Vanessa, Ati, Bintang, dan Habib berdiri berjajar dengan canggung di depan meja kerja Bapak. Suasana di ruangan itu terasa tegang, dan keempat cucu itu hanya bisa saling bertukar pandang dengan sedikit rasa was-was. Mereka tahu bahwa Bapak sedang serius, dan itu membuat mereka merasa semakin kikuk.
Bapak duduk di belakang meja kerjanya, sorot matanya tajam, memperhatikan keempat cucunya yang sedang ia interogasi. Tidak ada satu pun dari mereka yang berani berbicara lebih dulu, takut menambah masalah. Vanessa menggigit bibirnya pelan, sesekali melirik ke arah Bapak, berharap seseorang memecahkan keheningan. Ati berdiri tegak di sebelahnya, wajahnya tampak gelisah, sementara Bintang dan Habib mencoba terlihat tenang meski jelas mereka tidak nyaman.
"Siapa yang mau ngomong duluan?" Tanya Bapak dengan intens.
"Lo deh." Vanessa menyolek Bintang.
Bintang menggeleng. "Dek, lo aja." Dia menyolek Ati.
"Ih, kok gue? Habib aja." Ati juga ikut menolak.
"Gue terus, heran." Habib pasrah.
Di atas meja, Bapak meletakkan kedua tangannya dengan tenang, tapi aura tegasnya tidak bisa disembunyikan. Ia menatap satu per satu cucunya, seolah menunggu penjelasan dari mereka. Namun, keempat cucunya itu hanya bisa berdiri terdiam, saling melempar, tidak tahu harus mulai dari mana atau bagaimana menjelaskan situasi yang mungkin telah membuat Bapak marah.
Ruang kerja yang biasanya tenang kini penuh dengan ketegangan. Jam di dinding berdetak pelan, dan setiap detiknya terasa semakin lambat. Bagi Vanessa dan yang lainnya, berdiri di hadapan Bapak seperti ini sudah hal yang sering mereka alami, dan sekarang, mereka harus menghadapi interogasi yang tak terhindarkan untuk kesekian kalinya.
"Jadi, kemarin kalian kemana saja?" Tanya Bapak kepada keempat cucunya di ruang kerjanya pagi ini. Setelah sahur dan sholat subuh, Bapak meminta Rizky untuk memanggil keempat cucunya.
"Kemarin kemana aja ya kita guys?" Vanessa pura-pura lupa.
"Lo beli baju, Nes. Nggak ingat lo borong banyak di PIM?" Tanya Bintang.
"Oiya ya, hahaha, lupa." Vanessa tertawa canggung.
Bapak hanya menghela napas melihat tingkah keempat cucunya yang sering di luar nalarnya. Mungkin ini bukan sekali dua kalinya keempat cucu Bapak mendapatkan sidak dari Bapak yang disaksikan oleh sekpri maupun ajudannya. Lagi dan lagi Mayor Teddy, Rajif, Agung, Rizky, Nando, Deril, dan Lino tengah melakukan pekerjaan di ruangan kerja Bapak yang sangat luas itu.
"Jawab yang jujur!" suara Bapak sudah sedikit meninggi.
"Kalau memang ke PIM, bawa bukti kamu ngeborong baju kesini Vanessa Jasmine Aurora Djojohadikusumo!" Perintah Bapak mutlak.
"T–api.." Vanessa belum menyelesaikan kata-katanya, namun Habib langsung memotongnya.
"Maafin Habib, Kek. Kita kemarin ke Bandung dan itu Vanessa nggak salah. Emang ajakan aku, Bintang, dan Ati karena mau menghibur Vanessa setelah kejadian itu, Kakek." Habib mengakuinya.
Di ruangan itu, suasana semakin mencekam. Semua ajudan dan sekretaris pribadi Bapak, termasuk Mayor Teddy, berdiri di sekitar ruangan dengan diam, tidak ada yang berani bersuara. Meskipun mereka sudah terbiasa dengan sifat tegas dan disiplin Bapak, situasi ini terasa berbeda. Keempat cucunya, yang kini berdiri di depan meja kerja Bapak, sedang menghadapi interogasi, dan tak satu pun dari para ajudan atau sekpri berani memberikan komentar atau membela mereka.
Mayor Teddy yang biasanya penuh inisiatif, juga memilih diam. Ia tahu ini bukan saat yang tepat untuk ikut campur, terutama setelah dirinya dan para ajudan lainnya juga baru saja dimarahi kemarin. Mereka sendiri sedang dalam posisi kurang menguntungkan, jadi tidak ada yang mau mengambil risiko menambah kemarahan Bapak. Satu kesalahan saja bisa membuat situasi semakin buruk.
KAMU SEDANG MEMBACA
He Fell First and She Never Fell?
Fanfic"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?" Disclaimer!⚠️ Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar. Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
