Seperti yang disampaikan oleh Bapak tadi siang di hotel, seluruh rombongan yang ikut dalam liburan kali ini sudah berkumpul di lobi hotel. Mereka terlihat antusias, dengan wajah penuh rasa penasaran, menunggu pengumuman tujuan destinasi dari Bapak dan Ibu.
Setiap orang sudah tampak rapi dan siap untuk memulai perjalanan, membawa energi yang menyenangkan ke dalam suasana. Beberapa dari mereka saling berbicara pelan, menduga-duga ke mana mereka akan pergi. Namun, semua perhatian tertuju kepada Bapak dan Ibu, yang akan segera memberikan arahan terkait destinasi wisata yang akan dikunjungi. Semangat dari rombongan semakin terasa, menandai dimulainya petualangan liburan yang ditunggu-tunggu.
"Jadi, kita kemana?" Tanya Vanessa langsung membuka suara ketika semuanya sudah berkumpul.
"Nenek mau ke Shibuya Sky, setelahnya kita dinner di Restoran Shibuya Blue Bird. Masih satu gedung dengan Shibuya Sky." Celetuk Ibu dengan suara lembut dan keibuannya.
"SERIUS?!" Vanessa yang mendengar itu teriak girang sekali.
"Kenapa malah kamu yang girang?" Ledek Mas melihat istrinya yang tengah jingkrak-jingkrak di sebelahnya.
"Mati lah gue." Ucap Lino dengan lesu.
"Mati juga gue." Bisik Agung.
"Ih itu spot terbaik lihat Kota Tokyo 360 derajat, Mas. Impian aku tahu!" Sahut Vanessa berbinar-binar, sedangkan Mas menatap istrinya dengan kelewat gemas.
"Iya, Ibu mau lihat sunset dari atas sana." Celetuk Ibu lagi.
"Ini Ibu gabut banget apa gimana, ya? Jauh-jauh ke Jepang cuma mau lihat sunset." Bisik Lino.
"Ya beda vibes-nya goblok." Deril menggeplak topinya Lino.
"Saya dengar loh, Lino." Tegur Ibu dengan tatapan tajamnya.
"Hehehe.. bercanda, Ibu cantik." Lino cengengesan.
"Bapak ngikut saja, biarkan Ibu yang ngurus semuanya." Sahut Bapak tanpa protes.
"YES!!" Ati juga ikut girang, dia dan Vanessa berpelukan dengan excited.
Sementara itu, para cicit Bapak tampak kebingungan. Mereka saling melirik satu sama lain, mencoba mencari petunjuk tentang bagaimana harus bereaksi. Tidak seperti orang dewasa yang mungkin sudah memiliki gambaran atau rasa antusias terhadap destinasi yang disebutkan, anak-anak ini tidak tahu apa-apa tentang tempat tersebut.
Raut wajah mereka mencerminkan campuran rasa penasaran dan sedikit kebingungan. Naira tampak berbisik. "Itu tempat apa, sih?" yang kemudian diikuti oleh anggukan setuju dari yang lain.
Mereka tampaknya menunggu penjelasan lebih lanjut atau gambaran yang bisa membuat mereka memahami apa yang sebenarnya menarik dari tujuan itu. Meski bingung, mereka tetap mengikuti suasana, mencoba menyerap semangat liburan dari orang-orang di sekitar mereka.
"Pa, itu tempat apa? Kenapa Bunda yang girang banget sama Tante Ati?" Tanya Naira kepada Papanya, mendengar Naira yang bertanya, Rafa dan Kaivan juga ikut menoleh.
"Tempat wisata, tapi tinggi banget dan bisa lihat Kota Tokyo dari atas. Bunda sama Tante Ati lagi merayakan keinginan mereka yang tertunda itu. Dulu, waktu Pipu punya banyak kesempatan kunjungan kerja ke Jepang, Bunda dan Tante Ati nggak bisa ikut. Soalnya, mereka sibuk kuliah, banyak ujian, dan sulit dapat waktu." Jelas Mas kepada ketiga anaknya.
"Ini sih kayaknya kita nemenin Bunda yang liburan." Ucap Rafa.
"Pantesan." Kata Naira.
"Bunda sama Tante Ati nggak berhenti ketawa, Pa." Kata Kaivan dengan polosnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Fell First and She Never Fell?
Fiksi Penggemar"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?" Disclaimer!⚠️ Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar. Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
