Pasca operasi yang tidak membutuhkan waktu yang lama, operasi pemasangan ring jantung Mama selesai dalam waktu tiga jam. Ruang operasi terbuka lebar, terlihat beberapa tim medis membawa ranjang Mama menuju ICU. Tentu terakhir Vanessa yang keluar dengan seragam operasinya dan membuka masker medisnya.
"Gimana, sayang?" Tanya Mas yang rasanya ingin tahu secepat itu.
"Alhamdulillah lancar, ring jantung Mama dipasang di lengan. Setelah ini Mama masuk ICU untuk diobservasi. Selama periode ini, Mama diharuskan berbaring di tempat tidur. Nanti aku atau perawat yang ngasih informasi terkait pantangan setelah pasang ring jantung dan memantau tanda-tanda vital Mama. Nanti kalau Mama udah sadar, aku juga kasih tahu lokasi pemasangan ring jantungnya karena lokasi pemasangan itu nggak boleh digerakin dulu." Ucap Vanessa tersenyum puas dengan kinerjanya hari ini. Namun, Vanessa menyadari jika Mas terdiam beberapa saat.
"Makasih ya Ibu Peri, kamu bener-bener Ibu Perinya Mas." Mas langsung memeluknya erat.
"Alhamdulillah syukurlah." Ucap Papa yang juga ikut bahagia dan lega.
"Makasih banyak ya, Vanessa." Kakak mengatakannya dengan berbinar-binar.
Vanessa meresponnya dengan anggukan yang ikutan merasa lega.
"Kalau gitu, nanti kalau udah diperbolehkan masuk, ganti-gantian ya. Kalau perkembangan Mama membaik, nanti dipindahin ke rawat inap." Jelas Vanessa lagi.
Mas, Papa, dan Kakak mengangguk mengerti. Vanessa juga menatap ketiga anaknya yang mungkin baru datang itu ikutan kaget dan panik. Pasti mereka bertiga juga shock mendengar Omanya masuk rumah sakit.
"Bunda keren!" Ucap Kai dengan dua jempolnya. Vanessa mendekat ke anak bungsunya. Berjongkok di depan Kai dan memeluknya. Vanessa merasa energinya kembali terisi setelah memeluk anak bungsunya ini.
"Oma baik-baik aja kan, Bun?" Tanya Naira dengan cemas.
"Doain Oma membaik ya, Kak. Oma harus Bunda pantau juga." Ucap Vanessa setelah melepas pelukannya dengan Kai.
"Makasih ya, Bunda." Sahut Rafa di belakang Naira. Vanessa mengelus puncak kepala anak sulungnya.
"Anak-anak Bunda udah makan?" Tanya Vanessa.
"Udah! Tadi Om Rian beliin pizza!!!" Kai histeris heboh.
"HEH! INI RUMAH SAKIT! NGGAK USAH KAYAK TOA NGOMONGNYA!" Ketus Naira kepada Adiknya.
"Mulai deh mulai." Sahut Rafa dengan helaan napasnya yang berat.
"Apasih galak banget, Kak!!" Omel Kai.
"Udah, bisa stop kalian berdua? Papa lagi sedih, Bunda juga capek. Nggak usah tantrum." Ucap Rafa dengan tegasnya. Mendengar ucapan Kakaknya, Naira dan Kai langsung berhenti dan saling tatap bermusuhan dengan hati mereka yang masing-masing saling mengutuk.
Sertu Rian dan Prada Gilang langsung ikut menengahi Naira dan juga Kai. Mereka berdua langsung ditarik pelan oleh kedua ajudan Mas untuk sedikit menjauh. Untuk seperti ini saja, Mas tidak ada tenaga untuk memarahi anak-anaknya.
Kakak, kedua anaknya, dan juga Papa sudah berpindah ke ruang tunggu ICU. Mungkin Papa nanti yang pertama akan masuk karena sedari awal Papa sangat khawatir walaupun tidak begitu ditunjukkan.
"Sayang, aku nanti ke kamu lagi, ya? Aku mau check Mama sama ganti baju dulu." Sahut Vanessa kepada Mas yang sepertinya belum bisa membawa dirinya rileks.
"Mas, ada aku. Jangan khawatir lagi ya. Mama udah baik-baik aja." Sahut Vanessa yang menarik tangan suaminya.
"Mama kapan sadar, sayang?" Tanya Mas.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Fell First and She Never Fell?
Fanfiction"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?" Disclaimer!⚠️ Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar. Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
