"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?"
Disclaimer!⚠️
Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar.
Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
"Loh, tumben nggak ada Pak Teddy?" Ati yang sadar akan hal itu langsung bertanya ketika Bapak pulang.
Yang terlihat hanya Rizky, Agung, Rajif, Lino, dan Deril yang masuk ke dalam rumah. Mungkin staff ADC Bapak yang lain ada di luar, entah itu merokok, nge-vape, live TikTok, atau mengobrol untuk melepas penat setelah bekerja seharian.
Vanessa yang mendengar itu dari dapur mengernyit bingung. Ia sedang memakan spaghetti carbonara yang ia bikin sendiri. Melihat tidak ada batang hidung Mayor Teddy yang masuk ke dalam rumahnya, ia juga mati penasaran. Hari ini bukan weekend, Mayor Teddy jarang sekali mengambil waktu libur atau ambil cuti jika bukan keadaan yang mendesak di hari kerja.
"Apa gue chat aja, ya, buat nanya?" Gumam Vanessa, memang hari ini mereka tidak ada saling berkabar. Vanessa sebenarnya mau saja ngechat duluan tapi ia sangat gengsi.
"Mayor Teddy ada agenda lain yang penting, mbak. Makanya tidak ikut mengantar Bapak pulang." Jawab Rizky, dan Ati hanya mengangguk paham.
"Ih chat nggak, ya? Gengsi banget gue." Gumamnya lagi, Vanessa ribut dengan isi kepala dan isi hatinya sendiri.
"Apa gue cari tahu dari TikTok aja kali, ya? Biasanya akun fanbase-nya pasti update. Atau gue tanya Mas Rizky ada agenda apa? Ah, nanti gue diledekin lagi." Sungguh Vanessa sangat bimbang, bahkan ia menganggurkan spaghetti carbonara-nya yang terlihat nikmat.
"Udah, chat aja, Nes, daripada mati penasaran." Tiba-tiba Ati muncul di hadapannya.
"Hah?" Vanessa pura-pura bingung.
"Gue udah tahu, bisa-bisanya lo nggak cerita ke gue, ya." Ati sedikit marah.
"Bukan gitu, gue takut kalau gue cerita, nanti lo ngehujat gue karena itu." Vanessa mengetuk-ngetuk garpunya di atas piring.
"Bisa, Nes, perasaan lo pasti tumbuh dengan sendirinya. Percaya deh, jangan terlalu terjebak sama traumatis, kasihan lo-nya kesiksa sendiri." Ati kini malah merebut spaghetti carbonara-nya.
Namun, Vanessa tidak menghiraukannya. Vanessa hanya menunduk saja mendengar omelan sepupunya itu.
"Rugi, Nes, sia-siain aset negara yang satu itu. Disaat semua orang berusaha dapatin hatinya, ini beliau yang berusaha dapatin hati lo. Pak Teddy sempurna banget, Nes, semua orang tuh pengen punya pasangan kayak beliau, pesona pria matang tuh, beuh nggak ada yang ngalahin." Cerocos Ati.
"Udah chat aja, sekali-sekali coba lo yang cariin beliau. Jangan beliau terus yang cariin lo atau beliau yang berusaha sendiri. Kalau lo emang niat, ada keinginan, dan juga ada niat mau balas perasaannya, ayo, Nes, lo harus berjuang juga, jangan ikutin gengsi. Jangan bikin Pak Teddy ngerasa, kok cuma saya yang mati-matian berjuang, jangan gitu." Ati mencoba memberikan pencerahan kepada sepupunya, ia mengerti kalau Vanessa tidak harus buru-buru membuka hatinya kembali.
Vanessa mengangguk, ia keluarkan ponselnya dari kantong celana pendeknya itu, membuka aplikasi WA dan mengirimnya pesan kepada Mayor Teddy.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.