"Jadi, saya jatuh dan cinta sendirian ya?"
Disclaimer!⚠️
Ini fiksi nggak ada sangkut pautnya dengan dunia nyata, tolong bijak dalam membaca dan berkomentar.
Untuk readers baru, supaya nggak bingung, lebih baik baca dulu "The Qonsequences" baru ceri...
Setelah menempuh beberapa menit, rombongan Bapak tiba di Unhan. Dengan segala sambutan dari rektor, dekan, hingga jajaran lainnya. Mayor Teddy mengawal Bapak hingga duduk di kursi paling depan bersama beberapa pejabat militer dan pejabat Unhan. Walaupun banyak orang yang meneriaki nama Mayor Teddy, memfoto atau memvideokan diam-diam, Mayor Teddy tetap fokus dengan tugasnya. Setelah memastikan Bapak aman, baru lah ia berjalan ke belakang duduk bersama dua cucu Bapak, Rizky, Agung, dan Deril.
Sebenarnya, Vanessa sudah biasa ikut kegiatan Bapak yang seperti ini, ia sudah sering bertemu kenalan Bapak yang dari berpangkat tinggi hingga yang biasa saja, atau pejabat-pejabat lainnya. Tapi kali ini ia sungguh ketakutan, karena tadi Bapak bilang para fans menunggunya.
Bahkan, ketika ia masuk ke aula wisuda itu, semua wisudawan/wisudawati meneriaki namanya, ada beberapa yang minta foto juga dan Mayor Teddy pun membantunya. Laki-laki itu tidak hanya membantu orang yang ingin foto dengan Bapak, tetapi dengan cucunya juga.
"Pak, aku pulang aja, ya?" Vanessa menyolek Mayor Teddy yang duduk tepat di sebelahnya.
"Loh, kenapa? Jangan berubah pikiran, mbak, kita udah disini." Bisik Mayor Teddy.
"Ih aku takut, Pak. Kalau suara aku false, gimana? Kan aku nggak ada persiapan." Rengeknya lagi.
"Tinggal saya bantu ketawain." Mayor Teddy dengan entengnya menjawab seperti itu. Bahkan perkataan Mayor Teddy juga terdengar oleh Rizky, Agung, dan Deril. Mereka juga ikut tertawa.
"Ih, Pak Teddy!" Vanessa mencubit lengan Mayor Teddy dan menahan suara amarahnya. Sedangkan Mayor Teddy berusaha untuk menahan tawanya.
"Santai, mbak, rileks. Kamu nggak disuruh joget kok. Mas Bintang santai aja tuh." Mayor Teddy berusaha menenangkannya.
"Dia kan udah biasa, Pak Ted!" Sahut Vanessa.
"Makanya, untung aja Mas Bintang mau temenin kamu, mbak. Kalau nggak, yang ada kamu makin panik." Ujar Mayor Teddy.
Vanessa mendengus kesal mendengarnya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
"Pakaian aku aneh, nggak? Makeup aku aman, kan?" Vanessa yang sudah kelewat panik itu akan menanyakan apapun ke Mayor Teddy untuk membantunya rileks dan percaya diri. Mayor Teddy langsung memperhatikan Vanessa dengan lekat. Mata elangnya itu tiba-tiba terhipnotis, lagi dan lagi.
"Bagus, mbak, aman dan cantik kok! Pasti pangling fans kamu nanti." Mayor Teddy mengacungkan jempolnya.
"Pak, serius ih." Vanessa masih saja meminta validasi agar ia merasa tenang.
"Udah, diam ya, bocil, kamu dilihatin orang-orang nanti kalau gelisah terus. Sekarang, fokus sama acara di depan. Itu Bapak lagi ngomong." Mayor Teddy berusaha untuk menenangkan Vanessa yang masih bergelagat gelisah.
Akhirnya, Vanessa berusaha menenangkan dirinya walaupun jantungnya masih berdetak tak karuan. Rasanya, ia ingin lari ke kamar mandi karena mulai merasa mules. Ia menggigit bibir bawahnya dan mengopek kulit kukunya karena semakin grogi. Mayor Teddy yang merasa ada yang tidak beres langsung menyarankan sesuatu.