96

7.4K 377 45
                                        

"Jangan bertengkar sama Kak Naira ya, Adek." Vanessa mengecup kedua pipi Kai yang kini tengah mengemil biskuit kesukaannya sembari menonton kartun. Kai hanya mengangguk tanpa menoleh kepada Vanessa. Ibu tiga anak itu tertawa kecil dan mengelus puncak kepalanya.

"Abang jaga adik-adiknya sama Papa ya, sayang." Vanessa mengecup singkat pipi Rafa.

"Iya, Bunda, hati-hati di jalan ya." Ucap Rafa dengan senyum manisnya, walaupun ia masih berusaha mengumpulkan nyawanya.

"Kamu pulang jam berapa, sayang?" Tanya Mas yang tengah turun dari lantai dua.

"Sembilan malam kayaknya, Mas. Nanti aku kabarin lagi ya." Vanessa menyalami Mas, mencium kedua pipinya sebelum pergi ke rumah sakit.

"Naira belum bangun, ya?" Tanya Vanessa, sepertinya Mas dari lantai dua untuk mengecek anak gadisnya sudah bangun atau belum.

"Belum, masih molor." Sahut Mas kepada istrinya.

"Mas anterin ya." Ucap Mas yang sudah siap mengambil kunci mobil.

"Eh nggak usah, aku bawa mobil aja." Tolak Vanessa sambil mengelus kedua pipi Mas.

"Beneran nggak mau dianterin?" Tanya Mas lagi memastikan.

"Nggak usah, kamu jaga anak-anak aja. Aku minta maaf weekend gini aku malah kerja. Seharusnya aku luangin waktu aku untuk kamu dan anak-anak." Ucap Vanessa dengan rasa bersalahnya.

"Nggak papa, Ibu Peri sayang. Kamu juga mendadak ada pasien yang harus ditangani, ini di luar kendali kamu. Nanti kalau pengen dijemput, kabarin Mas aja ya. Biarin aja mobil kamu ditinggal di rumah sakit kalau kamu nggak sanggup bawanya pas pulang." Mas menyuapi sarapan yang ia buat hari ini khusus untuk Vanessa.

Pagi itu, suasana rumah yang awalnya tenang berubah menjadi sibuk setelah Vanessa menerima telepon mendadak dari rumah sakit. Tepat setelah Sholat Subuh, suara ponsel yang berdering membuat Vanessa panik. Ia segera mengangkat telepon, dan setelah mendengar kabar dari seberang, wajahnya berubah cemas. Vanessa langsung kalang kabut, mengambil tas kerjanya, dan bersiap secepat mungkin.

Mas yang memperhatikan istrinya, segera menyadari bahwa Vanessa mendapat panggilan darurat. Tanpa banyak bicara, Mas segera mengambil inisiatif untuk menyiapkan sesuatu untuk istrinya. Mas tahu betul kebiasaan Vanessa, jika ada panggilan mendadak seperti ini, Vanessa sering lupa untuk makan. Maka, ia pergi ke dapur dan memeriksa bahan-bahan yang tersisa. Sayangnya, persediaan di dapur hampir habis, tetapi itu tidak menghentikan Mas untuk tetap membuatkan sesuatu.

Dengan bahan seadanya, ia menyiapkan semangkuk oatmeal Quaker yang dicampur dengan susu hangat. Meski sederhana, Mas memastikan makanan itu cukup untuk memberikan energi pada istrinya yang akan segera berangkat. Ia menyajikan oatmeal itu di atas meja, kemudian memanggil Vanessa yang masih sibuk mempersiapkan barang-barangnya. Melihat perhatian Mas, Vanessa merasa sedikit lebih tenang meskipun waktu terasa begitu sempit. Meskipun ia terburu-buru, perhatian Mas membuatnya merasa dihargai dan didukung di tengah situasi yang mendesak ini.

"Udah? Atau mau dihabisin?" Tanya Mas melihat Vanessa buru-buru sekali menelan makanannya. Istrinya itu bahkan tidak bisa duduk karena sudah terus ditelfon karena ada pasien yang membutuhkannya.

"Udah, sayang, makasih ya. Aku berangkat dulu." Ucap Vanessa setelah suapan terakhirnya ia mengecup lagi pipi Mas yang kedua tangannya sibuk memegang sendok dan mangkok. Padahal oatmel itu sedikit lagi habis. Akhirnya, Mas yang menghabiskan.

"Sayang, sebentar." Ucap Mas, ia menaruh mangkok berisi oatmel itu di atas meja, lalu ia mengambil tisu dan tumblr-nya. Kebiasaan Vanessa jika sudah buru-buru, ia akan lupa dengan barang-barangnya.

He Fell First and She Never Fell?Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang