menjauhinya.
Kenyataannya, Elsie memang bukan keturunan penyihir murni. Ibunya hanyalah seorang manusia biasa, meski seorang pahlawan yang kaya dan terhormat. Rumor itu menyebar cepat, mengguncang reputasi Elsie. Banyak orang mulai menjauhinya, menatapnya dengan curiga, berbisik-bisik di belakangnya. Ivy bisa merasakan kepedihan gadis itu, kesendirian yang menghimpitnya, mirip dengan apa yang sering ia rasakan dalam hidupnya sendiri.
Namun, Sir John tetap teguh berada di sisi Elsie. Kesetiaannya membuat Murray semakin membenci sepupunya. Kemarahan dan iri hati itu tumbuh liar di dalam dirinya, hingga akhirnya membangkitkan kekuatan sihir yang telah lama terkunci. Tenaga itu meledak begitu dahsyat, membuat tubuh Hugo Murray McKellen seakan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih gelap—sebuah monster yang lahir dari amarah dan rasa sakit.
Ivy menutup novel itu dengan cepat, napasnya agak tersengal. Jantungnya berdegup lebih kencang, seolah kisah itu bukan sekadar cerita rekaan. Ada sesuatu di dalamnya yang terasa… nyata.
Bersambung !
KAMU SEDANG MEMBACA
SEMIDIO
Romance"Jauhi gelapnya malam... dan indahnya bulan, jika kau ingin terhindar dari kutukan." Itulah yang dikatakan seorang peramal padaku bertahun-tahun lalu. Saat itu aku hanya tertawa. Siapa yang percaya pada kutukan di zaman modern ini? Namun, semuanya b...
