"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?"
Disclaimer!⚠️
Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar.
Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
Mayor Teddy bergegas mengganti pakaian dinasnya menjadi lebih santai, ia hanya menggunakan kaos hitam dan celana pendek selutut berwarna coklat. Laki-laki itu bergegas melajukan mobilnya menuju tempat yang diberi tahu oleh Deril. Benar saja dugaannya, Vanessa menginjakkan kakinya di club & bar di daerah Kemang. Lebih tepatnya adalah HW Tiger Club Kemang.
Selama perjalanan, pikiran Mayor Teddy sangat kacau. Apalagi perjalanan dari Kemhan ke Kemang itu cukup jauh dan memakan banyak waktu. Ditambah waktu jam pulang kantor, ia hanya bisa bersabar sembari terus menelepon Vanessa yang tidak mengangkat teleponnya sama sekali.
"Dia ini sengaja tidak mau angkat telepon saya atau memang lagi party, sih?" Mayor Teddy mengomel sendiri, hampir sepuluh kali ia menelepon Vanessa dan tidak ada yang diangkat satu pun oleh gadis itu.
Ia hanya tidak ingin Vanessa disentuh oleh siapa pun, bahkan sesama temannya sendiri. Ditambah gadis itu jika sudah mabuk, ia seperti memiliki kepribadian ganda. Selain takut dengan keadaan Vanessa, ia juga mengkhawatirkan keadaan Bapak.
Mati sudah jika ada yang menyadari keberadaan gadis itu, apalagi ada yang mengekspos Vanessa ke sosial media. Pasti semakin pusing Mayor Teddy mengurus itu semua, belum lagi media yang akan heboh dan mencari tahu kebenarannya. Walaupun Bapak tidak masalah, tapi tetap saja bagi Mayor Teddy itu sangat riskan walaupun pilpres sudah berakhir.
Menempuh perjalanan satu jam lebih, Mayor Teddy sampai di parkiran club tersebut. Sesegera mungkin mencari keberadaan cucu Bapak itu. Sungguh, ia tidak melarang Vanessa masuk ke dunia seperti ini, bahkan Bapak pun tidak melarang juga. Hanya saja, ia khawatir jika ada hal aneh yang terjadi, apalagi dunia seperti ini tidak memiliki aturan. Anak Gen Z sudah terlampau bebas.
Mayor Teddy masuk dengan segera, menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari pasukan yang paling ramai di club ini. Situasinya sangat ramai dan berisik hingga Mayor Teddy harus berusaha lebih untuk menemukannya. Setelah mengelilingi dan naik turun tangga club ini, Mayor Teddy menemukan Vanessa yang sedang tertawa terbahak-bahak dan situasi heboh dengan obrolan yang sepertinya memang seru bersama teman-temannya. Mayor Teddy bisa bernapas lega karena sepertinya Vanessa tidak membeli minuman yang ber-alkohol.
"Happy banget dia." Gumam Mayor Teddy yang sedikit menyeringai.
Melihat itu saja Mayor Teddy sudah lega, lebih baik ia memantau Vanessa dari jauh. Membiarkan Vanessa menghabiskan waktunya hari ini bersama teman-temannya, ia tahu betul perjuangan dan pengorbanan Vanessa selama skripsi seperti apa. Memang ada kalanya hal seperti ini dirayakan di tempat seperti yang ini, tergantung diri sendiri untuk mengontrolnya.
Sepertinya, Vanessa mengganti pakaiannya, mungkin memang dibawanya dari rumah. Karena seingatnya, Vanessa tidak memakai pakaian seperti itu ketika berangkat ke kampus dan tidak mungkin juga gadis itu memakai pakaian yang tidak sesuai dengan aturan di kampus. Walaupun Vanessa sepertinya nyaman dengan pakaiannya, di dalam benak Mayor Teddy, ia cukup terkejut, bocil itu memang sudah dewasa.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.