Hampir seminggu Vanessa dan Mayor Teddy tidak bertegur sapa, dan seminggu itu juga tidak ada pertikaian setiap pagi. Bahkan, Mayor Teddy juga tidak lagi membangunkan Vanessa. Ikut masa bodo jika gadis itu terlambat dan berakhir terburu-buru. Mayor Teddy sungguh tidak lagi peduli dengan segala hal tentang Vanessa.
Vanessa memang masih suka bangun terlambat, tapi yang membuatnya senang adalah Deril dan Agung tidak membangunkannya seperti yang dilakukan Mayor Teddy. Mereka tidak memarahinya, bahkan tidak meneriakinya seperti Mayor Teddy biasanya.
Walaupun sering berpapasan, sering berada di satu meja makan, dan terkadang Vanessa yang beberapa kali mampir ke Kemhan, tidak jarang ia melihat kehadiran Mayor Teddy. Malahan sering sekali. Tapi, memang ia tidak peduli dan tidak mau tahu apapun lagi.
Dan tentunya, keduanya sama-sama tidak ingin membuka obrolan, hanya saling pandang, tapi memang lebih sering Mayor Teddy yang diam-diam memperhatikan Vanessa. Sedangkan Vanessa? Mungkin bisa dihitung jari.
Setelah beberapa hari pilpres dilaksanakan dan merayakan keunggulan quick count sementara, hari ini Mayor Teddy menemani Bapak ke Kantor Kemhan, menerima berbagai ucapan dari berbagai kepala negara atas kemenangan dan keunggulan sementara Bapak.
Hari ini juga ada kedatangan Duta Besar Tiongkok dan Mayor Teddy tengah sibuk-sibuknya mengurus semua jadwal dan pekerjaan Bapak. Namun, tentu ia tidak lepas tangan dengan keamanan cucu Bapak, termasuk kedua cucu laki-laki Bapak. Setiap hari Mayor Teddy mengecek jadwal keseluruhan cucu Bapak dan Bapak menanyakan kegiatan mereka satu per satu kepada ajudan yang menjaganya.
"Jadwal cucu Bapak hari ini apa aja?" Tanya Mayor Teddy di sela-sela kesibukannya yang bertanya kepada staff dan ajudan yang menjaga mereka di grup ajudan, yang berisi sekitar 20-30 orang.
"Mbak Ati ada kuliah sampai sore, Pak, sekarang saya masih ada di lingkungan Untar."
"Mas Habib lagi ada kegiatan di kantor PLN, Bang, saya hanya bisa memantau dari jauh karena sepertinya sangat sibuk sekali."
"Mas Bintang lagi ikut rapat di kantor DPR, Bang. Ikut menyaksikan Pak Budi menjadi perwakilan Gerindra, seperti pembicaraan Mas Bintang dengan Bapak dua hari yang lalu, sepertinya Mas Bintang pulang sesuai jam kantor."
"Mbak Vanessa?" Tanya Mayor Teddy di grup, walaupun tadinya ia sedikit ragu untuk menanyakan gadis tersebut karena semua staff dan ajudan Bapak tahu hubungan Mayor Teddy dengan Vanessa akhir-akhir ini tidak baik.
"Mbak Vanessa hari ini seharian di kampus, Bang, ngejar tanda tangan dosen pembimbing dan akan daftar sidang."
"Skripsinya udah selesai berarti, ya?" Tanya Mayor Teddy lagi. Dia baru tahu progress skripsi Vanessa yang sudah nyaris di tahap final.
"Sudah, Bang, tadi Mbak Vanessa senang sekali saat skripsinya di ACC. Sepertinya akan pulang malam setelah dapat tanda tangan dosen pembimbing, tadi Mbak Vanessa mengirim pesan kepada saya kalau Mbak Vanessa akan pulang malam karena ngumpul bersama teman-temannya nanti di Kemang."
"Kemang? Ngumpul dimana, Der?" Tanya Mayor Teddy lagi.
"Saya belum tahu, Bang, tapi sepertinya saya tidak bisa menjaga Mbak Vanessa sampai selesai karena Bapak membutuhkan saya nanti malam." Balas Deril dari sebrang sana.
"Yaudah, kamu pastiin Mbak Vanessa jangan menyentuh bar atau club ya, Der, karena setahu saya di Kemang kebanyakan tempatnya seperti itu. Soalnya berbahaya, apalagi di waktu perhitungan Bapak, bisa panjang urusannya. Takut karena hal itu bisa menurunkan elektabilitas Bapak. Kalau Mbak Vanessa tetap rewel dan kemungkinan ngumpul di salah satu tempat itu, biar saya yang susul." Balas Mayor Teddy di dalam grup ajudan itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Fell First and She Never Fell?
Fanfiction"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?" Disclaimer!⚠️ Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar. Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
