87.

6 0 0
                                        

BAB 87


"Aku tahu, aku bekerja untuk makan. Tapi entah kenapa aku begitu semangat melakukannya. Aku juga sangat menantikan saat jam pulang tiba," gumam Murray dengan napas berat, namun sudut bibirnya terangkat tipis.

Bayangan tentang Ivy yang menjemputnya pulang ke rumah seolah terlukis jelas di pelupuk matanya. Pemandangan sederhana itu saja sudah cukup membuat Murray tanpa sadar tersenyum, meski peluh masih menetes deras di wajahnya.

"Ivy... dia sedang apa sekarang, ya? Apa pekerjaannya juga seberat ini?" lirih Murray sambil menatap kosong ke arah ladang yang dikelilingi pepohonan tinggi. Angin siang membawa aroma tanah kering dan jerami, namun yang mengisi pikirannya hanya sosok Ivy.

"Ah, sial..." gumamnya lagi, kali ini lebih keras, sambil mengacak rambutnya sendiri dengan gusar. "Gadis itu selalu ada di pikiranku. Aku merasa begitu nyaman saat dekat dengannya. Aku merasa marah saat mendengar dia bicara soal kekasihnya. Aku sedih... bahkan khawatir saat melihatnya kesakitan."

Mata Murray meredup. Perasaan asing itu terus menekan dadanya, hangat sekaligus menyesakkan. "Apa yang terjadi denganmu, Murray... Perasaan ini... terus tumbuh? Apa ini... yang namanya cinta?" tanyanya pada diri sendiri. Pertanyaan itu tak mendapat jawaban, namun tubuhnya sendiri bereaksi—perutnya terasa tergelitik, hatinya berdebar, seakan setuju dengan kegelisahan yang ia rasakan.

Di tempat berbeda, Ivy tengah belajar membuat roti. Dapur sederhana milik Loren dipenuhi aroma adonan hangat dan tepung yang beterbangan tipis di udara. Cahaya matahari siang menembus jendela kayu kecil, menyorot rambut Ivy yang berantakan karena sibuk menguleni adonan.

Loren, seorang wanita paruh baya, berdiri di sampingnya. Dengan sabar ia mengarahkan tangan Ivy, memperbaiki gerakan yang terlalu kaku. "Pelan saja, jangan terburu-buru," ujarnya lembut. Di sela-sela itu, ia juga menjelaskan pekerjaan lain yang harus dilakukan Ivy di toko, mulai dari membersihkan lantai, hingga melayani para pembeli yang datang tiap pagi.

Loren kemudian memperkenalkan Ivy pada keluarganya. Suaminya, Tutin, seorang pria berwajah ramah yang sering terlihat membawa karung tepung dengan mudah. Sedangkan kedua anaknya, Dora dan Dion—saudara kembar yang usianya sekitar dua tahun lebih tua dari Ivy—menyambutnya dengan senyum hangat.

Meski suasana begitu akrab, hati Ivy terasa getir. Ia mendapati fakta mengejutkan: Loren dan Tutin menikah di usia sangat muda, mungkin 14 atau 15 tahun. Bagi Ivy, hal itu terasa aneh, tapi di zaman 1319, hal itu adalah hal yang lumrah. Kenyataan itu membuat pikirannya melayang pada dirinya sendiri. Ia dan Murray juga telah menikah, meski dengan tergesa-gesa, tanpa cinta atau persiapan apapun. Fakta itu menorehkan rasa bersalah yang semakin berat di hatinya. Ia merasa seolah mengkhianati Brayen.

Satu minggu kemudian. Langit sudah terang benderang ketika Ivy bangun lebih awal. Bahunya yang kecil tampak bergetar ketika ia mencoba mengangkat karung tepung hampir seberat tubuhnya. Napasnya memburu, kakinya goyah.

Melihat itu, Dion yang kebetulan berada di dekatnya langsung bergerak cepat. Pemuda berusia dua tahun lebih tua darinya itu mendekat sambil berkata dengan nada mantap, "Biar aku bantu."

Ivy buru-buru menggeleng, berusaha menolak, namun Dion sudah meraih karung itu dari punggungnya dengan mudah. Wajah Dion tampak bersemangat, ada sedikit sinar bangga di matanya. Tanpa berkata banyak lagi, ia melangkah masuk ke dapur sambil membawa beban itu.

Di dalam dapur, Loren sudah menunggu. Begitu melihat putranya masuk sambil membawa karung tepung, wajah Loren langsung berubah sinis. Ia tahu persis apa yang tengah bergejolak di hati Dion. Tatapannya tajam, penuh peringatan.

"Berhentilah mencari perhatiannya," ucap Loren dengan suara dingin. "Dia itu sudah menikah!"

"I... ibu..." Dion mengerutkan kening, suaranya terdengar seperti keluhan, lebih mirip anak kecil yang merasa dipersalahkan.

SEMIDIOTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang