"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?"
Disclaimer!⚠️
Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar.
Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Vanessa merasakan kepanikan merayap di hatinya saat membaca respons Mas di chat yang terlihat dingin dan berjarak. Setiap kata yang dibacanya seperti menegaskan kemarahan tersembunyi, membuat dadanya berdebar kencang. Ia tak menduga akan mendapat respons seperti itu, dan kini pikirannya dipenuhi berbagai pertanyaan.
Rasa takut mulai muncul, membayangi pikirannya. Vanessa langsung mengetik pesan balasan, namun kemudian ragu, menghapusnya, dan menulis lagi, bingung harus berkata apa agar situasi tidak semakin memburuk. Ia tahu bahwa Mas bukan tipe yang mudah marah kepadanya, dan hal itu justru membuatnya semakin cemas.
"WOI, TANGGUNG JAWAB! MAS NGAMBEK!" Teriak Vanessa histeris di ruang tengah Kertanegara. Gadis itu jadi panik sendiri.
"Mbak Nessa, itu ide kamu sendiri." Lino membantu menyadarkannya.
"Iya sih, tapi takut banget kalau Mas beneran marah ini." Ucap Vanessa dengan gelagat takutnya.
"Tahan, mbak. Biar sukses ini rencana kita." Sambung Rajif dengan santainya.
"Aaa.. nggak bisa, ih kasihan Mas aku pasti udah berharap banget aku ucapin." Rengek gadis itu, Vanessa sungguh ketakutan jika Mas sungguh marah padanya.
"Mas aku." Ledek Lino, dan langsung dibalas tatapan sengit oleh Vanessa.