101

7.2K 373 56
                                        

Vanessa duduk bersandar di sandaran ranjang, matanya secara alami tertuju pada sosok Mas yang sedang mengganti bajunya didekatnya. Namun, tidak ada pikiran aneh yang melintas di benaknya. Perempuan itu justru tenggelam dalam pikirannya sendiri, memikirkan hal-hal lain yang mengalir seperti sungai di otaknya.

Sementara itu, tanpa ia sadari, pemandangan di depannya sebenarnya cukup mencolok. Otot-otot Mas yang tegas, lekuk tubuhnya yang terlihat begitu terjaga, semuanya memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan. Mungkin karena pikirannya yang sibuk atau karena ia terlalu terbiasa dengan kehadiran Mas, godaan yang nyata itu justru berlalu begitu saja di matanya.

"Mas, aku mau nanya deh. Tapi kamu jangan marah." Pinta Vanessa, kini mereka bersiap-siap untuk tidur sebelum besok akan dikejutkan dengan banyaknya pekerjaan.

"Kenapa, sayangku?" Tanya Mas yang langsung bergabung di atas ranjang. Namun, godaan Mas yang langsung mengecup bibir Vanessa beberapa detik membuat Vanessa tertawa pelan.

"Tapi jangan marah loh ya, aku pure nanya aja ini." Vanessa sudah mengingatkannya.

"Iya, apa?" Tanya Mas lagi.

"What if kalau aku selingkuh, Mas? Terus kamu bakal gimana?" Jangan tanya perasaan Mas yang campur aduk mendapat pertanyaan dari istrinya.

"Pertanyaan kamu sensitif banget ya." Mas tertawa kaku. Tak pernah sekalipun ia harus menjawab pertanyaan yang tidak pernah ia pikirkan sekalipun.

"Kamu kalau tahu aku seperti itu, langsung marah nggak?" Tanya Vanessa, ia memeluk guling dengan pandangan tetap kepada suaminya itu.

"Nggak marah." Kata Mas dengan gelengan.

"Loh, kok gitu?" Vanessa mengernyit bingung.

"Kalau misalnya kamu selingkuh, berarti ada sesuatu. Ada yang salah sama Mas. Harusnya Mas yang marah ke diri sendiri." Ucap Mas yang menyentuh surai Vanessa.

"Mas pasti bertanya-tanya ke diri sendiri, kurang Mas apa sampai kamu setega itu semisal kamu nyakitin Mas, padahal Mas nggak pernah bikin kamu merasa kurang." Lanjut Mas.

"Hal apa yang kamu lakukan saat tahu aku selingkuh?" Vanessa semakin menggeser tubuhnya mendekati Mas.

Mas tampak terdiam sejenak, alisnya sedikit berkerut, menandakan pikirannya sedang bekerja keras. Ada jeda yang cukup panjang di antara pertanyaan yang dilontarkan Vanessa dan jawaban yang akhirnya ia berikan. Wajahnya menunjukkan seseorang yang berhati-hati, seakan-akan ia sedang memilih kata-kata dengan sangat cermat.

Dia tahu betul bahwa jawaban yang salah, meskipun tanpa niat buruk, bisa membawa dampak besar. Satu sisi, dia tidak ingin menyakiti hati istrinya, sosok yang sudah lama menemaninya. Di sisi lain, dia juga tidak ingin Vanessa salah paham, apalagi jika salah satu ucapannya bisa menciptakan jarak atau melukai perasaan istrinya.

Akhirnya, Mas berbicara, suaranya tenang dan penuh pertimbangan, seperti seseorang yang telah memilih jalan di tengah kerumitan hati yang penting baginya.

"Nyalahin diri sendiri." Jawaban Mas justru membuat Vanessa terdiam. Tak menyangka dibandingkan Mas akan memarahinya atau memaki-makinya, justru Mas menyalahkan dirinya sendiri.

"Mas nggak akan bertanya alasan kamu seperti itu karena menurut Mas perbuatan selingkuh itu dilakukan secara sadar dan memang kemauan dari manusia itu sendiri. Tapi, bukan berarti Mas nggak kecewa. Jelas akan kecewa berat karena itu akan berdampak ke rumah tangga kita dan anak-anak juga." Jelas Mas dengan menyelipkan rambut Vanessa ke belakang telinganya.

"Tapi, kalau emang dasarnya kamu udah nggak cinta sama Mas, Mas harus apa?" Pertanyaan Mas sangat menyesakkan.

"Bertahan dalam rumah tangga disaat hanya salah satu yang masih cinta, untuk apa? Kalau Mas, secinta mati apapun sama kamu, kalau semisal kamu seperti itu, Mas langsung mundur." Lanjut Mas.

He Fell First and She Never Fell?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang